Pertumbuhan Ekonomi Inggris Direvisi Menguat

Rabu, 01 Juli 2015 - 11:24 WIB
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Inggris Direvisi Menguat
A A A
LONDON - Ekonomi Inggris tumbuh lebih cepat dibandingkan proyeksi sebelumnya pada kuartal I/2015.

Kantor Statistik Nasional (ONS) menyatakan, ekonomi tumbuh 0,4% pada kuartal tersebut dibandingkan perkiraan 0,3%. Pertumbuhan didorong oleh kinerja yang lebih baik dari industri konstruksi, dibandingkan proyeksi sebelumnya. Pada basis tahunan ekonomi tumbuh 2,9% dari kuartal I/2014, naik dari proyeksi sebelumnya yang sebesar 2,4%.

Revisi terbaru itu merupakan proyeksi ketiga untuk periode tersebut. Pada 2014, secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi direvisi naik menjadi 3% dari 2,8%. Itu menandai level tercepat pertumbuhan ekonomi sejak 2006. Data ONS itu menunjukkan pendapatan rumah tangga tumbuh 4,5% year on year (yoy), level tahunan tercepat sejak kuartal II/2001.

Awal bulan ini ONS menyatakan bahwa output konstruksi di Inggris melemah 0,2% pada kuartal I/2015, dibandingkan proyeksi sebelumnya yang turun 1,1%. ”Revisi peningkatan pada pertumbuhan kuartal I/2015 itu terutama karena metode baru untuk mengukur output konstruksi,” kata Kepala Ekonom ONS Joe Grice.

Pertumbuhan per kuartal untuk output jasa tetap tidak direvisi sebesar 0,4%. Howard Archer, kepala ekonom Inggris dan Eropa di IHS Global Insight, menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi tampaknya berakselerasi pada kuartal II/2015, saat ketidakpastian yang diakibatkan pemilu pada Mei telah mereda. Dia memperkirakan ekonomi tumbuh 0,7% pada kuartal II/2015 dan 2,5% selama tahun ini.

Data terpisah dari ONS menunjukkan defisit neraca berjalan Inggris sebesar 26,55 miliar poundsterling pada kuartal I/2015, setara dengan 5,8% produk domestik bruto (PDB). Defisit turun dari proyeksi yang direvisi 28,93 miliar poundsterling pada kuartal IV/2014, tapi Archer mengatakan bahwa defisit itu tetap tinggi.

John Longworth, direktur jenderal Kamar Dagang Inggri, memperingatkan bahwa defisit neraca berjalan sekarang menjadi risiko besar bagi kesejahteraan Inggris di masa depan, saat krisis zona euro atau guncangan internasional lainnya memiliki potensi yang tinggi. ”Ukuran dan skala defisit neraca berjalan Inggris membuat kita sangat rentan pada guncangan eksternal,” tuturnya.

Syarifudin
(ftr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Percepat Pasok BBM ke SPBU, Ajak Masyarakat Awasi Penyalahgunaan Subsidi
26 menit yang lalu
Trump Batal Pungut Biaya...
Trump Batal Pungut Biaya 20% di Selat Hormuz, Negara Teluk Janji Investasi Jumbo ke AS
38 menit yang lalu
Perang dengan AS Kian...
Perang dengan AS Kian Memanas, Iran Ancam Hentikan Semua Ekspor Energi dari Timur Tengah
1 jam yang lalu
Menteri PU Jawab Isu...
Menteri PU Jawab Isu Keponakan Jadi Komisaris: Lu Bisa Buktikan, Gue Kasih Umrah
11 jam yang lalu
Menteri Dody Akui Mutasi...
Menteri Dody Akui Mutasi Pejabat PU, Tapi Tepis karena Bocornya Surat Perjalanan ke AS
11 jam yang lalu
Sering Kena Zonk & Trauma...
Sering Kena Zonk & Trauma Promo PHP Saat Belanja Online? Resep Ini Dijamin Bikin Happy
12 jam yang lalu
Infografis
Bakar Uang Demi Perang:...
Bakar Uang Demi Perang: Jejak Kelam Ekonomi Militer AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved