Bekraf Proyeksikan PDB Ekraf Capai Rp1.200 Triliun di 2019

Rabu, 17 Oktober 2018 - 21:33 WIB
Bekraf Proyeksikan PDB...
Bekraf Proyeksikan PDB Ekraf Capai Rp1.200 Triliun di 2019
A A A
JAKARTA - Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) optimistis sektor ekonomi kreatif (ekraf) akan terus tumbuh signifikan kedepannya. Kontribusi aktivitas bisnis sektor ekraf terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun depan dibidik senilai Rp 1.200 triliun dari PDB nasional.

Kepala Bekraf Triawan Munaf mengatakan pertumbuhan nilai PDB ekonomi kreatif saat ini lebih pesat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Berdasarkan outlook ekonomi kreatif 2019, nilai PDB pada 2015 dan 2016 mencapai masing-masing Rp852 triliun dan Rp922,56 triliun. Sementara itu, pada 2017, 2018, dan 2019 nilai PDB diprediksikan masing-masing Rp1.009 triliun, Rp1.105 triliun dan Rp1.211 triliun.

"Tahun lalu diprediksi hampir mencapai Rp1.000 triliun, tetapi setelah dihitung ternyata lebih dari ekspektasi. Nilai PDB ekraf diproyeksi akan lebih dari Rp1.200 triliun," kata Triawan usai meluncurkan ‘Opus 2019’ yang berisi pencapaian lembaga tersebut dan perkembangan ekonomi kreatif di Indonesia, Rabu (17/10/2018).

Dia menjelaskan, sub sektor yang menjadi pendukung terbesar diperkirakan masih fashion, kriya, dan kuliner. Ketiga usaha subsektor ini menguasai 97% dari total usaha yang mencapai 8,2 juta unit. Selain itu, subsektor ini juga menjadi andalan ekspor ekonomi kreatif yang nilainya pada 2016 lalu mencapai USD 19,98 miliar.

Meski masih tergolong kecil, subsektor lain seperti film, musik dan games (animasi) juga menunjukkan pertumbuhan sangat signifikan. Adapun pertumbuhan film animasi dan video mencapai 10,90%, musik mencapai 7,59%, aplikasi dan pengembangan games mencapai 8,06%.

Wakil Kepala Bekraf Ricky Pesik mengatakan dalam buku ini, dijabarkan bagaimana perkembangan 16 subsektor ekonomi kreatif yang berada dalam naungan Bekraf dan bagaimana proyeksi di sektor tersebut pada tahun mendatang.

"Opus diharapkan bisa jadi pedoman untuk pemerintah dan bagi pelaku ekonomi kreatif untuk mengembangkan karya dan bisnis mereka," kata Ricky.

Dia juga mengatakan pemerintah akan melakukan dua cara agar ekonomi kreatif mampu menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia. Pertama, adanya regulasi yang jelas.

Saat ini, Bekraf tengah mengatur regulasi misalnya hak kekayaan intelektual untuk musik. "Kita ingin pelaku industri diatur dalam regulasi yang jelas sehingga tercipta pasar yang kompetitif dan menjadi bergairah," katanya.

Meski demikian semua rencana tersebut akan butuh dukungan dari kementerian dan lembaga terkait agar regulasi dapat berjalan. Dalam menciptakan ekosistem industri yang sehat, Bekraf tidak bisa berjalan sendiri.

Selain itu, pemerintah juga harus terus memberikan kepada pelaku industri untuk dapat menembus pasar global. Dukungan tidak hanya dalam bantuan bantuan dana, tetapi menciptakan iklim yang sehat melalui program dan kegiatan yang meningkatkan kemampuan para pelaku industri.

"Pemerintah sebagai regulator harus sensitif dan antisipatif terhadap perkembangan industri ini. Kita akan terus berusaha menciptakan ekosistem yang lebih matang, terutama pada subsektor musik, film dan games. Nanti akan kita jalankan beberapa kebijakan, apakah itu big data atau undang-undang," lanjutnya.

Dengan upaya itu, dia juga berharap kedepannya Indonesia dapat mengandalkan kekayaan sumber daya manusia, sehingga tidak lagi bergantung pada sumber daya alam. Indonesia juga harus bersaing dan bersuara dalam industri ekonomi kreatif dengan negara-negara lain di dunia. "Ini sudah dilakukan oleh negara maju. Kita punya potensi untuk itu karena negara ini memiliki budaya yang beragam," ujarnya.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Pelaku Industri Kreatif...
Pelaku Industri Kreatif Dapat Insentif dari Pemerintah
Jangan Sedih, Ini Cara...
Jangan Sedih, Ini Cara Buat Pelaku Ekonomi Kreatif Naikkan Omset Penjualan
Kampanye Nasional, #SribuinAja
Kampanye Nasional, #SribuinAja
Peruri bersama Kementerian...
Peruri bersama Kementerian Ekonomi Kreatif Perkuat Ekosistem Ekonomi Kreatif Nasional
Polapadu 2025: Karya,...
Polapadu 2025: Karya, Kolaborasi, dan Kreasi Mahasiswa DKV New Media BINUS University Hadirkan Spektrum Baru Industri Kreatif
Perkuat Sektor Ekonomi...
Perkuat Sektor Ekonomi Kreatif
Berita Terkini
Harga Emas Dunia Mendadak...
Harga Emas Dunia Mendadak Ambles Hari Ini! Investor Ramai-ramai Putar Haluan
32 menit yang lalu
1.500 Buruh Bakal Geruduk...
1.500 Buruh Bakal Geruduk Kemenkeu Desak Penghapusan Pajak JHT, Ini 4 Tuntutan Utama
1 jam yang lalu
SYAFIF 2026 di Banjarmasin,...
SYAFIF 2026 di Banjarmasin, Prudential Syariah Gencarkan Literasi Keuangan
1 jam yang lalu
Pasar Mulai Cemas, Mata...
Pasar Mulai Cemas, Mata Uang Rupee India Kehabisan Napas justru Saat Dolar AS Lemah
2 jam yang lalu
Cadangan Devisa Indonesia...
Cadangan Devisa Indonesia per Juni 2026 Naik jadi USD145,6 Miliar
2 jam yang lalu
Istana Sebut Tarif Listrik...
Istana Sebut Tarif Listrik Harusnya Naik, tapi Daya Beli Jadi Prioritas
3 jam yang lalu
Infografis
20 Universitas Terbaik...
20 Universitas Terbaik di Indonesia Versi QS WUR 2027
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved