Ekonomi Dunia

Harga minyak dunia menguat

Kamis,  22 Agustus 2013  −  20:06 WIB
Harga minyak dunia menguat
Ilustrasi/Foto: Istimewa

Sindonews.com - Harga minyak di perdagangan dunia hari ini berbalik lebih tinggi, karena berkurangnya kekhawatiran pasokan di Timur Tengah dan respon terhadap rilis pertemuan Federal Reserve AS (Fed).

Minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Oktober naik 13 sen menjadi USD109,94 per barel dalam transaksi sore di London. Sementara kontrak utama New York, West Texas Intermediate (WTI) untuk September menambah 35 sen menjadi USD104,20 per barel.

Minyak mentah berjangka telah mundur dalam tiga hari berturut-turut hingga Rabu, karena pasar terpaku pada rilis Fed yang akan memberikan sinyal mengenai skala program stimulus. Namun, bank sentral AS tidak memberikan petunjuk pada prospek peruncingan stimulus.

Menit pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) bank sentral dalam rencana 30-31 Juli, disebutkan akan kembali ke skala program, jika pemulihan ekonomi AS meyakinkan.

"Harga WTI melemah lebih lanjut selama sesi kemarin dalam menit pertemuan Federal Reserve, yang gagal menenangkan pasar," kata analis Sucden, Kash Kamal, seperti dilansir dari AFP, Kamis (22/8/2013).

"Risalah rapat sedikit meredam kekhawatiran investor atas dimulainya pengetatan kebijakan moneter, yang menunjukkan bahwa sebagian besar anggota sepakat untuk menurunkan pembelian aset tahun ini," tambahnya.

Analis melihat, laporan mingguan persediaan minyak AS tidak secara signifikan mempengaruhi pasar. Dalam laporan yang dipublikasikan Rabu, persediaan minyak AS turun 1,4 juta barel. Lebih besar dari perkiraan Dow Jones Newswires sebanyak 1,3 juta barel.

Harga minyak mentah juga dapat dikaitkan dengan sinyal dimulainya kembali ekspor Libya. Terminal minyak utama Libya telah terkena serangan sejak akhir Juli, yang menyebabkan produksi turun menjadi kurang dari 330.000 barel per hari sebelum naik kembali ke 670.000 barel.

Penurunan harga pada Rabu terjadi meskipun beberapa tanda-tanda baru pemadaman pasokan datang. National Oil Company (NOC) Libya menyatakan force majeure terjadi di terminal ekspor utama menyusul perselisihan perburuhan. Sementara pipa minyak di Irak rusak akibat serangan terkoordinasi di tengah konflik sektarian.


 

(dmd)

shadow