Perkuat Brand Tenun Khas Lombok Melalui Pewarna Alami

Minggu, 07 Juni 2015 - 10:26 WIB
Perkuat Brand Tenun...
Perkuat Brand Tenun Khas Lombok Melalui Pewarna Alami
A A A
JAKARTA - Kain tenun khas Lombok, Indonesia, dapat diunggulkan dengan memperkuat brand melalui proses produksi menggunakan pewarna alami. Hal ini sesuai tren peduli lingkungan yang sedang menguat.

Menteri Perindustrian Saleh Husin mengatakan, penggunaan pewarna alami yang ramah lingkungan menjadi penguat brand kaintradisionalLombokdi pasar global. ”Kalau kita belajar dari merek-merek global yang telah sukses dipasarkan, salah satu strategi pemasarannya ialah mengedepankan nilai atau value, jadi tidak sekadar material produk tersebut,” katanya dalam keterangan tertulis saat mengunjungi sentra tenun Lombok di Sukarara, Jonggat, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, lusa kemarin.

Menurutnya, kompetisi produk tradisional Indonesia memasuki pasar internasional diakui memang tidak mudah. Meski begitu, bukan berarti tidak mungkin karena produk nasional memiliki keunggulan. ”Unsur eksklusivitas juga didapatkan. Apalagi tenun ikat dan songket Lombok diproduksi minim sentuhan mesin bahkan manual. Artinya, ada unsur craftsmanship ,” ungkapnya.

Saleh melanjutkan, keunggulan tersebut harus terus dipromosikan secara luas. ”Selain mengikuti pameran di level nasional dan internasional, perajin dapat menggunakan laman atau website untuk menjangkau dan berinteraksi langsung dengan peminat kain tenun Lombok di seluruh dunia,” katanya.

Direktur Industri Kecil dan Menengah Wilayah III Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Endang Suwartini mengatakan, kepada para perajin ketak, Kemenperin telah menyalurkan bantuan berupa peralatan dan pendampingan desain. ”Kami lakukan bertahap untuk peralatan seperti mesin, oven, hingga pisau produksi,” katanya.

Pemilik Mawar Artshop, Suhartono, mengatakan bahwa pernak-pernik dari anyaman ketak juga mengisi interior lobi dan kamar hotel di Bali dan Jakarta. ”Produk kami sudah diekspor ke Jepang, Korsel, AS, Italia dan Belanda. Selain ke pembeli dari domestik,” ujarnya.

Salah satu pelaku tenun Sukarara, Amin, menuturkan bahwa jumlah para penenun tenun ikat dan songket di Sukarara mencapai 2.516 orang. Para penenun menggunakan bahan pewarna alami antara lain dari akar bakau, daun jati, dan tanaman hutan.

Oktiani endarwati
(bbg)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
Binus School dan Damai...
Binus School dan Damai Indah Golf Sinergi Perkuat Pengembangan Soft Skill Siswa
56 menit yang lalu
Permintaan Minyak Dunia...
Permintaan Minyak Dunia Diramal Turun 1,1 Juta Barel per Hari di 2026
1 jam yang lalu
Centrepark Perkuat Penerapan...
Centrepark Perkuat Penerapan Parkir Cashless di Properti Komersial Indonesia
1 jam yang lalu
Industri Aset Digital...
Industri Aset Digital Dorong Penguatan Ekosistem Hospitality Bandara
1 jam yang lalu
Solusi Atasi Sampah...
Solusi Atasi Sampah Laut, Komut Pertamina Mochamad Iriawan Hadirkan Kapal Pintar ke Pesisir Bali
1 jam yang lalu
Antam Tebar Dividen...
Antam Tebar Dividen Jumbo Rp5,04 Triliun, 70% dari Laba Bersih di 2025
1 jam yang lalu
Infografis
Inggris: Rusia Alami...
Inggris: Rusia Alami Kekalahan Terburuk Beberapa Bulan Terakhir
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved