Kubu Prabowo-Sandi Beberkan Penyebab Defisit Neraca Perdagangan

Rabu, 19 Desember 2018 - 20:05 WIB
Kubu Prabowo-Sandi Beberkan...
Kubu Prabowo-Sandi Beberkan Penyebab Defisit Neraca Perdagangan
A A A
JAKARTA - Kubu Capres dan Cawapres nomor urut 02, Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno menilai, defisit neraca perdagangan yang terus terpuruk karena Indonesia saat ini tidak memiliki ekspor andalan. Alhasil, pemerintah tidak bisa menahan defisit.

"Pertama, defisit itu utamanya karena ekspor kita melemah. Kita tidak punya ekspor andalan. Era Orde Baru, kita punya komoditas ekspor andalan dan dikawal oleh Pemerintah dan itu berhasil (seperti) playwood, tekstil kita jalan. (Sekarang) Ini enggak ada," ujar mantan Menteri Keuangan Fuad Bawazier dalam diskusi bertajuk Nestapa Ekonomi Indonesia 2018 di Media Center Prabowo-Sandi, Jalan Sriwijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (19/12/2018).

Dia melanjutkan, kebijakan ekonomi untuk menaikkan nilai ekspor serta valuta asing tidak dijalankan dengan baik oleh pemerintah saat ini. Akibatnya, desifit neraca perdagangan terus terpuruk.

"Paket kebijakan ekonomi yang sudah bertumpuk, itu satu meningkatkan ekspor, satu valuta asing, cuma ini semua diatas kertas, diumumin sendiri tapi tidak jalan," timpalDirektur Konsolidasi Nasional Koalisi Pasangan Prabowo Subianto - Sandiaga Uno itu.

Selain itu, kebijakan penerapan B20 atau pencampuran 20% minyak sawit ke solar dianggap tidak berdampak besar. Bahkan, sektor migas dinilai sebagai biang kerok defisit dagang saat ini.

Adapun impor migas per November masih membengkak dan menyumbang defisit USD1,5 miliar. Kemudian, sepanjang Januari-November, tercatat defisit sudah mencapai USD12,15 miliar atau setara Rp176 triliun.

"Untuk mengurangi neraca perdagangan makanya ada B20, itu tidak jalan. Angka itu tidak pengaruh B20, kalau dikasih B20 rusak mesin kita, itu memang untuk bantu (harga) sawit yang jatuh," papar anggota Dewan Pembina Partai Gerindra ini.

Di samping itu, tindakan koruptif dari pejabat juga dianggap ikut menghambat kebijakan ekonomi pemerintah. "Karena penyakit korupsi, menegakan pemerataan tidak bisa, melakukan perbaikan ekspor tidak bisa, impor ditekan tidak bisa," pungkasnya.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Juara Lawan AS, Neraca...
Juara Lawan AS, Neraca Dagang RI Keok dengan Thailand
Neraca Perdagangan April...
Neraca Perdagangan April 2020 Defisit USD350 Juta
Januari - November 2020,...
Januari - November 2020, Neraca Perdagangan Jatim Defisit
Neraca Perdagangan April...
Neraca Perdagangan April 2020 Defisit Rp5 Triliun
Perdagangan Jawa Timur...
Perdagangan Jawa Timur Mei 2023 Defisit USD659,81 Juta
Surplus Neraca Perdagangan...
Surplus Neraca Perdagangan Indonesia Cetak Rekor 60 Bulan Beruntun
Berita Terkini
MDLA Luncurkan Armada...
MDLA Luncurkan Armada Mobil Listrik, Dorong Transformasi Distribusi Rendah Emisi
1 jam yang lalu
Tren Mobilitas Ramah...
Tren Mobilitas Ramah Lingkungan Meningkat, Pembiayaan Kendaraan Listrik MUF Melesat
8 jam yang lalu
Rupiah Amburadul Rp18...
Rupiah Amburadul Rp18 Ribu, Produk Rumah Tangga Unilever Bakal Naik Harga di Kuartal II 2026
8 jam yang lalu
Rupiah Terkapar, Dampaknya...
Rupiah Terkapar, Dampaknya Mulai Terasa ke Sektor Industri Nasional
8 jam yang lalu
PLN EPI, PLN Puslitbang...
PLN EPI, PLN Puslitbang dan ITERA Kolaborasi Kembangkan Tanaman Energi
10 jam yang lalu
Pelindo Sinergi Lokaseva...
Pelindo Sinergi Lokaseva Catat Kinerja Operasional Positif di Awal 2026
10 jam yang lalu
Infografis
Trade Misinvoicing dan...
Trade Misinvoicing dan Upaya Penguatan Integritas Perdagangan Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved