Kunjungan ke China, Raja Salman Bakal Berinvestasi Rp865,6 Triliun
Kamis, 16 Maret 2017 - 17:43 WIB
Kunjungan ke China, Raja Salman Bakal Berinvestasi Rp865,6 Triliun
A
A
A
BEIJING - Kunjungan Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz Al-Saud ke China berpotensi menghasilkan kerja sama senilai USD65 miliar, untuk mempererat hubungan antara produsen minyak terbesar dunia dan negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia teresebut. Tur Raja Salman selama sebulan terakhir di Asia, diyakini menjadi bagian dari rencana ambisius reformasi ekonomi kerajaan Arab Saudi sejak dua tahun lalu
Dimulai dari Malaysia, Indonesia, Brunei Darussalam, Jepang hingga China, tur Asia Raja Salman selalu dikaitkan merupakan upaya mempromosikan peluang investasi di Timur Tengah, termasuk menawarkan rencana penjualan saham perusahaan energi pelat merah Saudi Aramco. Seperti diketahui perusahaan raksasa migas tersebut tengah bersiap melakukan penawaran saham perdana untuk menjadi IPO terbesar sepanjang sejarah.
Seperti dilansir Reuters, Kamis (16/3/2017) kunjungan Raja Salman ke Negeri Tirai Bambu adalah upaya meningkatkan penjualan minyak ke China, yang merupakan pasar minyak terbesar kedua di dunia. Setelah kehilangan pangsa pasar ke Rusia tahun lalu, maka kerja sama dengan perusahaan minyak China terus didorong. Presiden China Xi Jinping mengatakan kunjungan Raja Salman ke Beijing, menunjukkan pentingnya merekatkan hubungan kedua negara.
"Kunjungan ini akan mendorong kemajuan dan terus meningkatkan kualitas hubungan kami serta menghasilkan kesepakatan yang baru," terang Xi dalam sambutannya di depan wartawan di Beijing cavernous Great Hall People.
Sementara Wakil Menteri Luar Negeri China Zhang Ming mengatakan, kunjungan Raja Salman berpotensi menghasilkan MoU dan perjanjian kesepakatan senilai sekitar USD65 miliar atau setara dengan Rp865,6 triliun. Kesepakatan ini melibatkan beberapa sektor, meski Zhang Ming masih enggan memberikan rincian sektor apa saja yang bakal menjadi fokus kerja sama.
"Presiden Xi Jinping dan Raja Salman adalah teman lama. Kerja sama praktis antara China dan Arab Saudi telah membuahkan prestasi dan memiliki potensi yang sangat besar," sambungnya.
Bagi Saudi Aramco, potensi investasi sesuai dengan strategi untuk memperluas penyimpanan, petrokimia serta dalam upaya diversifikasi aset dan perjanjian jangka panjang yang aman untuk minyak. Norinco diperkirakan bakal membangun beberapa pabrik kimia di China, sementara Saudi Basic Industries Corp (SABIC) dan Sinopec telah sepakat untuk mengembangkan proyek-proyek petrokimia di China dan Arab Saudi.
Kesepakatan Norinco akan melihat kemungkinan pengelolaan kilang dan pabrik kimia di Provinsi Panjin, Liaoning, selain itu ada juga upgrade kilang yang ada serta fasilitas petrokomia di lokasi yang sama berdasarkan sumber dari pelaku industri. Sinopec dan SABIC adalah salah satu perusahan petrokimia terbesar di dunia, yang akan bersama-sama menjalankang kilang di Tinajin.
Dimulai dari Malaysia, Indonesia, Brunei Darussalam, Jepang hingga China, tur Asia Raja Salman selalu dikaitkan merupakan upaya mempromosikan peluang investasi di Timur Tengah, termasuk menawarkan rencana penjualan saham perusahaan energi pelat merah Saudi Aramco. Seperti diketahui perusahaan raksasa migas tersebut tengah bersiap melakukan penawaran saham perdana untuk menjadi IPO terbesar sepanjang sejarah.
Seperti dilansir Reuters, Kamis (16/3/2017) kunjungan Raja Salman ke Negeri Tirai Bambu adalah upaya meningkatkan penjualan minyak ke China, yang merupakan pasar minyak terbesar kedua di dunia. Setelah kehilangan pangsa pasar ke Rusia tahun lalu, maka kerja sama dengan perusahaan minyak China terus didorong. Presiden China Xi Jinping mengatakan kunjungan Raja Salman ke Beijing, menunjukkan pentingnya merekatkan hubungan kedua negara.
"Kunjungan ini akan mendorong kemajuan dan terus meningkatkan kualitas hubungan kami serta menghasilkan kesepakatan yang baru," terang Xi dalam sambutannya di depan wartawan di Beijing cavernous Great Hall People.
Sementara Wakil Menteri Luar Negeri China Zhang Ming mengatakan, kunjungan Raja Salman berpotensi menghasilkan MoU dan perjanjian kesepakatan senilai sekitar USD65 miliar atau setara dengan Rp865,6 triliun. Kesepakatan ini melibatkan beberapa sektor, meski Zhang Ming masih enggan memberikan rincian sektor apa saja yang bakal menjadi fokus kerja sama.
"Presiden Xi Jinping dan Raja Salman adalah teman lama. Kerja sama praktis antara China dan Arab Saudi telah membuahkan prestasi dan memiliki potensi yang sangat besar," sambungnya.
Bagi Saudi Aramco, potensi investasi sesuai dengan strategi untuk memperluas penyimpanan, petrokimia serta dalam upaya diversifikasi aset dan perjanjian jangka panjang yang aman untuk minyak. Norinco diperkirakan bakal membangun beberapa pabrik kimia di China, sementara Saudi Basic Industries Corp (SABIC) dan Sinopec telah sepakat untuk mengembangkan proyek-proyek petrokimia di China dan Arab Saudi.
Kesepakatan Norinco akan melihat kemungkinan pengelolaan kilang dan pabrik kimia di Provinsi Panjin, Liaoning, selain itu ada juga upgrade kilang yang ada serta fasilitas petrokomia di lokasi yang sama berdasarkan sumber dari pelaku industri. Sinopec dan SABIC adalah salah satu perusahan petrokimia terbesar di dunia, yang akan bersama-sama menjalankang kilang di Tinajin.
(akr)
Lihat Juga :