Pertumbuhan Utang Luar Negeri Relatif Stabil

Kamis, 18 Juni 2015 - 10:11 WIB
Pertumbuhan Utang Luar...
Pertumbuhan Utang Luar Negeri Relatif Stabil
A A A
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mencatat, utang luar negeri pada April 2015 tumbuh 7,8% (year on year /yoy), relatif stabil dibandingkan dengan pertumbuhan pada Maret 2015 sebesar 7,6% (yoy).

Dengan pertumbuhan tersebut, posisi utang luar negeri Indonesia pada akhir April 2015 tercatat sebesar USD299,8 miliar, terdiri atas utang luar negeri sektor publik USD132,9 miliar (44,3% dari total utang luar negeri) dan utang luar negeri sektor swasta USD167,0 miliar (55,7% dari total utang luar negeri).

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara mengatakan, perkembangan utang luar negeri pada April 2015 dipengaruhi oleh pertumbuhan utang luar negeri sektor swasta yang meningkat saat pertumbuhan utang luar negeri sektor publik melambat.

”Utang luar negeri sektor swasta tumbuh 13,4% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 12,7% (yoy),” kata Tirta di Jakarta kemarin. Menurutnya, haliniterutama didorong oleh peningkatan pinjaman (loan agreement) dan surat utang (debt securities).

Di sisi lain, utang luar negeri sektor publik tumbuh 1,5% (yoy), lebih lambat dibandingkan dengan pertumbuhanbulansebelumnya sebesar 1,7% (yoy). Berdasarkan jangka waktu asal, posisi utang luar negeri Indonesia didominasi oleh ULN jangka panjang (85,2% dari total utang luar negeri). Dia mengungkapkan, utang luar negeri jangka panjang pada April 2015 tumbuh 8,6% (yoy), lebih lambat dari pertumbuhan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 8,9% (yoy).

Sedangkan utang luar negeri jangka pendek tumbuh 3,3% (yoy), meningkat dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0,3% (yoy). ”Bank Indonesia memandang perkembangan utang luar negeri pada April 2015 masih cukup sehat, namun perlu terus diwaspadai risikonya terhadap perekonomian,” sebut Tirta.

Ekonom BNI Ryan Kiryanto menilai, stabilnya pertumbuhan utang luar negeri pada April karena kebutuhan dolar AS sudah semakin stabil. Sebagian pengusaha menunda ekspansi usahanya mengingat iklim ekonomi yang tidak bersahabat. Selain itu juga ada regulasi dari BI, Kementrian BUMN, dan Kementerian Keuangan yang mewajibkan pengusaha yang punya utang luar negeri untuk melakukan lindung nilai.

”Ini mengurangi minat cari utang luar negeri. Tapi, secara umum ini kondisi yang baik karena setidaknya bisa bantu menjaga rupiah agar tidak makin terjerembab,” pungkasnya.

Kunthi fahmar sandy
(bbg)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
Barat Remehkan Blokade...
Barat Remehkan Blokade Selat Hormuz, Pasokan Minyak Dunia di Titik Kritis
21 menit yang lalu
MDLA Luncurkan Armada...
MDLA Luncurkan Armada Mobil Listrik, Dorong Transformasi Distribusi Rendah Emisi
3 jam yang lalu
Tren Mobilitas Ramah...
Tren Mobilitas Ramah Lingkungan Meningkat, Pembiayaan Kendaraan Listrik MUF Melesat
9 jam yang lalu
Rupiah Amburadul Rp18...
Rupiah Amburadul Rp18 Ribu, Produk Rumah Tangga Unilever Bakal Naik Harga di Kuartal II 2026
9 jam yang lalu
Rupiah Terkapar, Dampaknya...
Rupiah Terkapar, Dampaknya Mulai Terasa ke Sektor Industri Nasional
10 jam yang lalu
PLN EPI, PLN Puslitbang...
PLN EPI, PLN Puslitbang dan ITERA Kolaborasi Kembangkan Tanaman Energi
11 jam yang lalu
Infografis
Zikir Singkat Pagi dan...
Zikir Singkat Pagi dan Sore Hari, Memiliki Keutamaan Luar Biasa
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved