Harga Minyak Kalah Selama Tujuh Hari Beruntun
Sabtu, 10 Februari 2018 - 11:37 WIB
Harga Minyak Kalah Selama Tujuh Hari Beruntun
A
A
A
SINGAPURA - Harga minyak dunia mengalami kekalahan selama tujuh hari beruntun, dengan harga minyak mentah Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI) hampir turun di bawah USD58 per barel. WTI terpukul oleh kenaikan produksi minyak AS, dolar yang menguat, serta aksi jual aset keuangan yang menguntungkan di pasar.
Melansir dari CNBC, Sabtu (10/2/2018), harga minyak WTI turun menjadi USD58,07 per barel. Dan pada kemarin, WTI turun USD1,95 atau 3,2% menjadi USD59,20 per barel. Ini kinerja mingguan terburuk dalam dua tahun.
Sementara itu, harga minyak Brent International turun USD1,66 atau 2,6% menjadi USD63,15 per barel, setelah mencapai titik terendah sembilan pekan di level USD61,77 pada pukul 02:28 ET.
Untuk pekan ini, harga minyak WTI turun 9,6% dan harga Brent turun sekitar 8%. Terpukulnya harga WTI setelah Baker Hughes melaporkan jumlah rig minyak AS meningkat sebesar 26 rig menjadi 791, jumlah tertinggi sejak April 2015.
Kerugian pekan ini ditambah setelah data pemerintah menunjukkan produksi mingguan minyak AS melonjak mencapai rekor, yaitu 10,25 juta barel per hari. Alhasil pasokan minyak AS naik berturut-turut selama dua pekan.
Analis dari Energy Again Capital, John Kilduff mengatakan dengan produksi minyak Amerika meningkat, bisa menimbulkan pecah kongsi alias tekanan terhadap pembatasan produksi yang dilakukan OPEC dan Rusia selama ini.
Kekhawatiran ini bukan tanpa sebab. Bos perusahaan energi Rusia, Gazprom yaitu Alexander Dyukov mengatakan sudah saatnya produsen minyak untuk meningkatkan produksi, karena kondisi pasar sekarang sudah seimbang setelah bertahun-tahun kelebihan pasokan.
Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur greenback terhadap enam mata uang saingan utama, bertahan di atas level 90. Hal ini memberi tekanan kepada harga komoditas. Harga dolar yang lebih kuat membuat lebih mahal bagi pemegang mata uang lain untuk membeli komoditas berdenominasi dolar seperti minyak.
Melansir dari CNBC, Sabtu (10/2/2018), harga minyak WTI turun menjadi USD58,07 per barel. Dan pada kemarin, WTI turun USD1,95 atau 3,2% menjadi USD59,20 per barel. Ini kinerja mingguan terburuk dalam dua tahun.
Sementara itu, harga minyak Brent International turun USD1,66 atau 2,6% menjadi USD63,15 per barel, setelah mencapai titik terendah sembilan pekan di level USD61,77 pada pukul 02:28 ET.
Untuk pekan ini, harga minyak WTI turun 9,6% dan harga Brent turun sekitar 8%. Terpukulnya harga WTI setelah Baker Hughes melaporkan jumlah rig minyak AS meningkat sebesar 26 rig menjadi 791, jumlah tertinggi sejak April 2015.
Kerugian pekan ini ditambah setelah data pemerintah menunjukkan produksi mingguan minyak AS melonjak mencapai rekor, yaitu 10,25 juta barel per hari. Alhasil pasokan minyak AS naik berturut-turut selama dua pekan.
Analis dari Energy Again Capital, John Kilduff mengatakan dengan produksi minyak Amerika meningkat, bisa menimbulkan pecah kongsi alias tekanan terhadap pembatasan produksi yang dilakukan OPEC dan Rusia selama ini.
Kekhawatiran ini bukan tanpa sebab. Bos perusahaan energi Rusia, Gazprom yaitu Alexander Dyukov mengatakan sudah saatnya produsen minyak untuk meningkatkan produksi, karena kondisi pasar sekarang sudah seimbang setelah bertahun-tahun kelebihan pasokan.
Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur greenback terhadap enam mata uang saingan utama, bertahan di atas level 90. Hal ini memberi tekanan kepada harga komoditas. Harga dolar yang lebih kuat membuat lebih mahal bagi pemegang mata uang lain untuk membeli komoditas berdenominasi dolar seperti minyak.
(ven)
Lihat Juga :