Makro

Rudi Rubiandini bicara nuklir sebagai solusi

Sabtu,  8 September 2012  −  14:00 WIB
Rudi Rubiandini bicara nuklir sebagai solusi

Sindonews.com - Ancaman krisis energi dunia memang membuat banyak negara-negara menggigil ketakutan. Tidak hanya negara miskin atau pun menengah, negara-negara maju mulai memutar otak untuk memastikan energi yang siap dipakai untuk ratusan tahun kedepan.

Lepas dari minyak yang mulai menipis, kemudian batubara yang terkendala dengan persoalan emisi. Bahkan gas yang dikira dapat menyelesaikan persoalan mulai ditemukan titik kelemahannya.

Di hadapan 1.500 orang di Norwegia, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rudi Rubiandini menjelaskan hal tersebut.

Setelah gas, banyak bermunculan renewable energy yang mungkin dirasa cukup dapat membantu keterkurangan. Rudi bahkan kembali membantah, kalau itu juga belum cukup. Sebut saja seperti air yang terbatas karena jumlah sungai, lalu matahari yang harus membutuhkan lahan yang luas di setiap lokasinya, dan  biofuel akan dipertandingkan dengan food security.

"Kita in the wrong way (di jalan yang salah) kalau gunakan gas, bahkan dengan cerita yang disebutkan sebelumnya," kata Rudi saat berdiskusi dengan Ikatan Wartawan Energi dan Mineral (IWEM) setelah pulang dari Norwegia.

Tidak sekedar bantahan, Rudi juga kemukakan solusinya. Pada agenda yang dinamakan International Oil & Gas Business Day, dia mengemukakan solusi nuklir. Bukan persoalan gampang, apalagi saat negara sekelas Jerman ataupun Prancis yang tengah bersedia menurunkan energi itu demi gas.

"Nuklir, tapi nuklir yang lebih kecil, small scale nuklir," jawabnya saat para audience mulai gemuruh dengan pernyataannya. Itu juga sekaligus menjawab terkait tragedi Jepang. Dimana sebenarnya menurut Rudi setahun setelah kejadian, nuklir pun kembali diaktifkan.

Namun tetap saja, dia mengakui penggunaan nuklir tidak bisa oleh semua negara. Terlebih di luar negara maju, seperti kasus yang terjadi dengan Korea Utara dan Iran.

Bagaimana Nuklir di Indonesia

Rudi menyatakan, Sumber Daya Manusia (SDM) masyarakat Indonesia di bidang teknologi nuklir sangat mumpuni. Bahkan menurutnya sudah lebih dari kata siap. Lihat saja, dua reaktor nuklir yang sudah berkembang di Bandung dan Serpong. Selain itu juga, adalah banyaknya daftar lulusan di bidang terkait nuklir di Indonesia.

"Tapi penolakan dari warga Indonesia yang belum siap terima energi baru seperti nuklir walaupun itu tidak ada risikonya, kita saat ini masih bisa selama ada minyak dan batu bara. Untuk itu belum ada rencana masuk ke nuklir," ucap Rudi.

Prediksinya, di tahun 2050 dampak krisis energi akan mulai terlihat. Mau tidak mau, minimal di tahun 2035 langkah untuk memulai pembangunan nuklir harus dimulai. Sebab, untuk pembangunannya dibutuhkan waktu sekitar 15 tahun.

"Tapi kalau yes today, 2025 baru ada. Atau tidak di 2050 suka tidak suka pasti harus ada. Kita 2030 atau 2035 bisa dimulai. Itupun adalah urusan anak ataupun cucu kita nantinya," tutupnya.


(gpr)

views: 1.046x
shadow