Timur Tengah Makin Tegang, Harga Minyak Gagal Tembus USD50/Barel
Rabu, 07 Juni 2017 - 08:44 WIB
Timur Tengah Makin Tegang, Harga Minyak Gagal Tembus USD50/Barel
A
A
A
SINGAPURA - Harga minyak pada perdagangan hari ini turun, dengan harga minyak mentah brent gagal mendapatkan dukungan untuk menembus level USD50 per barel, karena pasar bahan bakar global tetap mengalami kelebihan pasokan, meskipun ketegangan di Timur Tengah meningkat dan persediaan AS yang jatuh memberi dukungan.
Seperti dikutip dari Reuters, Rabu (7/6/2017), harga minyak mentah brent diperdagangkan pada level USD49,94 per barel pada pukul 00.41 GMT, turun 18 sen atau 0,4% dari penutupan terakhir mereka. Harga minyak brent hampir melemah 8% dari posisi bawah pada 25 Mei, ketika sebuah kebijakan yang dipimpin OPEC untuk mengurangi produksi minyak diperluas hingga kuartal pertama 2018.
Sementara, harga minyak AS, West Texas Intermediate (WTI) berada di level USD47,98 per barel, turun 21 sen atau 0,4% dari penutupan sebelumnya, dan turun di atas 6% dari posisi 25 Mei.
Pedagang mengatakan bahwa overhang pasokan bahan bakar terus-menerus menekan harga di bawah tekanan meskipun ada sebuah janji yang dipimpin Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) untuk menahan produksi hampir 1,8 juta barel per hari (bpd) hingga kuartal pertama 2018.
Produksi dan konsumsi bahan bakar dunia kira-kira dalam keseimbangan pasokan dan permintaan, hampir 98 juta barel per hari, meskipun persediaan masih agak membengkak, menurut Administrasi Informasi Energi AS (EIA).
Pelaku pasar mengatakan, pasar didukung oleh ketegangan politik yang meningkat di Timur Tengah dan tanda-tanda penarikan persediaan bahan bakar yang membengkak di Amerika Serikat (AS) secara bertahap.
Komoditas pialang Marex Spectron mengatakan mereka memperkirakan "penurunan pasokan minyak mentah di pasar fisik" dalam beberapa pekan mendatang, menambahkan bahwa ini kemungkinan akan memberikan dukungan terhadap harga minyak.
Sebuah kampanye dengan memimpin kekuatan Arab, termasuk Arab Saudi, Mesir dan Uni Emirat Arab, untuk mengisolasi Qatar yang dinilai mengganggu perdagangan komoditas dari minyak, gas alam, logam, dan makanan.
Di Amerika Serikat, persediaan minyak mentah AS turun sebesar 8,7 juta barel dari 26 Mei, data dari American Petroleum Institute menunjukkan kemarin. Data resmi oleh AMDAL akan dipublikasikan hari ini. Marex Spectron mengatakan bahwa prospek permintaan untuk beberapa pekan ke depan dari kilang menguat, juga mendukung harga.
Namun, pialang tersebut mengatakan bahwa kenaikan harga bisa ditutup oleh apa yang disebutnya "sangat bearish" pada lingkungan makro ekonomi.
Seperti dikutip dari Reuters, Rabu (7/6/2017), harga minyak mentah brent diperdagangkan pada level USD49,94 per barel pada pukul 00.41 GMT, turun 18 sen atau 0,4% dari penutupan terakhir mereka. Harga minyak brent hampir melemah 8% dari posisi bawah pada 25 Mei, ketika sebuah kebijakan yang dipimpin OPEC untuk mengurangi produksi minyak diperluas hingga kuartal pertama 2018.
Sementara, harga minyak AS, West Texas Intermediate (WTI) berada di level USD47,98 per barel, turun 21 sen atau 0,4% dari penutupan sebelumnya, dan turun di atas 6% dari posisi 25 Mei.
Pedagang mengatakan bahwa overhang pasokan bahan bakar terus-menerus menekan harga di bawah tekanan meskipun ada sebuah janji yang dipimpin Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) untuk menahan produksi hampir 1,8 juta barel per hari (bpd) hingga kuartal pertama 2018.
Produksi dan konsumsi bahan bakar dunia kira-kira dalam keseimbangan pasokan dan permintaan, hampir 98 juta barel per hari, meskipun persediaan masih agak membengkak, menurut Administrasi Informasi Energi AS (EIA).
Pelaku pasar mengatakan, pasar didukung oleh ketegangan politik yang meningkat di Timur Tengah dan tanda-tanda penarikan persediaan bahan bakar yang membengkak di Amerika Serikat (AS) secara bertahap.
Komoditas pialang Marex Spectron mengatakan mereka memperkirakan "penurunan pasokan minyak mentah di pasar fisik" dalam beberapa pekan mendatang, menambahkan bahwa ini kemungkinan akan memberikan dukungan terhadap harga minyak.
Sebuah kampanye dengan memimpin kekuatan Arab, termasuk Arab Saudi, Mesir dan Uni Emirat Arab, untuk mengisolasi Qatar yang dinilai mengganggu perdagangan komoditas dari minyak, gas alam, logam, dan makanan.
Di Amerika Serikat, persediaan minyak mentah AS turun sebesar 8,7 juta barel dari 26 Mei, data dari American Petroleum Institute menunjukkan kemarin. Data resmi oleh AMDAL akan dipublikasikan hari ini. Marex Spectron mengatakan bahwa prospek permintaan untuk beberapa pekan ke depan dari kilang menguat, juga mendukung harga.
Namun, pialang tersebut mengatakan bahwa kenaikan harga bisa ditutup oleh apa yang disebutnya "sangat bearish" pada lingkungan makro ekonomi.
(izz)
Lihat Juga :