alexa snippet

Diminta Pangkas Produksi 5% Jadi Alasan RI Keluar dari OPEC

Diminta Pangkas Produksi 5% Jadi Alasan RI Keluar dari OPEC
Mendag Enggar menerangkan permintaan OPEC kepada Indonesia untuk memotong 5% dari produksi atau sekitar 37 ribu barel per hari akan menjadi persoalan. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menegaskan, pemerintah telah memperhitungkan secara matang sebelum mengambil keputusan untuk membekukan keanggotaan dalam Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (Organization of Petroleum Exporting Countries/OPEC). Menurutnya permintaan OPEC kepada Indonesia untuk memotong 5% dari produksi atau sekitar 37 ribu barel per hari akan menjadi persoalan.

(Baca Juga: Indonesia Bekukan Sementara Keanggotaan di OPEC)

Apalagi menurutnya jumlah produksi minyak Indonesia sejatinya tidak terlalu besar. Seperti diketahui pada Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2017 disepakati produksi minyak di 2017 turun sebesar 5.000 barel dibandingkan 2016.

"Karena jumlah produksi kita juga kecil, kalau disuruh dikurangi lagi (produksi minyaknya) tentu akan jadi persoalan," terang Mendag Enggar di Hotel Borobudur Jakarta, Kamis (1/12/2016).

(Baca Juga: Demi APBN, Jokowi Tak Masalah Indonesia Keluar dari OPEC)

Lebih lanjut dia menerangkan bahwa keputusan yang diambil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan untuk keluar dari OPEC telah melewati pertimbangan matang. Salah satunya karena memperhitungkan kondisi Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) Indonesia yang tidak besar.

Mantan Ketua Umum Realestat Indonesia (REI) ini menyebutkan, pemerintah tidak mungkin membuat keputusan tanpa perhitungan. "Saya percaya keputusan yang diambil Menteri ESDM disana sudah keputusan yang sangat matang. Kita meyakini itu. Karena itu sikap pemerintah dan menteri tidak mungkin ambil keputusan tanpa perhitungan," paparnya.



(akr)
dibaca 7.335x
loading gif
Top