Ekonom Nilai BI Sudah Tepat Tahan Suku Bunga Acuan
Minggu, 20 September 2015 - 20:29 WIB
Ekonom Nilai BI Sudah Tepat Tahan Suku Bunga Acuan
A
A
A
JAKARTA - Ekonom IGICo Advisory Martin Panggabean menilai, kebijakan yang dilakukan Bank Indonesia (BI) untuk tidak mengubah suku bunga acuan (BI Rate) sudah tepat.
Dia mengatakan, insentif mendorong ekonomi melalui penurunan sukubunga memang menggiurkan, namun dampak negatif penurunan BI Rate terhadap pergerakan kurs harus pula diperhitungkan.
Di sisi lain, di tengah pelemahan rupiah hingga sempat menyentuh Rp14.500/USD dan menurunnya cadangan devisa menjadi USD105,34 miliar, menaikkan BI Rate memang nampak menarik.
"Namun dampak negatifnya terhadap sektor riil domestik juga tidak dapat diterima. Dengan demikian, keberanian BI untuk mempertahankan BI Rate adalah langkah tepat," ujar dia dalam rilisnya, Minggu (20/9/2015).
Untuk itu, tambah Martin, langkah lanjutan perlu dilakukan pemerintah pasca diluncurkannya deregulasi dan debirokratisasi dalam paket September 1 pekan lalu, harus ditranslasikan ke dalam bentuk nyata. Yaitu, keluarnya peraturan-peraturan seperti yang disebutkan dalam matriks paket tersebut.
"Walaupun nampaknya terburu-buru, namun berbagai peraturan tersebut perlu dikeluarkan dengan kualitas yang tinggi," katanya. (Baca: Suku Bunga Acuan Masih Betah di Level 7,5%).
Dia memprediksi pasca The Fed melakukan moratorium kenaikan suku bunga, maka dalam beberapa bulan ke depan pemerintah Indonesia bisa bertindak dengan asumsi bahwa The Fed akan konstan dan China akan membersihkan volatilitasnya.
"Kondisi ini memberikan window of opportunity selama beberapa bulan ke depan, sehingga pemerintah bisa berupaya menggerakkan perekonomian dengan kondisi eksternal yang relatif stabil‎," tandas dia.
Dia mengatakan, insentif mendorong ekonomi melalui penurunan sukubunga memang menggiurkan, namun dampak negatif penurunan BI Rate terhadap pergerakan kurs harus pula diperhitungkan.
Di sisi lain, di tengah pelemahan rupiah hingga sempat menyentuh Rp14.500/USD dan menurunnya cadangan devisa menjadi USD105,34 miliar, menaikkan BI Rate memang nampak menarik.
"Namun dampak negatifnya terhadap sektor riil domestik juga tidak dapat diterima. Dengan demikian, keberanian BI untuk mempertahankan BI Rate adalah langkah tepat," ujar dia dalam rilisnya, Minggu (20/9/2015).
Untuk itu, tambah Martin, langkah lanjutan perlu dilakukan pemerintah pasca diluncurkannya deregulasi dan debirokratisasi dalam paket September 1 pekan lalu, harus ditranslasikan ke dalam bentuk nyata. Yaitu, keluarnya peraturan-peraturan seperti yang disebutkan dalam matriks paket tersebut.
"Walaupun nampaknya terburu-buru, namun berbagai peraturan tersebut perlu dikeluarkan dengan kualitas yang tinggi," katanya. (Baca: Suku Bunga Acuan Masih Betah di Level 7,5%).
Dia memprediksi pasca The Fed melakukan moratorium kenaikan suku bunga, maka dalam beberapa bulan ke depan pemerintah Indonesia bisa bertindak dengan asumsi bahwa The Fed akan konstan dan China akan membersihkan volatilitasnya.
"Kondisi ini memberikan window of opportunity selama beberapa bulan ke depan, sehingga pemerintah bisa berupaya menggerakkan perekonomian dengan kondisi eksternal yang relatif stabil‎," tandas dia.
(izz)
Lihat Juga :