Menkeu Beberkan Strategi Perbaiki Ekonomi

Selasa, 26 Mei 2015 - 12:43 WIB
Menkeu Beberkan Strategi...
Menkeu Beberkan Strategi Perbaiki Ekonomi
A A A
JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Bambang Brodjonegoro membeberkan strategi pemerintah untuk memperbaiki pertumbuhan ekonomi Indonesia, yang sempat melempem pada kuartal I/2015 atau tumbuh 4,7%.

Dia mengatakan, pemerintah akan lebih fokus pada stabilitas makroekonomi, memperkuat struktur budget di sektor diil dan investasi untuk memperbaiki posisi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Selain itu, pemerintah juga menjaga defisit current account meskipun pada saat yang sama pemerintah menghadapi penurunan harga komoditas dan minyak dunia.

"‎Kita juga mengupayakan pengurangan defisit neraca jasa dan pendapatan, misalnya dengan mengeluarkan insentif fiskal untuk industri yang memproduksi barang intermediate, perusahaan yang mereinvestasi dividennya ke dalam negeri dan memperkuat industri reasuransi dan perkapalan," ucapnya dalam acara Indonesia Economic Outlook 2015 di Hotel Mulia, Jakarta, Selasa (26/5/2015).

Menurutnya, pemerintah juga akan memperbaiki struktur belanja APBN dengan mengarahkannya ke sektor yang lebih produktif. Namun hal tersebut dengan catatan, tetap menjaga defisit fiskal ‎di level yang tertata (manageable).

"‎Pemotongan subsidi telah direalokasikan untuk belanja modal dan program kesejahteraan sosial," imbuh dia.

Selain itu, pemerintah juga meningkatkan kepatuhan pajak dan memperluas basis pajak. Baru-baru ini, pemerintah memperkenalkan kebijakan reinventing yang mirip dengan kebijakan sunset policy yang pernah diberlakukan pada 2008-2009, yang kerap disebut sunset policy jilid II.

"‎Wajib pajak diberikan kesempatan untuk memperbaiki datanya selama lima tahun ke belakang tanpa dikenai denda (bunga). Bedanya dengan sunset policy, reinventing, sekarang petugas dirjen pajak punya data verifikasi yang lebih ekstensif," jelas Bambang.

Mantan Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) ini mengungkapkan, defisit fiskal juga ditetapkan pada level 1,9% dari PDB yang dibiayai dari penerbitan obligasi negara, serta pinjaman bilateral dan multilateral.

"Pemerintah juga telah menerbitkan obligasi berdenominasi dolar AS, global sukuk, obligasi Euro dan samurai (yen). Penjualan sukuk global baru-baru ini mencapai USD2 miliar dengan yield terendah 4,35% bertenor 3 tahun. Ini mengalami oversubscribe sebanyak 3,4 kali dari booking USD6,8 miliar oleh 204 investor," tutur dia.

Strategi lainnya, sambung Menkeu, dengan mempercepat pembangunan dan mengoptimalkan peran BUMN sebagai agen perubahan. "‎Sekitar Rp67 triliun tahun ini dialokasikan untuk PMN mayoritas untuk sektor infrastruktur," tandasnya.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Membaca Ketahanan Ekonomi...
Membaca Ketahanan Ekonomi RI dalam Dinamika Global Kuartal III 2025
Indonesia Butuh Rp47.587,3...
Indonesia Butuh Rp47.587,3 Triliun untuk Pertumbuhan Ekonomi 8%
Bahaya! Deflasi Hantam...
Bahaya! Deflasi Hantam Ekonomi RI 5 Bulan Beruntun
Prabowo Sering Diejek...
Prabowo Sering Diejek karena Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 8%
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Selatan Kuartal I Tahun 2024
Dorong Industri Event...
Dorong Industri Event untuk Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Berita Terkini
Menkeu Purbaya Tegaskan...
Menkeu Purbaya Tegaskan Fiskal Bukan Tumbal Agar Ekonomi RI Tumbuh Cepat
16 menit yang lalu
Bunga Mulai 1,75%! BRI...
Bunga Mulai 1,75%! BRI KPR Hadirkan Solusi Paling Ringan untuk Miliki Rumah Impian
40 menit yang lalu
Danantara Bantah Isu...
Danantara Bantah Isu Pemilik Tabungan Rp3 Miliar Wajib Beli Patriot Bond
46 menit yang lalu
Pertamina Akselerasi...
Pertamina Akselerasi Transisi Energi Melalui Program Dekarbonisasi dan Bisnis Rendah Karbon
1 jam yang lalu
IFG Life Beri Proteksi...
IFG Life Beri Proteksi 10 Ribu Pelari di Ajang Yellow Run 2026
1 jam yang lalu
Klarifikasi Purbaya...
Klarifikasi Purbaya soal Isu Mundur: Sebagian Informasinya Betul, Sebagian Salah
1 jam yang lalu
Infografis
Bakar Uang Demi Perang:...
Bakar Uang Demi Perang: Jejak Kelam Ekonomi Militer AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved