Makro

BI optimis inflasi turun September

Senin,  12 Agustus 2013  −  09:41 WIB
BI optimis inflasi turun September
Ilustrasi/Foto: Istimewa

Sindonews.com-Bank Indonesia (BI) meyakini inflasi akan turun pada September 2013. Bahkan, mereka melihat inflasi pada Agustus akan lebih baik daripada Juli yang mencapai 3,29 persen.

Gubernur BI, Agus Martowardojo mengemukakan, nilai inflasi secara umum masih dapat terkendali. Khususnya dengan melihat pemerintah pusat dan daerah yang juga ikut berperan mengembalikan stabilitas pangan pasca-Hari Raya Lebaran.

Pihaknya juga masih terus mencermati kondisi global, khususnya kebijakan stimulus moneter Amerika Serikat (AS). Hal ini karena dapat mempengaruhi perekonomian Indonesia dan negara lain. Sebab itu, Indonesia perlu mempersiapkan diri menghadapi kondisi yang kurang baik.

"Inflasi ini dalam banyak hal karena ada volatile food yang tidak terjaga. Selain itu, ada biaya pendidikan pada tahun ajaran baru yang menjadi komponen penekan inflasi. Tapi, secara umum kita yakin Agustus akan terkendali, sehingga September sudah akan stabil atau normal kembali," ujar Agus saat open house di rumah dinasnya di Jakarta.

Dia menyebutkan, saat ini pihaknya terus memantau dan mengikuti dampak dari komentar Federal Reserve (Fed). Hal ini seiring wacana Fed mengurangi program stimulus (USD85 miliar per bulan).

Menurut Agus, persiapan pertama yang harus dilakukan untuk menghadapi terjadinya capital outflow, penarikan keluar dana asing besar-besaran yang masuk ke dalam negeri sejak 2009 hingga kuartal pertama tahun ini.

"Memang terjadi capital inflow hingga kuartal pertama 2013, tapi kalau Amerika mengurangi stimulus moneter dan sebelumnya juga terdapat kontraksi fiskal, maka itu akan berdampak ke Indonesia. Maka kita harus siap untuk menghadapi itu," katanya.

Selain itu, BI juga akan memperhatikan neraca perdagangan akibat ekspor yang tidak terlalu menggembirakan. Kondisi perdagangan akan terkena dampak dari dua sisi baik secara ekspor ataupun impor. "Secara ekspor, kita sedang lemah karena nilai komoditas yang menjadi andalan kita sedang mengalami penurunan secara global. Hal ini juga ditambah dengan masih lesunya perekonomian di India dan China yang menyebabkan turunnya volume ekspor kita," jelas Agus.

"Sebelumnya kita mengharapkan kedua negara ini akan menjadi tujuan ekspor utama. Selain itu, impor juga masih cukup tinggi dari kebutuhan BBM dan ditambah dengan kebutuhan impor untuk stabilisasi pangan dalam negeri," tambahnya.

Defisit perdagangan ini, lanjut Agus, akan menekan perekonomian domestik, khususnya akun berjalan. Apabila kondisi ini tidak didukung transaksi modal, maka akan menekan neraca pembayaran dan merembet pada tertekannya nilai tukar rupiah.

"Kalau tidak didukung dengan berbagai bauran kebijakan akan menekan neraca pembayaran Indonesia. Kita harus mewaspadai defisit perdagangan yang berlansung delapan kuartal berturut turut ini. BI akan selalu menjaga agar nilai tukar dalam area yang volatilitasnya tidak terlalu lebar dan bergejolak. BI akan terus mendukung upaya stabilitas nilai rupiah," tandasnya.


(dmd)

views: 2.682x
Bagikan artikel ini :
shadow