Usai Menguat Tajam, Rupiah Berakhir Balik Terpuruk
Selasa, 12 September 2017 - 17:08 WIB
Usai Menguat Tajam, Rupiah Berakhir Balik Terpuruk
A
A
A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada penutupan perdagangan sore hari ini berbalik ambruk setelah kemarin sempat menguat tajam. Pelemahan mata uang garuda terjadi saat USD menguat terhadap beberapa mata uang lainnya.
Posisi rupiah menurut data Bloomberg, sore ini berada di level Rp13.200/USD melemah cukup dalam dibanding penutupan sebelumnya di level Rp13.156/USD. Rupiah sendiri berada pada kisaran level Rp13.176-Rp13.225/USD.
Data SINDOnews bersumber dari Limas, rupiah sore ini berakhir di level Rp13.230/USD atau jauh memburuk dari posisi sebelumnya yang berada di level Rp13.185/USD.
Sementara, berdasarkan data Yahoo Finance, rupiah pada sesi penutupan perdagangan hari ini juga ambles di level Rp13.190/USD dari posisi sebelumnya yang berada di level Rp13.147/USD. Rupiah bergerak pada kisaran level Rp13.156-Rp13.222/USD.
Menurut data dari kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, menunjukkan rupiah hari ini tertahan di level Rp13.186/USD. Posisi ini memperlihatkan rupiah melemah cukup dalam dari posisi sebelumnya di level Rp13.154/USD.
Seperti dilansir Reuters, Selasa (12/9/2017), USD bertahan menguat menyusul kenaikan tajam pada peningkatan sentimen risiko investor karena kekhawatiran atas Korea Utara dan Badai Irma mulai surut.
Indeks USD yang mengukur mata uangnya terhadap enam mata uang utama stabil di level 91,874, setelah tergelincir ke level terendah 2,5 tahun di posisi 91,011 pada Jumat.
Euro sedikit berubah terhadap USD ke level 1,1955 setelah semalam turun 0,7%. Euro terhadap USD berada di posisi 1,2092 pada Jumat kemarin, tertinggi sejak Januari 2015, karena USD mengalami retret yang luas.
Imbal hasil Treasury AS yang lebih tinggi juga memperkuat USD, karena imbal hasil obligasi AS naik menjadi 2,135% dari penutupannya 2,125% pada Senin, dan 2,061% pada Jumat.
"Beberapa orang mengatakan bahwa penurunan dan pemulihan USD tidak aneh, karena US yields begitu rendah," kata Masashi Murata, ahli strategi mata uang untuk Brown Brothers Harriman di Tokyo.
"Tapi pasar masih sensitif terhadap berita risiko, mungkin dari Korea Utara atau dari data ekonomi AS yang mengecewakan. Jadi itu sebabnya USD masih berjuang untuk menemukan jalannya,"
imbuhnya.
USD terhadap yen stabil di level 109,39 setelah kemarin naik 1,4% dan menjadi kenaikan terbesar dalam satu hari sejak pertengahan Januari.
Hal tersebut merosot ke level terendah dalam 10 bulan di posisi 107.320 yang terjadi pada Jumat kemarin, ketika Badai Irma mengancam Florida dan karena pasar keuangan menguat untuk kemungkinan terpengaruh uji coba rudal atau nuklir lainnya untuk menandai hari pendiri Korea Utara pada 9 September.
Yen cenderung mendapat keuntungan selama masa ketidakpastian ekonomi dan politik karena status negara kreditor bersih Jepang. Tapi ulang tahun Pyongyang berlalu tanpa tes rudal lebih lanjut, dan badai Irma kehilangan kekuatan dan levelnya diturunkan ke badai tropis setelah memukuli Florida akhir pekan lalu.
Swiss franc, yang sering dicari pada saat risk aversion global dan yen, berada di level 0.9560 per USD. Franc telah naik ke level tertinggi dua tahun di posisi 0.9421 pada Jumat kemarin. Sementara, poundsterling terhadap USD naik tipis 0,1% ke level 1,3175 setelah kemarin kehilangan 0,25%.
Sterling bernasib lebih baik terhadap euro, tertinggi satu bulan di atas 90,83 pence, dibantu oleh spekulasi bahwa Bank of England mungkin terdengar lebih hawkish pada tingkat suku bunga dalam mempertahankan mata uang pada pertemuan kebijakan pada Kamis.
Dolar Australia terhadap USD melemah 0,2% ke posisi 0,8015, memperpanjang pelemahan dari posisi puncaknya dalam dua tahun terakhir sebesar 0,8125.
Yuan China menarik lebih jauh dari level tertinggi dalam 21 bulan pada Jumat terhadap USD di level 6.5432, setelah bank sentral China pada Senin mengangkat langkah-langkah yang dilakukan untuk mendukung yuan saat terjadi tekanan.
Posisi rupiah menurut data Bloomberg, sore ini berada di level Rp13.200/USD melemah cukup dalam dibanding penutupan sebelumnya di level Rp13.156/USD. Rupiah sendiri berada pada kisaran level Rp13.176-Rp13.225/USD.
Data SINDOnews bersumber dari Limas, rupiah sore ini berakhir di level Rp13.230/USD atau jauh memburuk dari posisi sebelumnya yang berada di level Rp13.185/USD.
Sementara, berdasarkan data Yahoo Finance, rupiah pada sesi penutupan perdagangan hari ini juga ambles di level Rp13.190/USD dari posisi sebelumnya yang berada di level Rp13.147/USD. Rupiah bergerak pada kisaran level Rp13.156-Rp13.222/USD.
Menurut data dari kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, menunjukkan rupiah hari ini tertahan di level Rp13.186/USD. Posisi ini memperlihatkan rupiah melemah cukup dalam dari posisi sebelumnya di level Rp13.154/USD.
Seperti dilansir Reuters, Selasa (12/9/2017), USD bertahan menguat menyusul kenaikan tajam pada peningkatan sentimen risiko investor karena kekhawatiran atas Korea Utara dan Badai Irma mulai surut.
Indeks USD yang mengukur mata uangnya terhadap enam mata uang utama stabil di level 91,874, setelah tergelincir ke level terendah 2,5 tahun di posisi 91,011 pada Jumat.
Euro sedikit berubah terhadap USD ke level 1,1955 setelah semalam turun 0,7%. Euro terhadap USD berada di posisi 1,2092 pada Jumat kemarin, tertinggi sejak Januari 2015, karena USD mengalami retret yang luas.
Imbal hasil Treasury AS yang lebih tinggi juga memperkuat USD, karena imbal hasil obligasi AS naik menjadi 2,135% dari penutupannya 2,125% pada Senin, dan 2,061% pada Jumat.
"Beberapa orang mengatakan bahwa penurunan dan pemulihan USD tidak aneh, karena US yields begitu rendah," kata Masashi Murata, ahli strategi mata uang untuk Brown Brothers Harriman di Tokyo.
"Tapi pasar masih sensitif terhadap berita risiko, mungkin dari Korea Utara atau dari data ekonomi AS yang mengecewakan. Jadi itu sebabnya USD masih berjuang untuk menemukan jalannya,"
imbuhnya.
USD terhadap yen stabil di level 109,39 setelah kemarin naik 1,4% dan menjadi kenaikan terbesar dalam satu hari sejak pertengahan Januari.
Hal tersebut merosot ke level terendah dalam 10 bulan di posisi 107.320 yang terjadi pada Jumat kemarin, ketika Badai Irma mengancam Florida dan karena pasar keuangan menguat untuk kemungkinan terpengaruh uji coba rudal atau nuklir lainnya untuk menandai hari pendiri Korea Utara pada 9 September.
Yen cenderung mendapat keuntungan selama masa ketidakpastian ekonomi dan politik karena status negara kreditor bersih Jepang. Tapi ulang tahun Pyongyang berlalu tanpa tes rudal lebih lanjut, dan badai Irma kehilangan kekuatan dan levelnya diturunkan ke badai tropis setelah memukuli Florida akhir pekan lalu.
Swiss franc, yang sering dicari pada saat risk aversion global dan yen, berada di level 0.9560 per USD. Franc telah naik ke level tertinggi dua tahun di posisi 0.9421 pada Jumat kemarin. Sementara, poundsterling terhadap USD naik tipis 0,1% ke level 1,3175 setelah kemarin kehilangan 0,25%.
Sterling bernasib lebih baik terhadap euro, tertinggi satu bulan di atas 90,83 pence, dibantu oleh spekulasi bahwa Bank of England mungkin terdengar lebih hawkish pada tingkat suku bunga dalam mempertahankan mata uang pada pertemuan kebijakan pada Kamis.
Dolar Australia terhadap USD melemah 0,2% ke posisi 0,8015, memperpanjang pelemahan dari posisi puncaknya dalam dua tahun terakhir sebesar 0,8125.
Yuan China menarik lebih jauh dari level tertinggi dalam 21 bulan pada Jumat terhadap USD di level 6.5432, setelah bank sentral China pada Senin mengangkat langkah-langkah yang dilakukan untuk mendukung yuan saat terjadi tekanan.
(izz)