RI Harus Batasi Kebijakan yang Langgar Perjanjian Internasional
Selasa, 18 September 2018 - 13:15 WIB
RI Harus Batasi Kebijakan yang Langgar Perjanjian Internasional
A
A
A
JAKARTA - Pemerintah dalam hal ini Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyatakan bahwa Indonesia bisa belajar dari perang dagang (trade war) yang terjadi antara Amerika Serikat (AS) dan China.
Pasalnya, perang dagang yang terjadi antara kedua negara tersebut terjadi karena Negeri Paman Sam yang merasa dicurangi oleh China.
Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Kemendag Iman Pambagyo mengatakan, tindakan yang diambil Presiden AS Donald Trump untuk berperang dalam sektor perdagangan dengan AS disebabkan karena perkembangan produk baja dan aluminium China yang sangat pesat.
Perkembangan komoditas baja dan aluminium Negeri Tirai Bambu yang pesat tesebut ditengarai karena pemerintahnya menyokong industri baja dan aluminiumnya. Hal tersebutlah yang membuat AS geram.
"Kenapa AS mengambil tindakan seperti itu ke China yang kemudian dibalas China, itu karena AS merasa China itu curang. Dalam forum WTO itu digunakan kesempatan AS untuk menunjukkan betapa curangnya China," katanya dalam Workshop Perang Dagang AS dengan RRT di Gedung Kemendag, Jakarta, Selasa (18/9/2018).
Berkaca dari kejadian tersebut, kata Iman, Indonesia dirasa perlu untuk mencegah dan meminimalkan kebijakan yang berpotensi melanggar komitmen internasional Indonesia dengan negara lain. Hal ini baik perjanjian bilateral maupun multilateral.
"Jadi kita harus mengurangi alasan negara lain untuk menerapkan trade measures untuk Indonesia.
Untuk itu Indonesia perlu meminimalkan kebijakan yang berpotensi melanggar komitmen internasional Indonesia baik di WTO atau di FTA," pungkasnya.
Pasalnya, perang dagang yang terjadi antara kedua negara tersebut terjadi karena Negeri Paman Sam yang merasa dicurangi oleh China.
Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Kemendag Iman Pambagyo mengatakan, tindakan yang diambil Presiden AS Donald Trump untuk berperang dalam sektor perdagangan dengan AS disebabkan karena perkembangan produk baja dan aluminium China yang sangat pesat.
Perkembangan komoditas baja dan aluminium Negeri Tirai Bambu yang pesat tesebut ditengarai karena pemerintahnya menyokong industri baja dan aluminiumnya. Hal tersebutlah yang membuat AS geram.
"Kenapa AS mengambil tindakan seperti itu ke China yang kemudian dibalas China, itu karena AS merasa China itu curang. Dalam forum WTO itu digunakan kesempatan AS untuk menunjukkan betapa curangnya China," katanya dalam Workshop Perang Dagang AS dengan RRT di Gedung Kemendag, Jakarta, Selasa (18/9/2018).
Berkaca dari kejadian tersebut, kata Iman, Indonesia dirasa perlu untuk mencegah dan meminimalkan kebijakan yang berpotensi melanggar komitmen internasional Indonesia dengan negara lain. Hal ini baik perjanjian bilateral maupun multilateral.
"Jadi kita harus mengurangi alasan negara lain untuk menerapkan trade measures untuk Indonesia.
Untuk itu Indonesia perlu meminimalkan kebijakan yang berpotensi melanggar komitmen internasional Indonesia baik di WTO atau di FTA," pungkasnya.
(fjo)
Lihat Juga :