Rizal Ramli Ungkap Penyebab Tenaga Kerja RI Minim Skill
Selasa, 19 April 2016 - 14:44 WIB
Rizal Ramli Ungkap Penyebab Tenaga Kerja RI Minim Skill
A
A
A
JAKARTA - Menteri Koordinator (Menko) bidang Kemaritiman, Rizal Ramli mengakui bahwa tenaga kerja yang dihasilkan Indonesia masih minim keahlian atau skill. Hal ini lantaran sistem pendidikan di Tanah Air yang dinilai masih terlalu berkiblat ke Amerika Serikat (AS) dan Inggris, yang lebih mementingkan pendidikan umum dibanding pendidikan kejuruan (vocational school).
Dia menyayangkan, total anggaran pendidikan sebesar Rp414 triliun lebih difokuskan untuk pendidikan umum dibanding pendidikan kejuruan. Disarankan seharusnya, sistem pendidikan RI lebih fokus kepada pendidikan kejuruan yang mampu mencetak tenaga kerja dengan keahlian khusus.
"Kita terlalu ikut sistem seperti Amerika dan Inggris. Padahal ada sistem pendidikan lain yang lebih mengutamakan sistem pendidikan kejuruan yaitu vocational training dan politeknik seperti sistem pendidikan Jerman, Australia, dan Swiss," katanya di Gedung BPPT, Jakarta, Selasa (19/4/2016).
(Baca Juga: Ini Penyebab Nilai Jual Tenaga Kerja RI Rendah)
Menurutnya, sistem pendidikan di Jerman, Australia, ataupun Swiss lebih memfokuskan kepada pendidikan kejuruan sehingga para alumninya bisa cepat terserap oleh industri. Begitupun di negara seperti Singapura, yang sistem pendidikannya berkiblat ke Jerman.
"Dulu waktu Singapura masih miskin hanya boleh satu universitas. Sisanya anak muda harus masuk politeknik. Begitu Singapura sudah kaya, boleh tiga universitas dan sisanya politeknik. Sekarang sudah lebih banyak, mungkin lebih dari tujuh universitas," imbuh dia.
Sementara di Indonesia, sambung mantan Menko bidang Perekonomian ini terlalu fokus pada pendidikan umum. Meskipun secara kualitas lulusan dari sekolah menengah umum (SMU) memiliki pengetahuan luas, namun secara keahlian tidak memadai seperti halnya lulusan sekolah kejuruan.
"Oleh karena itu, kita ingin supaya ada transformasi Tenaga Kerja Indonesia dari yang sifatnya umum. Dari yang sifatnya unskilled menjadi tenaga profesional Indonesia," tandasnya.
Dia menyayangkan, total anggaran pendidikan sebesar Rp414 triliun lebih difokuskan untuk pendidikan umum dibanding pendidikan kejuruan. Disarankan seharusnya, sistem pendidikan RI lebih fokus kepada pendidikan kejuruan yang mampu mencetak tenaga kerja dengan keahlian khusus.
"Kita terlalu ikut sistem seperti Amerika dan Inggris. Padahal ada sistem pendidikan lain yang lebih mengutamakan sistem pendidikan kejuruan yaitu vocational training dan politeknik seperti sistem pendidikan Jerman, Australia, dan Swiss," katanya di Gedung BPPT, Jakarta, Selasa (19/4/2016).
(Baca Juga: Ini Penyebab Nilai Jual Tenaga Kerja RI Rendah)
Menurutnya, sistem pendidikan di Jerman, Australia, ataupun Swiss lebih memfokuskan kepada pendidikan kejuruan sehingga para alumninya bisa cepat terserap oleh industri. Begitupun di negara seperti Singapura, yang sistem pendidikannya berkiblat ke Jerman.
"Dulu waktu Singapura masih miskin hanya boleh satu universitas. Sisanya anak muda harus masuk politeknik. Begitu Singapura sudah kaya, boleh tiga universitas dan sisanya politeknik. Sekarang sudah lebih banyak, mungkin lebih dari tujuh universitas," imbuh dia.
Sementara di Indonesia, sambung mantan Menko bidang Perekonomian ini terlalu fokus pada pendidikan umum. Meskipun secara kualitas lulusan dari sekolah menengah umum (SMU) memiliki pengetahuan luas, namun secara keahlian tidak memadai seperti halnya lulusan sekolah kejuruan.
"Oleh karena itu, kita ingin supaya ada transformasi Tenaga Kerja Indonesia dari yang sifatnya umum. Dari yang sifatnya unskilled menjadi tenaga profesional Indonesia," tandasnya.
(akr)
Lihat Juga :