Angka Pengurangan Kemiskinan oleh Jokowi Merupakan yang Terendah

Senin, 25 Februari 2019 - 16:59 WIB
Angka Pengurangan Kemiskinan...
Angka Pengurangan Kemiskinan oleh Jokowi Merupakan yang Terendah
A A A
JAKARTA - Optimisme diperlukan baik dalam kehidupan pribadi maupun negara. Optimisme memberikan harapan tentang hari depan yang lebih baik. Presiden Joko Widodo (Jokowi) memang memberikan optimisme luar biasa di tahun 2014. Bayangkan seorang yang berasal dari keluarga biasa bisa menjadi wali kota, gubernur, kemudian presiden.

Jokowi tampil dengan gaya penampilan yang sederhana. Selain itu, ia berjanji untuk memperjuangkan Trisakti Bung Karno: Berdaulat secara politik, Berdikari secara ekonomi, dan Berkepribadian secara sosial budaya.

Namun, seiring berjalannya waktu, menurut ekonom senior Rizal Ramli, ternyata tebaran optimisme Jokowi semakin lama semakin memudar. Bahkan, sambung Rizal, dalam banyak hal harapan akan kehidupan yang lebih baik semakin memudar. Pertumbuhan ekonomi stagnan di level 5% dan daya beli rakyat merosot, ikhtiar pengurangan kemiskinan terendah sejak reformasi.

"Jadi Jokowi hanya mengurangi 450.000 orang miskin per tahun. Bandingkan dengan era Presiden Gus Dur yang berhasil menurunkan kemiskinan 5,05 juta orang per tahun, Habibie 1,5 juta orang per tahun, Megawati 570 ribu orang per tahun, dan SBY 840 ribu orang per tahun," kata Rizal dalam diskusi yang diadakan Forum Tebet (Forte) di Tebet, Jakarta Selatan, Senin (25/2/2019).

Menurut dia, pidato Presiden Jokowi di Sentul, Bogor, Jawa Barat, tidak berani berkata jujur. Karena, kata Rizal, Jokowi tidak berani mengaku kegagalannya selama empat tahun.

"Pidato Presiden Joko Widodo di Sentul kurang jujur karena tidak mengakui kegagalan yang terjadi. Seharusnya sebagai ksatria, Jokowi berani meminta maaf dan ganti strategi," tandas Rizal.

Jika Jokowi melakukan itu, kata dia, baru akan terlihat harapan dan optimisme baru. Tetapi, sambungnya lagi, Jokowi tidak mau meminta maaf dan mengganti starategi sehingga kegagalannya justru menebar pesimisme dan mengubur harapan.

"Padahal inti dari kepemimpinan adalah menumbuhkan harapan dan optimisme. Untuk itu, pemimpin harus mampu melakukan refleksi, introspeksi dan kejujuran dengan mengakui kekurangan dan kegagalan untuk segera diubah. Sehingga memberikan harapan dan optimisme baru," pungkasnya.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Jokowi Pede Pengangguran...
Jokowi Pede Pengangguran dan Kemiskinan Tak Melonjak di 2021
Momentum ketika Jokowi...
Momentum ketika Jokowi Bertemu Joko Widodo
Rizal Ramli Kritisi...
Rizal Ramli Kritisi Sistem Ambang Batas dalam Pilkada dan Pilpres
Rizal Ramli Sebut Pembangunan...
Rizal Ramli Sebut Pembangunan Harus Membuat Rakyat Lebih Makmur, Bukan Sebaliknya
Kesal Diserang Buzzer,...
Kesal Diserang Buzzer, Rizal Ramli Colek Twitter Jokowi dan Moeldoko
Rocky Gerung-Rizal Ramli...
Rocky Gerung-Rizal Ramli Sindir Ganjar soal Kemiskinan, Pengamat: Sulit Dibantah
Berita Terkini
Selat Hormuz Dibuka,...
Selat Hormuz Dibuka, tapi Pemulihan Pasokan Minyak Global Butuh Berbulan-bulan
8 menit yang lalu
Momentum Indonesia Perkuat...
Momentum Indonesia Perkuat Fondasi Ketahanan Energi di 2026, Ini Kuncinya
9 jam yang lalu
Utang Pemerintah Bengkak...
Utang Pemerintah Bengkak saat Swasta Lesu, Alarm bagi Fiskal Negara
11 jam yang lalu
PLN EPI Dorong UMKM...
PLN EPI Dorong UMKM Naik Kelas lewat Budidaya Madu Kelulut
11 jam yang lalu
Menteri PU Tinjau IPTC,...
Menteri PU Tinjau IPTC, Nindya Karya Dukung Penambahan Fasilitas Atlet Difabel
12 jam yang lalu
Indonesia Tak Lagi Bergantung...
Indonesia Tak Lagi Bergantung Impor Minyak Timur Tengah
12 jam yang lalu
Infografis
5 Buah Rendah Gula yang...
5 Buah Rendah Gula yang Aman untuk Diet, Tetap Manis dan Menyegarkan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved