Baju Kerja: Going Casual

Minggu, 10 Februari 2019 - 13:39 WIB
A A A
Tren ke arah baju kerja yang semakin kasual ini kemudian meluas tak hanya di kalangan perusahaan startup , tapi juga di perusahaan-perusahaan apa pun besar maupun kecil. Yang terjadi kemudian, perusahaan yang ingin dianggap perusahaan zaman now dan millennial -friendly serta-merta mengadopsi gaya baju kerja milenial yang kasual.

Tren "going casual" ini terlihat jelas di industri perbankan. Sebelumnya baju kerja di industri perbankan dikenal sangat formal dan konservatif: kemeja polos, dasi necis, celana bahan gelap, kaos kaki gelap, dan sepatu pantofel gelap.

Namun, kini kebijakan outfit kantor di kalangan karyawan bank semakin dibebaskan, kecuali memang untuk petugas front liners seperti customer service atau teller yang tetap memakai seragam. Karyawan bank sekarang bisa bebas menggunakan batik, kemeja bermotif, celana jins dan denim, serta sepatu sneakers .

Pertanyaannya, kenapa kehadiran generasi milenial memunculkan tren "going casual" dalam cara berpakaian di kantor? Pergeseran outfit kantor tak lepas dari perubahan-perubahan yang terjadi di tempat kerja seiring masuknya generasi milenial dan maraknya ekonomi digital yang menyertainya.

Waktu kerja bergeser ke arah fleksibilitas; jenis dan tipe pekerjaan berubah semakin knowledge-based dan digital-based ; begitu pun interaksi di tempat kerja lebih banyak melalui e-mail , WA, voice call , atau video call dibandingkan interaksi fisik.

Kini bekerja juga semakin mobile , tidak selalu hadir secara fisik di kantor. Tak heran jika coffee shop , kafe, atau mal menjadi spot kerja yang kian ramai dikunjungi karyawan milenial. Milenial ingin bekerja bukanlah sesuatu yang membosankan dan menimbulkan stres.

Selama bekerja mereka ingin tetap bisa ngopi , mendengarkan musik, atau jeda sebentar untuk main games online . Milenial tak hanya menginginkan work environment, tapi juga playing environment dan living environment di kantor.

Kenapa? Karena mereka menuntut work-life balance yang lebih manusiawi. Tak heran jika kini makin tempat kerja yang mengusung format bersuasana rumah (homy ) di mana work, play, live berjalan seiring.

Tempat kerja mulai menyediakan meja biliar, makan siang di kantin gratis, atau rutin menyelenggarakan pesta ice cream . Dengan pergeseran format tempat kerja, maka outfit kantor pun bergeser dari business outfit, mengarah ke business casual outfit, dan akhirnya ke casual outfit. Tren ke arah going casual ini tak lepas dari fenomena yang disebut "Red Sneakers Effect".

Sejumlah peneliti Harvard menemukan bahwa orang yang mengenakan sesuatu yang nyleneh di tempat kerja (misalnya mengenakan sneakers merah, jins, atau t-shirt di tengah karyawan lain yang menggunakan pakaian formal) justru dipersepsi lebih positif oleh para koleganya. Ia dipersepsi memiliki status lebih tinggi, lebih konfiden, lebih kompeten, dan lebih otoritatif, ketimbang mereka yang berpakaian formal.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
berita/ rendering in 0.0962 seconds (10.177#12.26)