alexa snippet

The Fed dan China Bakal Pengaruhi Ekonomi Indonesia di 2017

The Fed dan China Bakal Pengaruhi Ekonomi Indonesia di 2017
Seminar arah kebijakan Bank Indonesia yang dihadiri ekonom BNI Ryan Kiryanto (batik merah) dan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara (kemeja putih). Foto/SINDOnews/Arief Sinaga
A+ A-
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) memperkirakan, dinamika perekonomian di China dan kebijakan suku bunga The Federal Reserve AS akan mempengaruhi kondisi makroekonomi 2017 di emerging market, termasuk Indonesia.

"Outlook ekonomi Indonesia di 2017 akan tergantung pada dua kondisi global, yakni ekonomi China dan kebijakan suku bunga The Fed," kata Deputi Gubernur Senior BI, mirza Adityaswara pada seminar arah kebijakan Bank Indonesia di Hotel Kempinski Jakarta, Kamis (1/12/2016).

Menurut Mirza, pemerintah China diperkirakan akan menjaga momentum tren perbaikan ekonomi menjelang sidang Partai Komunis China, sehingga diperkirakan pertumbuhan ekonomi China di 2017 bisa berkisar 6,3%-6,7%. "Recovery di China akan berlanjut tetapi tidak kencang. Masih sama seperti di 2016," ucapnya.

Dia mengatakan, pertumbuhan ekonomi China di kisaran 6,3%-6,7% masih akan mampu mendorong berlanjutnya perbaikan harga komoditas global. "Saat ini tren penurunan pertumbuhan ekonomi China tampaknya sudah berhenti. Dahulu disebut-sebut ekonomi China akan turun terus ke bawah 6,3 persen," paparnya.

Mirza  mengungkapkan, perbaikan harga komoditas global yang dipengaruhi recovery di China telah berdampak positif bagi perekonomian di Sumatra dan Kalimantan, meski belum mampu membaik seperti pada kondisi di 2012. "Ekonomi Sumatra mencapai 22 persen dari PDB, sedangkan Kalimantan sebesar 9 persen," ucap Mirza.

Terkait kebijakan Fed funds rate, kata Mirza, kenaikan suku bunga di AS akan mempengaruhi ketersediaan dana di emerging market, termasuk Indonesia. "Sebelumnya disebutkan, kalau Donald Trump menjadi Presiden AS, maka Fed funds rate akan naik pada Desember 2016. Sekarang analisa-analisa seperti itu harus ditinjau kembali," tuturnya.

Dia mengungkapkan, jika Trump mengimplementasikan kebijakan menurunkan pajak dan menaikkan utang pemerintah, maka kondisi tersebut akan mendorong peningkatan yield surat utang AS. "Maka, dua hal yang terjadi itu akan membuat inflasi meningkat lebih cepat dari perkiraan semula," ucapnya.

Dengan demikian, jelas dia, peningkatan yield tersebut akan membuat dolar AS menjadi terus menarik di mata investor. "Sebelum pemilihan Presiden AS, yield surat utang AS 1,7 persen (tenor 10 tahun) dan menjadi 2,3 persen. Peningkatan itu merupakan angka yang besar. Sehingga dolar menguat terhadap seluruh mata uang dunia," tegas Mirza.

Guna mengantisipasi dua fenomena global tersebut, jelas Mirza, BI harus mengendalikan laju inflasi jangan sampai berada di atas 4% secara year-on-year. "Penting bagi BI untuk mengetahui rencana pemerintah, dalam hal ini Kementerian ESDM, terkait rencana pengurangan subsidi listrik di 2017. Itu nanti akan kami hitung potensi inflasi di 2017," katanya.



(ven)
dibaca 7.516x
loading gif
Top