Menko Darmin: Jakarta Fair Jadi Momentum Ciptakan Masyarakat Mandiri
Jum'at, 31 Mei 2019 - 18:38 WIB
Menko Darmin: Jakarta Fair Jadi Momentum Ciptakan Masyarakat Mandiri
A
A
A
JAKARTA - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan Jakarta Fair adalah salah satu contoh kerja sama ketiga pihak yakni pemerintah, swasta dan masyarakat untuk menggerakkan kegiatan ekonomi Indonesia, yang pada akhirnya akan dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat.
“Penyelenggaraannya dapat jadi momentum pertumbuhan dan pemerataan ekonomi dengan penciptaan masyarakat yang semakin mandiri. Kita juga perlu membangun mental dan pola pikir masyarakat agar lebih memiliki jiwa wirausaha dan mengembangkan Usaha Kecil dan Menengah (UKM),” tutur Menko Darmin.
Sebagaimana diketahui bahwa UKM ini menjadi tulang punggung perekonomian dan terbukti tahan banting pada saat terjadi krisis ekonomi. Sehingga, banyak juga negara berkembang yang mampu bertahan terhadap krisis ekonomi. Apalagi jika dilihat dari perkembangan ekonomi digital, khususnya industri e-commerce, yang mayoritas pelakunya berasal dari kalangan UKM.
Potensi industri e-commerce sangat besar dengan pertumbuhan nilai penjualan bisnis online di tanah air setiap tahun meningkat 40%. Sehingga, target pemerintah untuk bisnis ekonomi digital Indonesia yakni mencapai angka USd130 miliar atau setara Rp1.730 triliun pada 2020 mendatang.
“Di sisi lain, Jakarta Fair sebagai pasar off line tidak kalah pentingnya. Event ini tetap dapat menjadi ajang yang sangat membantu promosi bisnis dan investasi yang mampu mendatangkan profit bagi vendor dalam negeri, industri kreatif, maupun UKM. Juga akan mampu menciptakan ribuan lapangan kerja baru selama ajang pameran ini digelar,” tambah Menko Darmin.
Sebagai informasi, Jakarta Fair pertama kali dicetuskan oleh Syamsyudin Mangan, Ketua KADIN pada 1968 dan dilanjutkan hingga kini sebagai penyelenggaraan yang ke-52. Ajang ini menjadi sarana pameran dan hiburan terbesar, terlama (40 hari), dan terlengkap di kawasan Asia Tenggara. Jakarta Fair pertama kali diselenggarakan di Kawasan Monas (IRTI) dengan kapasitas 1,4 juta pengunjung. Kemudian, pada 1992 dipindahkan ke arena Kemayoran dikarenakan semakin banyaknya pengunjung.
Selain itu Menko Darmin mengatakam di tengah ketidakpastian perekonomian global, ekonomi Indonesia masih mampu tumbuh 5,07% (yoy) di triwulan pertama 2019, dan diharapkan akan mencapai target pemerintah sebesar 5,3% di akhir 2019.
Pertumbuhan tersebut utamanya didorong kenaikan permintaan domestik di tengah kinerja ekspor yang terbatas karena pengaruh perlambatan permintaan global, serta didukung investasi sebagai sumber utama pertumbuhan.
"Pertumbuhan ekonomi yang merupakan buah usaha bersama antara pemerintah, swasta dan masyarakat tak sekadar tumbuh tapi juga berkualitas. Hal ini terlihat dari tingkat kemiskinan, pengangguran dan gini ratio yang berhasil diturunkan secara berkala. Bahkan untuk pertama kalinya dalam sejarah, tingkat kemiskinan berada pada level satu digit di 2018," ujar Darmin.
“Penyelenggaraannya dapat jadi momentum pertumbuhan dan pemerataan ekonomi dengan penciptaan masyarakat yang semakin mandiri. Kita juga perlu membangun mental dan pola pikir masyarakat agar lebih memiliki jiwa wirausaha dan mengembangkan Usaha Kecil dan Menengah (UKM),” tutur Menko Darmin.
Sebagaimana diketahui bahwa UKM ini menjadi tulang punggung perekonomian dan terbukti tahan banting pada saat terjadi krisis ekonomi. Sehingga, banyak juga negara berkembang yang mampu bertahan terhadap krisis ekonomi. Apalagi jika dilihat dari perkembangan ekonomi digital, khususnya industri e-commerce, yang mayoritas pelakunya berasal dari kalangan UKM.
Potensi industri e-commerce sangat besar dengan pertumbuhan nilai penjualan bisnis online di tanah air setiap tahun meningkat 40%. Sehingga, target pemerintah untuk bisnis ekonomi digital Indonesia yakni mencapai angka USd130 miliar atau setara Rp1.730 triliun pada 2020 mendatang.
“Di sisi lain, Jakarta Fair sebagai pasar off line tidak kalah pentingnya. Event ini tetap dapat menjadi ajang yang sangat membantu promosi bisnis dan investasi yang mampu mendatangkan profit bagi vendor dalam negeri, industri kreatif, maupun UKM. Juga akan mampu menciptakan ribuan lapangan kerja baru selama ajang pameran ini digelar,” tambah Menko Darmin.
Sebagai informasi, Jakarta Fair pertama kali dicetuskan oleh Syamsyudin Mangan, Ketua KADIN pada 1968 dan dilanjutkan hingga kini sebagai penyelenggaraan yang ke-52. Ajang ini menjadi sarana pameran dan hiburan terbesar, terlama (40 hari), dan terlengkap di kawasan Asia Tenggara. Jakarta Fair pertama kali diselenggarakan di Kawasan Monas (IRTI) dengan kapasitas 1,4 juta pengunjung. Kemudian, pada 1992 dipindahkan ke arena Kemayoran dikarenakan semakin banyaknya pengunjung.
Selain itu Menko Darmin mengatakam di tengah ketidakpastian perekonomian global, ekonomi Indonesia masih mampu tumbuh 5,07% (yoy) di triwulan pertama 2019, dan diharapkan akan mencapai target pemerintah sebesar 5,3% di akhir 2019.
Pertumbuhan tersebut utamanya didorong kenaikan permintaan domestik di tengah kinerja ekspor yang terbatas karena pengaruh perlambatan permintaan global, serta didukung investasi sebagai sumber utama pertumbuhan.
"Pertumbuhan ekonomi yang merupakan buah usaha bersama antara pemerintah, swasta dan masyarakat tak sekadar tumbuh tapi juga berkualitas. Hal ini terlihat dari tingkat kemiskinan, pengangguran dan gini ratio yang berhasil diturunkan secara berkala. Bahkan untuk pertama kalinya dalam sejarah, tingkat kemiskinan berada pada level satu digit di 2018," ujar Darmin.
(akr)
Lihat Juga :