Rizal Ramli Sindir Sudirman Said Tak Paham Migas
Kamis, 19 November 2015 - 12:48 WIB
Rizal Ramli Sindir Sudirman Said Tak Paham Migas
A
A
A
JAKARTA - Menteri Koordinator (Menko) bidang Kemaritiman Rizal Ramli lagi-lagi melontarkan sindiran pedas kepada koleganya di kabinet kerja, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said.
Rizal menilai mantan Bos Pindad tersebut tidak paham soal minyak dan gas (migas). Pekan depan Rizal berencana memanggil para direktur jenderal (dirjen) di Kementerian ESDM guna mendiskusikan rencananya mengurangi porsi negara atas hasil produksi migas.
"Kalau menterinya enggak mau datang, dari dulu saya undang enggak mau datang, enggak penting. Karena saya penting dirjennya, karena lebih ngerti dirjennya daripada menterinya," kata dia di Kawasan Kebayoran Baru, Jakarta, Kamis (19/11/2015)..
Pasalnya, saat ini harga migas sedang mengalami penurunan, seharusnya ada insentif yang diberikan ke pengusaha produsen migas atau Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) agar tetap bertahan.
Saat ini negara mendapat bagian 85% dan KKKS 15% dari hasil produksi minyak, sedangkan dari produksi gas KKKS mendapat 30% negara dapat 70%.
"Caranya, pembagian production sharing harus fleksibel. Kalau sekarang misalnya 85:15, kenapa enggak 80:20 untuk sementara. Lebih bagus ada aktivitas, ada lapangan pekerjaan, proven reserve kita nambah daripada tetap bermimpi 85:15. Ini yang saya maksud berpikir out of the box," terangnya.
Mantan Menko bidang Perekonomian ini menuturkan, anjloknya harga minyak dunia ini juga memengaruhi biaya kegiatan eksplorasi yang kini turut mengalami penurunan. Sebab, perusahaan minyak dan gas mengurangi kegiatan eksplorasi dan membuat perusahaan peralatan eksplorasi sepi peminat.
Dengan insentif tersebut, cadangan minyak nasional akan meningkat karena kegiatan eksplorasi terus dilakukan. Sehingga, pada saat harga minyak dunia kembali terkerek maka cadangan minyak nasional sudah banyak.
"Oil and gas harganya turun, kondisi ini akan berlangsung 3-5 tahun mendatang, artinya perusahan driling eksplorasi harganya jatuh luar biasa," tutur dia.
Baca Juga:
Rizal Ramli 'Kepret' SKK Migas soal Komponen Lokal Migas
Rizal menilai mantan Bos Pindad tersebut tidak paham soal minyak dan gas (migas). Pekan depan Rizal berencana memanggil para direktur jenderal (dirjen) di Kementerian ESDM guna mendiskusikan rencananya mengurangi porsi negara atas hasil produksi migas.
"Kalau menterinya enggak mau datang, dari dulu saya undang enggak mau datang, enggak penting. Karena saya penting dirjennya, karena lebih ngerti dirjennya daripada menterinya," kata dia di Kawasan Kebayoran Baru, Jakarta, Kamis (19/11/2015)..
Pasalnya, saat ini harga migas sedang mengalami penurunan, seharusnya ada insentif yang diberikan ke pengusaha produsen migas atau Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) agar tetap bertahan.
Saat ini negara mendapat bagian 85% dan KKKS 15% dari hasil produksi minyak, sedangkan dari produksi gas KKKS mendapat 30% negara dapat 70%.
"Caranya, pembagian production sharing harus fleksibel. Kalau sekarang misalnya 85:15, kenapa enggak 80:20 untuk sementara. Lebih bagus ada aktivitas, ada lapangan pekerjaan, proven reserve kita nambah daripada tetap bermimpi 85:15. Ini yang saya maksud berpikir out of the box," terangnya.
Mantan Menko bidang Perekonomian ini menuturkan, anjloknya harga minyak dunia ini juga memengaruhi biaya kegiatan eksplorasi yang kini turut mengalami penurunan. Sebab, perusahaan minyak dan gas mengurangi kegiatan eksplorasi dan membuat perusahaan peralatan eksplorasi sepi peminat.
Dengan insentif tersebut, cadangan minyak nasional akan meningkat karena kegiatan eksplorasi terus dilakukan. Sehingga, pada saat harga minyak dunia kembali terkerek maka cadangan minyak nasional sudah banyak.
"Oil and gas harganya turun, kondisi ini akan berlangsung 3-5 tahun mendatang, artinya perusahan driling eksplorasi harganya jatuh luar biasa," tutur dia.
Baca Juga:
Rizal Ramli 'Kepret' SKK Migas soal Komponen Lokal Migas
(izz)
Lihat Juga :