Perdagangan China Lebih Sehat di Luar Perkiraan

Jum'at, 09 Juni 2017 - 12:15 WIB
Perdagangan China Lebih...
Perdagangan China Lebih Sehat di Luar Perkiraan
A A A
BEIJING - Ekspor dan impor China tercatat meningkat melebihi dari perkiraan sebelumnya pada bulan Mei, untuk menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Negeri Tirai Bambu -julukan China- tetap tangguh di tengah kekhawatiran yang diprediksi bakal melambat. Angka ekspor naik 8,7% dari tahun lalu, mengalahkan prediksi 7% setelah permintaan kuat dari Eropa.

Sementara seperti dilansir BBC, Jumat (9/6/2017) nilai impor China terangkat mencapai 14,8%, dibandingkan perkiraan sebelumnya sebesar 8,5% berkat kinerja positif produk pengolahan dan perakitan. Secara keseluruhan, perdagangan China surplus USD40,8 miliar dari bulan April mencapai sebesar USD38 miliar. Data yang dirilis pada tengah pekan juga menunjukkan kenaikan cadangan devisa China lebih dari yang diharapkan pada Mei

Namun, masih banyak analis yang memperingatkan bahwa pertumbuhan China cenderung melambat secara bertahap pada kuartal, mendatang. "Hari ini data perdagangan telah memberikan kejutan dengan berbalik menguat. Tapi pandangan kami tidak berubah bahwa pertumbuhan PDB mungkin melompat pada kuartal pertama," ucap Bank Investasi Nomura dalam sebuah laporan.

Risiko Pertumbuhan

Sementara itu sebelumnya Lembaga Pemeringkat Moody’s Investors Service menurunkan predikat kredit China, ketika kekhawatiran makin meningkat bahwa kekuatan sektor keuangan akan mulai terkikis ke depannya seiring hutang yang bertambah. Sebagai besar pertumbuhan China sejak krisis keuangan telah mendapatkan stimulus dari belanja besar-besaran pemerintah untuk infrastruktur.

(Baca Juga: Rating Investasi China Turun, Ekonomi Dunia Akan Melemah )

Tetapi peningkatan arus modal yang keluar, ditambah runtuhnya harga komoditas tampaknya bakal menjadi hambatan. Pemerintah China telah dipaksa untuk mengambil langkah-langkah untuk mendinginkan pasar properti dan mengurangi aktivitas spekulatif pasar. Investor juga khawatir tentang potensi ketegangan ekonomi antara China dengan AS, sebagai mitra perdagangan terbesar setelah Uni Eropa.

Meski begitu angin segar sedikit berhembus, setelah Presiden AS Donald Trump berjanji untuk memangkas kesenjangan dengan China. Serta pertemuan pada bulan April dengan Presiden China Xi Jinping di Florida, kedua belah pihak telah sepakat 100 poin perjanjian perdagangan yang saling menguntungkan.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Ekonomi China Pulih,...
Ekonomi China Pulih, Tumbuh 4,9 Persen Kuartal III 2020
Krisis Ekonomi China...
Krisis Ekonomi China Pengaruhi Ekspor Impor Dalam Negeri
Gelombang Covid-19 Kembali...
Gelombang Covid-19 Kembali Hantam Ekonomi Tiongkok
Menteri Keuangan Waspadai...
Menteri Keuangan Waspadai Situasi Kontraksi Ekonomi China
Momen Unik saat Presiden...
Momen Unik saat Presiden Prabowo Bicara Bahasa Tiongkok di Beijing
China Rebound, Bidik...
China Rebound, Bidik Pertumbuhan Ekonomi di Atas 6%
Berita Terkini
Cadangan Devisa Indonesia...
Cadangan Devisa Indonesia per Juni 2026 Naik jadi USD145,6 Miliar
44 menit yang lalu
Istana Sebut Tarif Listrik...
Istana Sebut Tarif Listrik Harusnya Naik, tapi Daya Beli Jadi Prioritas
1 jam yang lalu
Harga Emas Lebih Murah,...
Harga Emas Lebih Murah, Hari Ini Turun Rp15 Ribu jadi Rp2.655.000 per Gram
2 jam yang lalu
IHSG Kokoh di Zona Hijau,...
IHSG Kokoh di Zona Hijau, Hari Ini Dibuka Menguat ke 5.933
2 jam yang lalu
Perang Bikin Jalur Suku...
Perang Bikin Jalur Suku Bunga Bank Sentral Terkunci di Level Tertinggi, Era Pinjaman Murah Berakhir
3 jam yang lalu
DANA Catat Pendapatan...
DANA Catat Pendapatan UMKM Alumni SisBerdaya Naik 113%
14 jam yang lalu
Infografis
7 Negara dengan Produksi...
7 Negara dengan Produksi Tank Tempur Terbanyak di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved