Serba Serbi Bisnis

Diversifikasi untuk meminimumkan risiko

Minggu,  14 Oktober 2012  −  17:59 WIB
Diversifikasi untuk meminimumkan risiko
Ilustrasi

Sebagai kas surplus atau individu dengan penghasilan lebih besar dari pada pengeluaran rutin, anda tentunya berkepentingan dengan penempatan dan pertumbuhan dana Anda.

Untuk itu, Anda rajin membaca dan mencari informasi yang berhubungan dengan alternatif investasi yang layak dipertimbangkan.Sebagian besar ajaran investasi itu dapat dipastikan menasihatkan Anda untuk melakukan diversifikasi, untuk tidak menaruh semua telur yang Anda miliki di keranjang yang sama.

Semua buku teks wajib investasi dan pasar modal juga merekomendasikan hal yang sama. Pengamat pasar keuangan dan penasihat investasi pun mengatakan yang sama. Tak dapat dibantah lagi, diversifikasi adalah kaidah terpenting dalam investasi, sekaligus pilar utama dalam pembentukan portofolio. Investor umumnya percaya dan menerima adagium ini bahwa diversifikasi itu hukumnya wajib.

Sejak 1952


Konsep diversifikasi berawal dari disertasi Harry Markowitz pada 1952. Dengan begitu indah dan gamblangnya, Markowitz menurunkan manfaat utama diversifikasi secara kuantitatif dengan menggunakan portofolio yang terdiri atas dua aset berisiko. Untuk itu, pemenang Nobel Ekonomi 1990 ini hanya memerlukan tiga variabel, yaitu return dan risiko dari masingmasing aset serta koefisien korelasi antara kedua aset itu.

Dengan matematika sederhana, Markowitz berhasil membuktikan bahwa risiko portofolio dapat menjadi minimum, jika kedua aset itu mempunyai koefisien korelasi negatif sempurna, yaitu negatif 1. Contoh dua sekuritas seperti itu adalah dua saham yang harganya selalu bergerak secara berlawanan. Jika yang satu naik, yang lainnya turun dengan derajat yang sama,dan sebaliknya. Contoh konkretnya mungkin adalah dua saham perusahaan yang produknya ramai di musim hujan, seperti jaket, jas hujan, dan payung; sedangkan yang satunya lagi justru laku pada musim panas,seperti eskrim dan pakaian/perlengkapan ke pantai.

Markowitz juga menemukan diversifikasi selalu dapat menurunkan risiko portofolio, sepanjang koefisien korelasi tidak positif sempurna atau lebih kecil dari satu. Dengan return yang sama, portofolio dengan risiko yang lebih rendah sudah tentu lebih disukai. Untuk ilustrasi, misalkan kita mempunyai dua aset berisiko yaitu A dan B. Misalkan expected returnatau E (r) dan risiko aset A adalah 10 persen dan 7 persen, sementara aset B yang lebih berisiko mempunyai E (r) dan risiko sebesar 20 persen dan 10 persen.

Portofolio yang terdiri atas dua aset itu akan mempunyai E (r) antara 10 persen hingga 20 persen, bergantung persentase investasi dalam aset A dan B.Jika seluruh dana ditanamkan dalam A, E (r) adalah 10 persen; sedangkan jika dana sepenuhnya ditaruh dalam B, E (r) menjadi 20 persen. Jika bobot investasi dibagi merata menjadi 50 persen masing-masingnya, E (r) menjadi 15 persen. Untuk menghitung E (r) portofolio, kita dapat melakukannya dengan mudah karena hanya mengalikan bobot dengan expected return dan kemudian menjumlahkannya.

Aturan yang sama seperti di atas masih dapat diterapkan untuk menghitung risiko portofolio jika dan hanya jika koefisien korelasi adalah 1. Untuk kasus koefisien korelasi adalah positif sempurna, risiko portofolio dapat dipastikan akan berada pada kisaran 7 persen hingga 10 persen, bergantung bobot investasi dalam aset A dan B. Jika bobot masing-masing 50 persen,risiko portofolio akan berada tepat di tengah-tengahnya juga yaitu 8,5 persen. Risiko portofolio tidak mungkin lebih kecil dari 7 persen. Diversifikasi terbukti tidak memberikan manfaat apa pun.

Menurunkan Risiko


Namun jika koefisien korelasi lebih kecil dari 1, diversifikasi akan bermanfaat, tetapi kita tidak dapat langsung mengalikan dan menjumlahkan seperti di atas untuk menghitung risiko portofolio. Semakin rendah koefisien korelasi akan semakin besar manfaat diversifikasi dan diversifikasi optimal akan tercapai saat koefisien korelasi adalah negatif 1.

Dalam contoh di atas,risiko portofolio akan dapat turun menjadi jauh di bawah 7 persen yaitu hanya 1,5 persen jika koefisien korelasi aset A dan B negatif 1 dan bobot masing-masing 50 persen, sementara E (r) akan tetap sebesar 15 persen. Itulah sebabnya, diversifikasi yang dianjurkan adalah yang memperhitungkan koefisien korelasi dan bukan yang acak (random). Walaupun demikian, diversifikasi yang sering dilakukan investor adalah diversifikasi naif atau polos yaitu yang membagi dana ke dalam n alternatif investasi sebesar masing-masing 1/n.

Pertanyaannya adalah,apakah diversifikasi sedemikian saktinya sehingga sebagian besar investor menerapkannya. Faktanya, lain teori,lainpraktik. Blume, Crockett, dan Friend (1974) menemukan 34,1 persen investor Amerika dari sampel 17.056 investor hanya memegang satu saham pembayar dividen, 50 persen mempunyai dua saham, dan hanya 10,7 persen yang mengoleksi lebih dari 10 saham.Survei Reserve Board (1975) juga memberikan hasil yang sama bahwa rata-rata jumlah saham dalam portofolio investor individu adalah 3,41.

Lease,Lewellen, dan Schlarbaum (1976),King dan Leape (1984),dan terakhir Starr-McCluer (1994), juga mendapatkan hasil yang sama bahwa sebagian besar investor individu (70 persen) tidak melakukan diversifikasi, bahkan ketika aset selain saham diperhitungkan. Ketika ditanyakan alasan tidak melakukan diversifikasi, salah seorang investor yang memegang satu saham dalam portofolionya ada yang menjawab,”I let Bill Gates manage my portfolio.”Pengamatan saya terhadap portofolio investor saham individu di BEI yang jumlahnya sekitar 200.000 juga tidak jauh berbeda.

Dalam berinvestasi saham, lebih banyak yang tidak melakukan diversifikasi dengan rata-rata (mean) jumlah saham dalam portofolio hanya 4,4 saham dan median 2 saham.Pasti ada alasan kuat investor saham meninggalkan strategi diversifikasi. Saya akan menceritakan alasan-alasan mereka, sekaligus kelemahan diversifikasi pada kesempatan lain.
Budi Frensidy - Penasihat Investasi dan Penulis Buku Matematika Keuangan (mai)


(gpr)

views: 7.446x
shadow