Wall Street Jatuh 1% Dipicu Prospek Kenaikan Suku Bunga
Selasa, 10 November 2015 - 08:51 WIB
Wall Street Jatuh 1% Dipicu Prospek Kenaikan Suku Bunga
A
A
A
NEW YORK - Wall Street berakhir jatuh 1%, dengan indeks S&P 500 mengalami penurunan terburuk dalam enam pekan pada Senin waktu setempat karena Wall Street bersiap untuk kenaikan suku bunga (Fed rate) dan khawatir terhadap lemahnya data perdagangan China.
Sembilan dari 10 sektor di indeks S&P besar berakhir lebih rendah, dipimpin sektor konsumer dan energi. Dow Jones Industrial Average tergelincir kembali ke wilayah negatif untuk tahun ini, dengan hanya dua dari 30 komponen menguat.
Perusahaan-perusahaan Amerika Serikat (AS) menghadapi prospek biaya pinjaman yang lebih tinggi jika Federal Reserve menaikkan suku bunga pada bulan depan setelah kuatnya laporan pekerjaan yang dirilis pada Jumat pekan lalu.
"Ada kekhawatiran ketidajelasan dalam jangka pendek tentang kenaikan suku bunga Fed," kata CEO Longbow Asset Management Jake Dollarhide, seperti dilansir dari Reuters, Selasa (10/11/2015).
Menurut dia, harga obligasi dan saham akan menurun ketika Fed membuat pengumuman mengenai kenaikan suku bunga, tapi selanjutnya saham akan berkembang untuk membuktikan ekonomi AS cukup sehat untuk berdiri sendiri.
Investor juga fokus pada kekhawatiran baru dari perlambatan di China, pasar utama bagi banyak perusahaan menjelang musim liburan. China sebagai salah satu mitra dagang AS mencatat surplus perdagangan pada Oktober anjlok, dengan ekspor dan impor jatuh.
Ketiga indeks saham utama AS melemah di akhir sesi. Indeks Dow Jones Industrial Average berakhir turun 1,0% di 17.730,48; indeks S&P 500 kehilangan 0,98% ke 2.078,58 dan Nasdaq Composite turun 1,01% menjadi 5.095,30.
Sektor energi yang paling parah terkoreksi di antara sektor lainnya di indeks S&P, dengan kejatuhan 1,45% setelah penurunan harga minyak.
Sementara menurut data Thomson Reuters, sekitar 7,1 miliar saham berpindah tangan di bursa AS, naik dibanding dengan rata-rata harian selama 20 hari perdagangan terakhir sebanyak 7 miliar.
Sembilan dari 10 sektor di indeks S&P besar berakhir lebih rendah, dipimpin sektor konsumer dan energi. Dow Jones Industrial Average tergelincir kembali ke wilayah negatif untuk tahun ini, dengan hanya dua dari 30 komponen menguat.
Perusahaan-perusahaan Amerika Serikat (AS) menghadapi prospek biaya pinjaman yang lebih tinggi jika Federal Reserve menaikkan suku bunga pada bulan depan setelah kuatnya laporan pekerjaan yang dirilis pada Jumat pekan lalu.
"Ada kekhawatiran ketidajelasan dalam jangka pendek tentang kenaikan suku bunga Fed," kata CEO Longbow Asset Management Jake Dollarhide, seperti dilansir dari Reuters, Selasa (10/11/2015).
Menurut dia, harga obligasi dan saham akan menurun ketika Fed membuat pengumuman mengenai kenaikan suku bunga, tapi selanjutnya saham akan berkembang untuk membuktikan ekonomi AS cukup sehat untuk berdiri sendiri.
Investor juga fokus pada kekhawatiran baru dari perlambatan di China, pasar utama bagi banyak perusahaan menjelang musim liburan. China sebagai salah satu mitra dagang AS mencatat surplus perdagangan pada Oktober anjlok, dengan ekspor dan impor jatuh.
Ketiga indeks saham utama AS melemah di akhir sesi. Indeks Dow Jones Industrial Average berakhir turun 1,0% di 17.730,48; indeks S&P 500 kehilangan 0,98% ke 2.078,58 dan Nasdaq Composite turun 1,01% menjadi 5.095,30.
Sektor energi yang paling parah terkoreksi di antara sektor lainnya di indeks S&P, dengan kejatuhan 1,45% setelah penurunan harga minyak.
Sementara menurut data Thomson Reuters, sekitar 7,1 miliar saham berpindah tangan di bursa AS, naik dibanding dengan rata-rata harian selama 20 hari perdagangan terakhir sebanyak 7 miliar.
(rna)