Tax Amnesty yang Rendah, Merupakan Daya Tarik Utama
Minggu, 05 Juni 2016 - 20:51 WIB
Tax Amnesty yang Rendah, Merupakan Daya Tarik Utama
A
A
A
JAKARTA - Pengamat perpajakan dari Universitas Pelita Harapan Roni Bako menilai, uang tebusan rendah itu merupakan daya tarik agar tax amnesty tersebut berjalan dengan baik. Dia mengatakan, semakin murah tarifnya, orang akan semakin tertarik. Untuk itu, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) harus betul-betul mencermati ini.
Dia pun mengumpamakan bahwa tax amnesty ini seperti barang dagangan yang harus bernilai tak terlalu mahal agar 'laku' untuk mereka (wajib pajak) yang akan ikut dalam kebijakan tersebut.
"Semakin tinggi tarif tebusan, mereka enggak akan mau. Kalo diatas 5% tarifnya, tentu mereka tidak akan tertarik. DPR harus mengkaji lagi soal itu. Coba kalau sekarang kita beli baju, pasti maunya harga murah kan," kata Roni kepada Sindonews, Jakarta, Minggu (5/6/2016)
Pemerintah, kata Roni, harus mempertahankan besaran tarif yang saat ini telah masuk draft, tidak bisa jika terlalu tinggi.
"Karena logikanya, lanjut dia jika uang tebusan di atas 5% pemerintah harus menanggung banyak konsekwensi," kata dia.
Beberapa konsekwensi ke depan yang harus ditanggung pemerintah atas besaran tarif tebusan yang tinggi tersebut yakni, target pemasukan dari tax amnesty itu tidak akan tercapai. Kemudian target pajak yang ada dalam APBN tidak akan tercapai juga.
"Ini pasti akan timbul bobot utang baru atau belanja pemerintah dikurangi. Jadi merembetnya ke macam-macam. Apalagi target pajak juga sudah direvisi kan, tapi juga meskipun sudah direvisi itu tidak tercapai terus," tutup dia
Dia pun mengumpamakan bahwa tax amnesty ini seperti barang dagangan yang harus bernilai tak terlalu mahal agar 'laku' untuk mereka (wajib pajak) yang akan ikut dalam kebijakan tersebut.
"Semakin tinggi tarif tebusan, mereka enggak akan mau. Kalo diatas 5% tarifnya, tentu mereka tidak akan tertarik. DPR harus mengkaji lagi soal itu. Coba kalau sekarang kita beli baju, pasti maunya harga murah kan," kata Roni kepada Sindonews, Jakarta, Minggu (5/6/2016)
Pemerintah, kata Roni, harus mempertahankan besaran tarif yang saat ini telah masuk draft, tidak bisa jika terlalu tinggi.
"Karena logikanya, lanjut dia jika uang tebusan di atas 5% pemerintah harus menanggung banyak konsekwensi," kata dia.
Beberapa konsekwensi ke depan yang harus ditanggung pemerintah atas besaran tarif tebusan yang tinggi tersebut yakni, target pemasukan dari tax amnesty itu tidak akan tercapai. Kemudian target pajak yang ada dalam APBN tidak akan tercapai juga.
"Ini pasti akan timbul bobot utang baru atau belanja pemerintah dikurangi. Jadi merembetnya ke macam-macam. Apalagi target pajak juga sudah direvisi kan, tapi juga meskipun sudah direvisi itu tidak tercapai terus," tutup dia
(dol)
Lihat Juga :