Bank Dikuasai Asing, Pemerintah Harus Belajar dari Krisis 1998

Kamis, 08 Oktober 2015 - 01:23 WIB
Bank Dikuasai Asing,...
Bank Dikuasai Asing, Pemerintah Harus Belajar dari Krisis 1998
A A A
JAKARTA - Ketua Umum Partai Persatuan Indonesia (Perindo) Hary Tanoesoedibjo (HT) mengemukakan dunia industri di Indonesia saat ini banyak dikuasai asing termasuk perbankan.

“Kalau kita lihat industri perbankan yang besar-besar semuanya dimiliki oleh asing,” ujarnya, Rabu (7/10/2015)

HT mengatakan, pemerintah harus belajar dari pengalaman, seperti keluarnya paket kebijakan deregulasi perbankan 27 Oktober 1988 (Pakto 88) yang menyebabkan jatuhnya industri perbankan Indonesia secara garis besar dan menambah parah krisis 1998.

Dikeluarkannya Pakto 88 memberikan kemudahan dalam pendirian bank baru mengakibatkan pertumbuhan industri perbankan cepat. Kebijakan tersebut juga mengizinkan pendirian bank joint venture untuk menarik investor asing. “Pada masa itu semua orang mampu membuka bank, sampai kurang lebih ada 200 bank karena modalnya diturunkan 10 miliar,” ucapnya.

Namun likuiditas industri perbankan di masa itu mengalami kekeringan karena banyaknya orang yang membuat bank menggunakan uang sendiri, serta mudahnya bank di masa tersebut meminjamkan uang.

“Jadi banyak orang membuat bank karena gampangnya dan pinjam uang dari bank untuk mereka sendiri, itu yang terjadi pada 98 dan banyak yang rontok,” ungkap HT.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, pemerintah memberikan bantuan likuiditas kepada bank-bank yang mengalami masalah. Bantuan tersebut membuat negara rugi kurang lebih sekitar Rp350-360 triliun belum termasuk bunga.

Belajar dari kondisi tersebut, pemerintah harus mengkaji dan mengubah beberapa regulasi yang sudah tidak relevan agar asing tidak bisa seenaknya masuk ke pasar Indonesia. Menurutnya, banyak kebijakan pemerintah yang dihasilkan karena lobi pihak asing atau pengusaha. Bukan satu konsep yang dibuat bagaimana membangun Indonesia.

“Kalau kita pakai konsep yang pasti dalam bagaimana kita membangun Indonesia, semua aturan harus masuk ke dalam situ. Jadi mau lobi dari mana saja kalau keluar dari koridor itu juga tidak akan dilayani,” jelasnya.

Kendati demikian, HT mengatakan, di masa globalisasi seperti sekarang asing tetap dibutuhkan agar investasi bisa masuk. Namun, jangan sampai melupakan kepentingan nasional yang harus dijaga, khususnya menyangkut masyarakat menengah ke bawah.

“Itu harus kita jaga, karena mereka perlu kita tumbuhkan juga. Kalau tidak mereka di situ terus. Jadi ya kasusnya bisa berbeda-beda. Tapi intinya bagaimana masyarakat menengah ke bawah ini dapat terproteksi dan mereka bisa tumbuh,” tandasnya.

(Teddy Febrianto)
(dmd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Hati-Hati, Nasabah Perbankan...
Hati-Hati, Nasabah Perbankan Rentan jadi Korban Kejahatan Social Engineering
Pertemuan Tahunan Perbankan...
Pertemuan Tahunan Perbankan Syariah 2024
Dana Nasabah Raib, Sistem...
Dana Nasabah Raib, Sistem Keamanan Perbankan Dipertanyakan
Lewat Media Dongeng...
Lewat Media Dongeng Perbankan, JMI Berikan Donasi Pendidikan Masyarakat Pesisir di SDN Tanjung Burung Kabupaten Banten
Bagaimana Kinerja Perbankan...
Bagaimana Kinerja Perbankan Dua Kuartal ke Depan?, Nih Hitung-hitungannya
Cermat Dalam Memilih...
Cermat Dalam Memilih Aplikasi Perbankan
Berita Terkini
Dasco Panggil Menkeu...
Dasco Panggil Menkeu dan Gubernur BI: Evaluasi Perkembangan Ekonomi
13 menit yang lalu
Lompatan Besar Transportasi...
Lompatan Besar Transportasi Publik Jakarta: Terbaik Kedua di ASEAN, Posisi ke-27 Dunia
2 jam yang lalu
IHSG Sepekan Ambruk...
IHSG Sepekan Ambruk 8,69%, Market Cap Menyusut Jadi Rp9.807 Triliun
3 jam yang lalu
Masyarakat Diminta Tak...
Masyarakat Diminta Tak Panik Respons Kondisi Ekonomi RI, Ekonom: Jaga Optimisme Berdasar Data
13 jam yang lalu
Program CIMB Niaga Sustainability...
Program CIMB Niaga Sustainability Journalism Fellowship Memilih 20 Jurnalis
14 jam yang lalu
Purbaya Belum Percaya...
Purbaya Belum Percaya Daya Beli Mulai Lesu di Warteg: Nanti Saya Cek Lagi
14 jam yang lalu
Infografis
Indonesia: Israel Harus...
Indonesia: Israel Harus Mundur dari Semua Wilayah Palestina
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved