Serba Serbi Bisnis

Beda investor, Beda paradigma investasi

Minggu,  16 September 2012  −  18:00 WIB
Beda investor, Beda paradigma investasi
Ilustrasi

Sindonews.com - Prinsip dasar investasi dalam semua aset, baik riil maupun finansial (saham dan obligasi) adalah sama untuk siapa, kapan, dan di mana saja. Pertama, kita selalu membandingkan antara nilai dan harga atau kita senantiasa berusaha untuk buy low and sell high.Yang dilakukan investor cerdas sesungguhnya juga mencari aset yang nilainya lebih besar daripada harganya.

Nilai adalah worth dan harga adalah cost. Definisi mudahnya, nilai adalah sesuatu yang kita peroleh sedangkan harga adalah sesuatu yang kita bayarkan. Kedua, prinsip buy what you know and know what you buy. Jangan mau membeli sesuatu yang tidak Anda pahami. Ketiga, carilah aset yang turunan pertama dan keduanya positif.

Tidak sulit mencari aset yang memenuhi turunan pertama positif karena aset yang harganya terus naik dari tahun ke tahun termasuk dalam kelompok ini. Aset yang pergerakan harganya Rp100 juta, Rp120 juta, Rp135 juta, Rp145 juta, dan seterusnya (turunan kedua negatif) atau Rp100 juta, Rp120 juta, Rp140 juta, Rp160 juta, dan seterusnya (turunan kedua nol) juga memenuhi syarat perlu di atas.

Yang tidak mudah adalah memburu aset yang harganya bertumbuh Rp100 juta, Rp120 juta, Rp145 juta, Rp175 juta, dan seterusnya. Aset yang terakhir inilah yang mempunyai turunan kedua juga positif (sufficient condition). Aset seperti ini tidak hanya membuat seorang investor menjadi richer tetapi faster richer. Dari artikel-artikel saya terdahulu di kolom ini, Anda kini mestinya dapat membedakan richer dan faster richer.

Selain tiga prinsip dasar di atas, Anda juga perlu memahami tiga paradigma investasi. Paradigma investasi ini akan menentukan alokasi aset yang cocok untuk Anda. Saya akan mulai dari paradigma investasi yang utama yaitu minimisasi risiko atau yang juga sering disebut optimisasi mean-variance.

Minimisasi Risiko

Investor dengan paradigma ini menginginkan return optimal pada tingkat risiko tertentu atau tingkat risiko minimum untuk return tertentu. Caranya adalah dengan diversifikasi yaitu tidak menaruh semua telur yang dimiliki dalam keranjang yang sama. Paradigma ini sangat dianjurkan untuk manajer keuangan yang bertanggung jawab memutarkan kas nganggur perusahaan dan menjadi wajib untuk para manajer investasi reksa dana yang mengelola dana nasabahnya.

Contohnya, seorang manajer investasi reksa dana saham tidak boleh menaruh lebih dari 10 persen dari total dananya dalam sebuah saham, bagaimanapun yakinnya dia akan prospek emiten itu. Tak aneh jika diversifikasi hingga saat ini masih menjadi kaidah terpenting pembentukan portofolio. Investor umumnya percaya dan menerima ajaran ini. Banyak yang lupa atau tidak menyadari diversifikasi berangkat dari paradigma minimisasi risiko dan menjadi tidak tepat jika seorang investor individu menggunakan paradigma lain.

Maksimisasi Return

Paradigma kedua adalah maksimisasi return. Strategi investasi yang tepat untuk paradigma ini adalah fokus atau konsentrasi hanya dalam beberapa saham yang diyakini mempunyai potensi return tinggi. Alternatif ini dianjurkan untuk investor individu dan tidak banyak dibahas dalam buku-buku teks.

Padahal banyak investor canggih seperti Robert Kiyosaki dan William J Oneil mengaku telah menerapkan strategi ini. Diversifikasi dalam pandangan kelompok ini mempunyai beberapa kelemahan. Dengan diversifikasi, return investor yang lihai tidak akan banyak berbeda dari investor yang berkemampuan di bawah rata-rata. Hasil terbaik biasanya dicapai investor yang cerdas melalui konsentrasi yaitu dengan menaruh telur Anda hanya dalam beberapa keranjang yang Anda benar-benar pahami dan awasi dengan hati-hati.

”Bersediakah Anda pergi ke dokter gigi yang juga suka pekerjaan teknik atau pertukangan dan menulis musik serta merangkap tukang pipa dan perencana keuangan pada akhir pekan? The more you diversify, the less you know about any one area,” tulis Oneil dalam bukunya, How to Make Money in Stocks: a Winning System in Good or Bad Times (2002).

Minimisasi Future Regret

Terakhir, dengan berkembangnya behavioural finance, kita mengenal paradigma minimisasi future regret atau penyesalan di masa depan. Paradigma ini mirip dengan rekomendasi alokasi aset berdasarkan expected utility dari pemenang nobel ekonomi William Sharpe dalam salah satu artikelnya. Inilah paradigma investasi yang diterapkan Harry Markowitz, penemu teori portofolio yang juga seorang pemenang nobel ekonomi.

Banyak orang menduga Markowitz dengan segala kehebatannya akan berusaha untuk memanfaatkan tingginya return saham dengan menaruh seluruh dananya dalam ekuitas. Kenyataannya, walaupun dia mengakui daya tarik return saham dibandingkan aset lainnya dalam jangka panjang, dia hanya bersedia menempatkan separuh uangnya dalam aset berisiko ini.

Separuhnya lagi dialokasikan dalam aset yang tidak atau kurang berisiko seperti obligasi pemerintah dan obligasi korporasi be-rating AAA. Ketika ditanyakan alasannya, Markowitz hanya menjawab singkat bahwa paradigma investasinya adalah minimisasi penyesalan dan bukan maksimisasi return atau minimisasi risiko. Dengan strategi berimbang ini, Markowitz memastikan tidak akan mengalami penyesalan besar soal keputusan investasinya.

Contoh lain tingkah laku dengan paradigma investasi ini adalah investor yang tidak bersedia menjual sebagian sahamnya untuk konsumsi, tetapi hanya bersedia membelanjakan dividen yang diterimanya. Inilah paradigma dan strategi investasi yang juga saya rekomendasikan untuk Anda. Untuk bijak sebagai investor, jangan pernah tempatkan seluruh dana Anda dalam saham.

Sisihkan 30-50 persen untuk ditaruh dalam ORI atau reksa dana pendapatan tetap atau aset riil lain. Dalam kasus saya, dalam dua tahun terakhir saya menaruh sekitar 60 persen portofolio saya dalam properti dan sisanya dalam sedikit saham sekitar empat hingga enam saham.

Dengan sepertiga hingga separuh portofolio Anda dalam aset selain saham,Anda memastikan untuk tidak jatuh miskin atau turun kelas ke kelompok miskin atau menengah bawah. Selamat menjalankan panduan investasi Markowitz dan Sharpe.
Budi Frensidy (Penasihat Investasi dan Penulis Buku Matematika Keuangan)
(mai)

 

(gpr)

shadow