Harga Minyak Meroket Terimbas Pasukan Irak Rebut Kota Kirkuk
Selasa, 17 Oktober 2017 - 08:48 WIB
Harga Minyak Meroket Terimbas Pasukan Irak Rebut Kota Kirkuk
A
A
A
NEW YORK - Harga minyak dunia naik 1% saat pasukan Irak memasuki kota kaya minyak Kirkuk, merebut wilayah dari pejuang Kurdi dan secara singkat memotong beberapa produksi minyak mentah dari produsen terbesar kedua OPEC.
"Kami melihat ketegangan geopolitik yang meningkat di Timur Tengah memberikan dukungan di pasar saat ini, yaitu di Kurdistan Irak, dan beberapa ketidakpastian di sekitar Iran," kata Anthony Headrick, analis pasar energi di CHS Hedging LLC di Inver Grove Heights seperti dikutip dari Reuters, Selasa (17/10/2017).
Kurdistan Irak secara singkat menutup produksi 350.000 barel per hari (bpd) dari ladang minyak utama Bai Hassan dan Avana, karena masalah keamanan. Irak melancarkan operasi pada Minggu saat krisis antara Baghdad dan Pemerintah Daerah Kurdi (KRG) meningkat. KRG memilih untuk merdeka dalam referendum 25 September.
Harga minyak mentah brent naik 65 sen atau 1,1% ke level USD57,82 per barel. Sementara harga minyak mentah AS berakhir 42 sen atau naik 0,8% lebih tinggi ke level USD51,87 per barel.
Pemerintah mengatakan pasukannya telah menguasai North Oil Co Irak dan ladang minyak dengan cepat melanjutkan produksi. Pemerintah KRG mengatakan bahwa minyak terus mengalir melalui jalur ekspor, dan tidak akan ada langkah untuk menghentikannya.
Meski demikian, aksi tersebut membuat pasar semakin gelisah. Sekitar 600.000 bpd minyak diproduksi di wilayah tersebut, dan Turki mengancam akan menutup jalur yang dioperasikan KRG atas permintaan Baghdad.
"Kontrol pemerintah terhadap ladang minyak dan kontrol Kurdi terhadap pipa menciptakan tantangan bagi kelanjutan ekspor minyak. Baghdad masih memerlukan kesepakatan pembagian pendapatan baru dengan Irbil dan berbagai partai Kurdi," tulis Grup Eurasia dalam sebuah catatannya.
Ada juga kekhawatiran baru mengenai sanksi AS terhadap Iran. Presiden AS Donald Trump pada Jumat kemarin menolak untuk menyatakan bahwa Teheran mematuhi kesepakatan tersebut meskipun inspektur internasional mengatakan demikian.
Kongres sekarang memiliki waktu 60 hari untuk memutuskan apakah akan mengajukan sanksi ekonomi kepada Teheran lagi. Selama putaran sebelumnya, kira-kira 1 juta barel minyak Iran terputus. Analis mengatakan bawha sanksi baru tidak mungkin mengurangi tingkat ekspor, namun memperingatkan masih bisa mengganggu.
Potongan ke rig pengeboran AS dan sebuah ledakan semalam di sebuah rig minyak di Danau Pontchartrain di Louisiana, juga mendukung pasar.
Konsumsi minyak telah kuat, terutama di China, di mana gubernur bank sentral mengatakan ekonomi diperkirakan akan tumbuh 7% di semester kedua, menentang ekspektasi yang meluas yang diprediksi melambat.
"Data impor China yang mendukung pada Jumat menghasilkan percikan di pasar energi yang berlanjut sampai hari ini," kata Headburn CHS Hedging.
Sumber mengatakan, China menawarkan untuk membeli hingga 5% dari Saudi Aramco secara langsung, sebuah langkah yang dapat memberi fleksibilitas kepada Arab Saudi karena berencana untuk mengapalkan produsen minyak terbesar di dunia ke pasar saham.
"Kami melihat ketegangan geopolitik yang meningkat di Timur Tengah memberikan dukungan di pasar saat ini, yaitu di Kurdistan Irak, dan beberapa ketidakpastian di sekitar Iran," kata Anthony Headrick, analis pasar energi di CHS Hedging LLC di Inver Grove Heights seperti dikutip dari Reuters, Selasa (17/10/2017).
Kurdistan Irak secara singkat menutup produksi 350.000 barel per hari (bpd) dari ladang minyak utama Bai Hassan dan Avana, karena masalah keamanan. Irak melancarkan operasi pada Minggu saat krisis antara Baghdad dan Pemerintah Daerah Kurdi (KRG) meningkat. KRG memilih untuk merdeka dalam referendum 25 September.
Harga minyak mentah brent naik 65 sen atau 1,1% ke level USD57,82 per barel. Sementara harga minyak mentah AS berakhir 42 sen atau naik 0,8% lebih tinggi ke level USD51,87 per barel.
Pemerintah mengatakan pasukannya telah menguasai North Oil Co Irak dan ladang minyak dengan cepat melanjutkan produksi. Pemerintah KRG mengatakan bahwa minyak terus mengalir melalui jalur ekspor, dan tidak akan ada langkah untuk menghentikannya.
Meski demikian, aksi tersebut membuat pasar semakin gelisah. Sekitar 600.000 bpd minyak diproduksi di wilayah tersebut, dan Turki mengancam akan menutup jalur yang dioperasikan KRG atas permintaan Baghdad.
"Kontrol pemerintah terhadap ladang minyak dan kontrol Kurdi terhadap pipa menciptakan tantangan bagi kelanjutan ekspor minyak. Baghdad masih memerlukan kesepakatan pembagian pendapatan baru dengan Irbil dan berbagai partai Kurdi," tulis Grup Eurasia dalam sebuah catatannya.
Ada juga kekhawatiran baru mengenai sanksi AS terhadap Iran. Presiden AS Donald Trump pada Jumat kemarin menolak untuk menyatakan bahwa Teheran mematuhi kesepakatan tersebut meskipun inspektur internasional mengatakan demikian.
Kongres sekarang memiliki waktu 60 hari untuk memutuskan apakah akan mengajukan sanksi ekonomi kepada Teheran lagi. Selama putaran sebelumnya, kira-kira 1 juta barel minyak Iran terputus. Analis mengatakan bawha sanksi baru tidak mungkin mengurangi tingkat ekspor, namun memperingatkan masih bisa mengganggu.
Potongan ke rig pengeboran AS dan sebuah ledakan semalam di sebuah rig minyak di Danau Pontchartrain di Louisiana, juga mendukung pasar.
Konsumsi minyak telah kuat, terutama di China, di mana gubernur bank sentral mengatakan ekonomi diperkirakan akan tumbuh 7% di semester kedua, menentang ekspektasi yang meluas yang diprediksi melambat.
"Data impor China yang mendukung pada Jumat menghasilkan percikan di pasar energi yang berlanjut sampai hari ini," kata Headburn CHS Hedging.
Sumber mengatakan, China menawarkan untuk membeli hingga 5% dari Saudi Aramco secara langsung, sebuah langkah yang dapat memberi fleksibilitas kepada Arab Saudi karena berencana untuk mengapalkan produsen minyak terbesar di dunia ke pasar saham.
(izz)
Lihat Juga :