Energi Fosil Kritis, Alumni Teknik Mesin ITB 87 Bahas EBT

Kamis, 28 September 2017 - 12:26 WIB
Energi Fosil Kritis,...
Energi Fosil Kritis, Alumni Teknik Mesin ITB 87 Bahas EBT
A A A
JAKARTA - Energi fosil hingga kini masih menjadi energi utama yang dipakai manusia. Sayang, energi fosil dalam beberapa tahun ke depan dipastikan bakal habis. Perlu upaya nyata dari semua pihak memikirkan energi baru terbarukan (EBT).

Tema tersebut menjadi bahasan dalam focus group discussion (FGD) yang digelar Alumni Teknik Mesin ITB angkatan 87 di Aula Timur ITB, Bandung, Jawa Barat, Kamis (28/9/2017).

Hadir pada FGD itu Rektor ITB Kadarsah Suryadi, serta pembicara lainnya dari Puslitbangtek Ketenagalistrikan dan EBTKE ESDM Mohamad Irsan, Ketua Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) Surya Darma, perwakilan dari PT Arya Watala Kapital Mada Ayu Habsari, dan perwkailan PT LEN.

Ketua Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) Surya Darma mengatakan, kedaulatan energi yang saat ini sedang digalakan akan sulit tercapai bila Indonesia masih tergantung pada energi fosil. Energi tersebut tersedia dalam jumlah terbatas.

"Pada tahun 70-an, kita sudah memprediksi Indonesia akan net impor minyak pada 2004. Ternyata pada 2006 sudah terjadi. Itu sudah diperkirakan sebelumnya," katanya.

Energy fosil di Indonesia juga dalam posisi kritis untuk gas dan batu-bara dalam beberapa tahun ke depan.

"Pada 2037 kita akan jadi net importir untuk gas. Begitupun batu bara. Batu bara kita akan habis atau net importir pada 2046. Sekarang eksplorasi batu bara sedang dilakukan habis-habisan. Ini yang harus dicarikan solusinya," kata Surya.

Sementara itu, Rektor ITB Kadarsah Suryadi mengatakan, pihaknya bersyukur alumni ITB tidak lupa akan almamaternya. Apalagi yang dibahas adalah EBT yang merupakan energi masa depan.

"Ke depan, negera yang kaya adalah bukan karena migasnya, tapi adalah negara yang memiliki air. Kita sumber daya air 70%. Kami berharap Indonesia akan menjadi negara kaya," katanya.

Menurut Kadarsyah, perkembangan ekonomi suatu kawasan tak bisa dilepaskan dari kemajuan industri di kawasan itu. Namun agar industri maju, harus ada penguasaan energi, semua saling berkaitan.
(dmd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Manfaatkan Energi Matahari,...
Manfaatkan Energi Matahari, Pulau Medang Dialiri Jaringan Listrik
Tingkatkan Wawasan Energi...
Tingkatkan Wawasan Energi Terbarukan, FBCC Digelar
Gerakan Energi Terbarukan...
Gerakan Energi Terbarukan di Jateng Harus Jadi Percontohan Nasional
2 Fasiltas Listrik Otomatis...
2 Fasiltas Listrik Otomatis Schneider Indonesia Dikunjungi Gwenaelle
Ganjar Dorong Perkantoran...
Ganjar Dorong Perkantoran di Jateng Gunakan Energi Alternatif
SBI Manfaatkan RDF Jadi...
SBI Manfaatkan RDF Jadi Energi Alternatif Pengganti Batu Bara
Berita Terkini
Obat Generik Bebas Tarif...
Obat Generik Bebas Tarif 2 Tahun, Lalu Melonjak Jadi 200%
1 jam yang lalu
Jasaraharja Putera Raih...
Jasaraharja Putera Raih Pertumbuhan Berkelanjutan dan RBC Capai 371,90%
2 jam yang lalu
Pelabuhan Patimban Resmi...
Pelabuhan Patimban Resmi Layani Impor Perdana, Komponen Mobil Listrik BYD Lanjut ke Pabrik Subang
3 jam yang lalu
Kinerja Positif 2025,...
Kinerja Positif 2025, Jasa Raharja Catatkan Laba Bersih Rp2,30 Triliun
3 jam yang lalu
Harga Emas Hari Ini...
Harga Emas Hari Ini Berbalik Merayap Naik Rp3 Ribu per Gram, Intip Rincian Lengkapnya
4 jam yang lalu
DJP Gandeng Babinsa...
DJP Gandeng Babinsa dan Bhabinkamtibmas Awasi Pajak: Hanya Pendamping, Tak Perlu Khawatir
5 jam yang lalu
Infografis
10 Fakta Konflik AS...
10 Fakta Konflik AS - Venezuela: Perebutan Pengaruh dan Energi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved