Sektor Riil

Produk batik di Yogyakarta masih berprospek cerah

Senin,  7 Januari 2013  −  15:41 WIB
Produk batik di Yogyakarta masih berprospek cerah
Ilustrasi/Ist

Sindonews.com - Keberadaan industri tekstil, khususnya produk batik di Yogyakarta masih memiliki prospek yang menjanjikan. Produk tekstil yang beredar di pasaran banyak ditopang dari luar daerah tersebut, justru merupakan produk impor asal China.

Kabid Perdagangan Dalam Negeri Disperindagkop dan UMKM, Eko Witoyo mengatakan, Yogyakarta menjadi pasar potensial bagi industri tekstil, khususnya produk batik. Banyak kain yang dijual berasal dari Pekalongan ataupun Solo. Sebagian lainnya merupakan produk lokal.

Beberapa kain batik khususnya jenis printing mayoritas didatangkan dari luar daerah. Tidak sedikit batik ini berasal dari China dan mampu merebut pasar batik printing. Batik asal luar negeri ini, harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan batik lokal.

“Batik impor ini harganya lebih murah, tetapi tidak semua jenis ada,” jelasnya di Yogyakarta, Senin (7/1/2013).

Meskipun dibanjiri produk asing, namun batik asal DIY juga mampu menembus pasar mancanegara. Selama ini kain batik tulis, banyak diminati pasar Eropa dan Amerika.

Sayang, krisis di kedua benua ini membuat permintaan akan batik mengalami penurunan. Para perajin sendiri mulai mengincar pasar potensial di Asia, seperti India.

“Dampak krisis di Amerika dan Eropa cukup terasa, perajin harus mencari pasar lain,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIY, Wien Kusdiatmono mengatakan, nilai impor yang ada di DIY, pada bulan November lalu mengalami penurunan dibanding bulan Oktober. Pada periode November hanya USD209.842 atau turun 11,29 persen dibandingkan Oktober USD236.541. Secara kumulatif selama 2012 hingga November sebanyak USD1.195.447.

“Impor yang masuk hanya yang lewat bandara Adisutjipto, sedangkan lewat pelabuhan sulit terdeteksi,” jelasnya.

Mayoritas produk impor ini berasal dari Jepang sekitar USD148.653 atau sebesar 70,84 persen. Sisanya dari Korea Selatan, China, Thailand, dan negara lainnya.

Produk impor ini banyak didominasi jenis kain tenun berlapis mencapai nilai USD96.222 atau 45,85 persen dari seluruh total nilai impor. “Tertinggi adalah impor dari komoditas tekstil,” jelasnya.


(gpr)

views: 1.034x
shadow