Defisit Neraca Transaksi Berjalan Bikin Rupiah Makin Tenggelam

Senin, 13 Agustus 2018 - 13:40 WIB
Defisit Neraca Transaksi...
Defisit Neraca Transaksi Berjalan Bikin Rupiah Makin Tenggelam
A A A
JAKARTA - Seiring dengan defisit neraca transaksi berjalan pada triwulan II 2018 yang mengalami kenaikan, dinilai ekonom menjadi salah satu penyebab untuk menyeret rupiah jatuh semakin dalam. Bahkan pada perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) anjlok hingga menyentuh posisi Rp14.616/USD atau lebih parah dari posisi akhir pekan lalu di level Rp14.480/USD.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira mengatakan anjloknya rupiah juga disebakan oleh faktor internal yakni defisit transaksi berjalan yang menembus 3% (PDB) dan tercatat tercatat USD8,0 miliar. Hal itu menjadi sentimen negatif hingga membuat investor khawatir dan di luar ekspektasi sebelumnya.

"Dari dalam negeri sentimen investor lebih dipengaruhi rilis data defisit transaksi berjalan yang menembus 3% terhadap PDB di Q2 2018. Defisit transaksi berjalan berpotensi melebar di kuartal 3 dan 4 akibat naiknya biaya kebutuhan impor. Pembayaran utang jatuh tempo dan realisasi proyek infrastruktur yang menyedot bahan baku impor," ujar Bhima saat dihubungi SINDOnews di Jakarta, Senin (13/8/2018).

Lebih lanjut Ia menerangkan, langkah Bank (BI) yang tetap mempertahkan suku bunga acuan alias BI-7days repo rate belum memberikan ekspetasi baik terhadap pasar dan investor. "Respons BI dalam menghadapi pelemahan rupiah juga masih andalkan cadev. Jadi hasil RDG BI pertahankan 7days repo di level 5,25% tidak ada surprise dari BI sehingga ekspektasi pasar cenderung menahan diri," paparnya.

Selain itu, terang dia faktor lainnya datang dari tekanan global berasal sejalan kekhawatiran krisis Turki dengan anjloknya Lira 40% ini mempengaruhi mata uang garuda terhadap dolar. Serta sanksi Amerika Serikat kepada Indonesia membuat beberapa investor memborong dolar.

"Krisis Turki diprediksi akan menyebabkan spillover effect ke Eropa dan negara berkembang lainnya. Kondisi ini diperparah oleh sanksi dari AS berupa kenaikan bea masuk alumnium asal Turki. Dampaknya aset emerging market agak dihindari. Investor global memborong dolar dan Treasury bond. US dolar index naik menjadi 96,4," terang dia.

Sebagai informasi ketika peningkatan aktivitas ekonomi domestik, defisit neraca transaksi berjalan pada triwulan II 2018 mengalami kenaikan. Defisit transaksi berjalan pada triwulan II 2018 tercatat USD8,0 miliar (3,0% PDB), lebih tinggi dibandingkan defisit triwulan sebelumnya sebesar USD5,7 miliar (2,2% PDB).

Sampai dengan semester I 2018, defisit transaksi berjalan diklaim BI masih berada dalam batas yang aman, yaitu 2,6% PDB. Peningkatan defisit transaksi berjalan dipengaruhi penurunan surplus neraca perdagangan nonmigas di tengah kenaikan defisit neraca perdagangan migas.

Penurunan surplus neraca perdagangan nonmigas terutama disebabkan naiknya impor bahan baku dan barang modal, sebagai dampak dari kegiatan produksi dan investasi yang terus meningkat di tengah ekspor nonmigas yang turun.

Peningkatan defisit neraca perdagangan migas dipengaruhi naiknya impor migas seiring kenaikan harga minyak global dan permintaan yang lebih tinggi saat lebaran dan libur sekolah. Pada triwulan II 2018, sesuai dengan pola musimannya, terjadi peningkatan pembayaran dividen sehingga turut meningkatkan defisit neraca pendapatan primer.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Kurs Rupiah Berpotensi...
Kurs Rupiah Berpotensi Menanjak Saat Pemulihan Ekonomi AS Diragukan
Rupiah Amblas Saat Ekonomi...
Rupiah Amblas Saat Ekonomi Negeri Paman Sam Pulih
Nilai Tukar Rupiah Melemah
Nilai Tukar Rupiah Melemah
BI Pangkas Suku Bunga,...
BI Pangkas Suku Bunga, Rupiah Stagnan di Rp15.335 per Dolar AS
Wapres Maruf soal Nilai...
Wapres Ma'ruf soal Nilai Tukar Rupiah terhadap Dollar Melemah: Intervensi Terus Dilakukan
Pelemahan Rupiah Dinilai...
Pelemahan Rupiah Dinilai Bukan Pertanda Krisis, Tapi Restrukturisasi Ekonomi
Berita Terkini
IHSG Makin Parah, Hari...
IHSG Makin Parah, Hari Ini Ditutup Ambles 4,20 Persen ke 5.594
30 menit yang lalu
AHY Jadi Ketua Komite...
AHY Jadi Ketua Komite Kereta Cepat Jakarta-Bandung Geser Luhut, Perpres Baru Diteken Prabowo
40 menit yang lalu
APHI dan New Forests...
APHI dan New Forests Dukung Investasi Pengelolaan Hutan Berkelanjutan
56 menit yang lalu
Rupiah Hari Ini Berakhir...
Rupiah Hari Ini Berakhir Merayap ke Rp18.036 per Dolar AS, Berikut Sebabnya
57 menit yang lalu
5 Hal Yang Wajib Anda...
5 Hal Yang Wajib Anda Ketahui Sebelum Datang ke Tempat Gestun Terdekat
1 jam yang lalu
Defisit APBN Mei 2026...
Defisit APBN Mei 2026 Tembus Rp180,4 Triliun, Purbaya: Sangat Aman
1 jam yang lalu
Infografis
Perkembangan Tentara...
Perkembangan Tentara Robotik China Bikin Para Ahli Khawatir
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved