Puasa 19 Jam di AS, Menteri Susi Pilih Jadi Musafir
Sabtu, 24 Juni 2017 - 14:14 WIB
Puasa 19 Jam di AS, Menteri Susi Pilih Jadi Musafir
A
A
A
JAKARTA - Menjalankan ibadah puasa di negara lain memang memiliki cerita tersendiri, terlebih di Amerika Serikat (AS). Betapa tidak, waktu puasa di Negeri Paman Sam -julukan AS- tersebut sangat panjang mencapai 19 jam., beda dengan Indonesia yang hanya 13 jam saja.
Tentu bagi orang Indonesia membutuhkan energi ekstra untuk berpuasa di negara adidaya tersebut. Selain waktu puasa yang lebih lama, menjalani puasa sebagai minoritas dimana jumlah umat muslim yang memang menjadi minoritas di AS menjadi pengalaman yang sulit dilupakan.
Hal tersebut pun dirasakan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti sewaktu melakukan kunjungan kenegaraan ke AS. Menurut menteri nyentrik dalam kabinet kerja itu, melaksanakan puasa saat bulan Ramadan di Amerika Serikat cukup menguras energi.
Saat menggelar konferensi pers beberapa waktu lalu, Menteri Susi sedikit bercerita seputar ibadah puasa tahun ini yang kerap bolong-bolong alias kadang puasa kadang tidak. Hal ini salah satunya disebabkan karena dia harus melaksanakan kunjungan kenegaraan ke AS.
"Kalian pada puasa tidak? Kalau ibu belang bentong," tanya Susi kepada wartawan yang menghadiri konferensi pers di Gedung Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) beberapa waktu lalu.
Mantan Bos Susi Air ini menuturkan, puasa di negara seperti AS cukup berat. Setelah 19 jam, matahari baru tenggelam dan adzan maghrib baru berkumandang. Akibatnya, ia pun memilih memanfaatkan statusnya sebagai musafir dengan tidak berpuasa. "Kemarin di AS berat kalau puasa, soalnya 19 jam, matahari enggak terbenam. Saya memanfaatkan fasilitas musafir," pungkasnya.
Tentu bagi orang Indonesia membutuhkan energi ekstra untuk berpuasa di negara adidaya tersebut. Selain waktu puasa yang lebih lama, menjalani puasa sebagai minoritas dimana jumlah umat muslim yang memang menjadi minoritas di AS menjadi pengalaman yang sulit dilupakan.
Hal tersebut pun dirasakan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti sewaktu melakukan kunjungan kenegaraan ke AS. Menurut menteri nyentrik dalam kabinet kerja itu, melaksanakan puasa saat bulan Ramadan di Amerika Serikat cukup menguras energi.
Saat menggelar konferensi pers beberapa waktu lalu, Menteri Susi sedikit bercerita seputar ibadah puasa tahun ini yang kerap bolong-bolong alias kadang puasa kadang tidak. Hal ini salah satunya disebabkan karena dia harus melaksanakan kunjungan kenegaraan ke AS.
"Kalian pada puasa tidak? Kalau ibu belang bentong," tanya Susi kepada wartawan yang menghadiri konferensi pers di Gedung Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) beberapa waktu lalu.
Mantan Bos Susi Air ini menuturkan, puasa di negara seperti AS cukup berat. Setelah 19 jam, matahari baru tenggelam dan adzan maghrib baru berkumandang. Akibatnya, ia pun memilih memanfaatkan statusnya sebagai musafir dengan tidak berpuasa. "Kemarin di AS berat kalau puasa, soalnya 19 jam, matahari enggak terbenam. Saya memanfaatkan fasilitas musafir," pungkasnya.
(akr)
Lihat Juga :