Harga Minyak Dunia Merosot Hampir 8%, Meski OPEC Akan Pangkas Produksi
Sabtu, 24 November 2018 - 09:09 WIB
Harga Minyak Dunia Merosot Hampir 8%, Meski OPEC Akan Pangkas Produksi
A
A
A
BOSTON - Harga minyak mentah dunia merosot hingga hampir 8% ke level terendah dalam lebih dari setahun pada sesi penutupan terakhir pekan ini. Hal ini sekaligus membukukan kerugian mingguan ketujuh berturut-turut, di tengah kekhawatiran melimpahnya pasokan bahkan ketika produsen utama mempertimbangkan pemotongan produksi.
Seperti dilansir Reuters, hari ini pasokan minyak yang dipimpin oleh produsen AS, tumbuh lebih cepat daripada permintaan dan untuk mencegah penumpukan bahan bakar yang tidak digunakan seperti yang muncul pada tahun 2015. Maka Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Dunia (OPEC) diperkirakan akan mulai memangkas output setelah pertemuan pada 6 Desember, mendatang.
Akan tetapi pembahasan pengurangan produksi sejauh ini belum mampu menopang harga, yang telah mengalami penyusutan lebih dari 20% sejauh ini pada bulan November atau selama tujuh minggu beruntun mengalami kerugian. Harga minyak mentah dunia juga berada dalam jalur kejatuhan terbesar dalam satu bulan sejak akhir 2014, lalu. Seperti diketahui perang dagang antara dua ekonomi dan konsumen minyak terbesar dunia, Amerika Serikat dan China telah membebani pasar.
Tercatat harga minyak mentah berjangka Brent yang menjadi patokan Internasional jatuh USD3,80 per barel atau 6,1% menjadi USD58,80/barel. Selama sesi tersebut, patokan minyak dunia sempat menyentuh level USD58,41 per barel atau menjadi yang terendah sejak Oktober 2017. Sedangkan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun USD4,21 setara 7,7% hingga diperdagangkan pada level USD50,42 per barel.
Raihan itu juga menjadi yang terlemah sejak Oktober 2017, dimana diyakini masih akan terus turun. "Pasar sedang menetapkan harga dalam perlambatan ekonomi - mereka mengantisipasi bahwa pembicaraan perdagangan China tidak akan berjalan dengan baik," kata Phil Flynn, seorang analis di Price Futures Group di Chicago, mengacu pada pembicaraan yang diharapkan terjadi pada minggu depan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pada KTT G20 di Buenos Aires.
Seperti dilansir Reuters, hari ini pasokan minyak yang dipimpin oleh produsen AS, tumbuh lebih cepat daripada permintaan dan untuk mencegah penumpukan bahan bakar yang tidak digunakan seperti yang muncul pada tahun 2015. Maka Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Dunia (OPEC) diperkirakan akan mulai memangkas output setelah pertemuan pada 6 Desember, mendatang.
Akan tetapi pembahasan pengurangan produksi sejauh ini belum mampu menopang harga, yang telah mengalami penyusutan lebih dari 20% sejauh ini pada bulan November atau selama tujuh minggu beruntun mengalami kerugian. Harga minyak mentah dunia juga berada dalam jalur kejatuhan terbesar dalam satu bulan sejak akhir 2014, lalu. Seperti diketahui perang dagang antara dua ekonomi dan konsumen minyak terbesar dunia, Amerika Serikat dan China telah membebani pasar.
Tercatat harga minyak mentah berjangka Brent yang menjadi patokan Internasional jatuh USD3,80 per barel atau 6,1% menjadi USD58,80/barel. Selama sesi tersebut, patokan minyak dunia sempat menyentuh level USD58,41 per barel atau menjadi yang terendah sejak Oktober 2017. Sedangkan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun USD4,21 setara 7,7% hingga diperdagangkan pada level USD50,42 per barel.
Raihan itu juga menjadi yang terlemah sejak Oktober 2017, dimana diyakini masih akan terus turun. "Pasar sedang menetapkan harga dalam perlambatan ekonomi - mereka mengantisipasi bahwa pembicaraan perdagangan China tidak akan berjalan dengan baik," kata Phil Flynn, seorang analis di Price Futures Group di Chicago, mengacu pada pembicaraan yang diharapkan terjadi pada minggu depan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pada KTT G20 di Buenos Aires.
(akr)
Lihat Juga :