Pertamina Tak Impor Pertamax untuk Diubah Jadi Premium
Jum'at, 07 April 2017 - 17:50 WIB
Pertamina Tak Impor Pertamax untuk Diubah Jadi Premium
A
A
A
JAKARTA - PT Pertamina menegaskan, tidak melakukan impor bahan bakar minyak (BBM) dengan research octane number (RON) 92 atau jenis pertamax untuk diubah menjadi premium dengan RON 88. Sehingga, tidak menurunkan kualitasnya.
Senior Vice President Integrated Supply Chain (ISC) Daniel Purba mengatakan, pihaknya selalu mengimpor BBM sesuai kebutuhan. Kalau butuh RON 92 maka tidak perlu diubah jadi RON 88.
"Kita impor pertamax tidak ubah jadi premium. Kalau kita impor pertamax jual pertamax. Kalau impor premium jual premium," ujarnya di Jakarta, Jumat (7/4/2017).
Sementara, untuk impor high octane mogas component (HOMC) dilakukan untuk meningkatkan oktan supaya nafta lebih layak digunakan. Tujuannya agar Pertamina bisa mendapat RON 88 atau premium yang sudah tidak digunakan di dalam negeri. "Kalau HOMC kita impor blending dengan nafta jadi mogas (motor gasoline) 88," kata David.
Dia merinci, impor premium dalam lima tahun trakhir ini mengalami penurunan. Pada 2016 sudah turun 25% dari tahun sebelumnya menjadi 74 juta barel.
"Jadi, ada turun 25% dibanding 2015, di anggaran impor lebih rendah lagi 12 juta barel atau 62 juta barel tahun ini. Pada empat tahun sebelumnya 110 juta barel, pada 2017 tinggal 62 juta, ini dengan mogas 88," katanya.
Kemudian, untuk pertamax 2016 konsumsi meningkat hampir tiga kali lipat dari 8 juta barel ke 25 juta barel. Jadi, BBM jenis RON 92 ini meningkat siginifikan.
"Tapi kalau dari 2015 ke 2016, 17 juta barel. Sementara, penurunan mogas 88 turunnya 28 juta barel, trigger-nya 2016 secara keseluruhan FRSS dan TPPI sudah jalan," tutur Daniel.
Pihaknya memproyeksi pada tahun ini konsumsi pertamax bakal meningkat dan butuh impor cukup besar. Di mana impor naik 11 juta barel dan premium turun 11 juta barel. "Jadi, seimbang penurunan premium dengan peningkatan pertamax," ucap dia.
Senior Vice President Integrated Supply Chain (ISC) Daniel Purba mengatakan, pihaknya selalu mengimpor BBM sesuai kebutuhan. Kalau butuh RON 92 maka tidak perlu diubah jadi RON 88.
"Kita impor pertamax tidak ubah jadi premium. Kalau kita impor pertamax jual pertamax. Kalau impor premium jual premium," ujarnya di Jakarta, Jumat (7/4/2017).
Sementara, untuk impor high octane mogas component (HOMC) dilakukan untuk meningkatkan oktan supaya nafta lebih layak digunakan. Tujuannya agar Pertamina bisa mendapat RON 88 atau premium yang sudah tidak digunakan di dalam negeri. "Kalau HOMC kita impor blending dengan nafta jadi mogas (motor gasoline) 88," kata David.
Dia merinci, impor premium dalam lima tahun trakhir ini mengalami penurunan. Pada 2016 sudah turun 25% dari tahun sebelumnya menjadi 74 juta barel.
"Jadi, ada turun 25% dibanding 2015, di anggaran impor lebih rendah lagi 12 juta barel atau 62 juta barel tahun ini. Pada empat tahun sebelumnya 110 juta barel, pada 2017 tinggal 62 juta, ini dengan mogas 88," katanya.
Kemudian, untuk pertamax 2016 konsumsi meningkat hampir tiga kali lipat dari 8 juta barel ke 25 juta barel. Jadi, BBM jenis RON 92 ini meningkat siginifikan.
"Tapi kalau dari 2015 ke 2016, 17 juta barel. Sementara, penurunan mogas 88 turunnya 28 juta barel, trigger-nya 2016 secara keseluruhan FRSS dan TPPI sudah jalan," tutur Daniel.
Pihaknya memproyeksi pada tahun ini konsumsi pertamax bakal meningkat dan butuh impor cukup besar. Di mana impor naik 11 juta barel dan premium turun 11 juta barel. "Jadi, seimbang penurunan premium dengan peningkatan pertamax," ucap dia.
(izz)
Lihat Juga :