Harga Minyak Melambung Merespons Kenaikan Wall Street
Sabtu, 10 Maret 2018 - 13:14 WIB
Harga Minyak Melambung Merespons Kenaikan Wall Street
A
A
A
NEW YORK - Harga minyak mentah melambung merespons dari kenaikan pasar saham Amerika Serikat alias Wall Street, seiring kuatnya data pekerjaan AS dan rencana pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, yang dapat mengurangi tensi geopolitik.
Mengutip Reuters, Sabtu (10/3/2018), harga minyak mentah Brent naik USD1,54 atau 2,4% menjadi USD65,15 per barel. Dan harga minyak mentah AS, West Texas Intermediate menguat USD1,92 alias 3,2% menjadi USD62,04 per barel.
Wall Street melonjak setelah data tenaga kerja AS bulan Februari meningkat 313.000 pekerjaan. Adapun terkait geopolitik, pertemuan Trump dan Jong Un menandai terobosan atas kebuntuan soal senjata nuklir Korut. Jong Un telah berkomitmen untuk melakukan denuklirisasi.
"Laporan pekerjaan ini menyiratkan kondisi ekonomi dan pertumbuhan yang kuat, mencakup meningkatnya permintaan akan energi," ujar John Kilduff, partner manajer investasi Again Capital di New York.
Sedangkan ekonom Rittersbusch & Associates, Jim Rittersbusch menilai untuk saat ini terjadi hubungan kuat antara kondisi makroekonomi dengan minyak, yang diperkirakan terus berlanjut.
Kondisi ini pula membuat Badan Informasi Energi (EIA) memperkirakan, produksi mingguan minyak AS akan meningkat lagi, bahkan mencatat rekor demi mengimbangi permintaan pasar karena OPEC dan Rusia memangkas produksi minyaknya.
EIA memperkirakan produksi minyak mentah AS pada kuartal IV tahun 2018 mencapai rata-rata 11,17 juta barel per hari (bph), naik dari perkiraan sebelumnya sebesar 11,04 juta bph. Ini akan membuat Amerika menjadi produsen minyak terbesar di dunia, yang saat ini dipegang oleh Rusia.
Mengutip Reuters, Sabtu (10/3/2018), harga minyak mentah Brent naik USD1,54 atau 2,4% menjadi USD65,15 per barel. Dan harga minyak mentah AS, West Texas Intermediate menguat USD1,92 alias 3,2% menjadi USD62,04 per barel.
Wall Street melonjak setelah data tenaga kerja AS bulan Februari meningkat 313.000 pekerjaan. Adapun terkait geopolitik, pertemuan Trump dan Jong Un menandai terobosan atas kebuntuan soal senjata nuklir Korut. Jong Un telah berkomitmen untuk melakukan denuklirisasi.
"Laporan pekerjaan ini menyiratkan kondisi ekonomi dan pertumbuhan yang kuat, mencakup meningkatnya permintaan akan energi," ujar John Kilduff, partner manajer investasi Again Capital di New York.
Sedangkan ekonom Rittersbusch & Associates, Jim Rittersbusch menilai untuk saat ini terjadi hubungan kuat antara kondisi makroekonomi dengan minyak, yang diperkirakan terus berlanjut.
Kondisi ini pula membuat Badan Informasi Energi (EIA) memperkirakan, produksi mingguan minyak AS akan meningkat lagi, bahkan mencatat rekor demi mengimbangi permintaan pasar karena OPEC dan Rusia memangkas produksi minyaknya.
EIA memperkirakan produksi minyak mentah AS pada kuartal IV tahun 2018 mencapai rata-rata 11,17 juta barel per hari (bph), naik dari perkiraan sebelumnya sebesar 11,04 juta bph. Ini akan membuat Amerika menjadi produsen minyak terbesar di dunia, yang saat ini dipegang oleh Rusia.
(ven)
Lihat Juga :