Harga Minyak Turun Tipis Seiring Kekhawatiran Ekonomi Global
Jum'at, 05 Juli 2019 - 09:36 WIB
Harga Minyak Turun Tipis Seiring Kekhawatiran Ekonomi Global
A
A
A
NEW YORK - Harga minyak turun tipis pada perdagangan pada hari ini lantaran terbebani data yang menunjukkan cadangan minyak mentah AS yang lebih kecil dari yang diperkirakan dan kekhawatiran tentang ekonomi global.
Mengutip Reuters, Jumat (5/7/2019), minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman bulan depan turun 52 sen atau 0,81% pada USD63,30 per barel. Brent ditutup naik 2,3% pada hari Rabu. Adapun minyak berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS turun 54 sen atau 0,94% menjadi USD56,89 per barel. WTI ditutup naik 1,9% pada hari Rabu. Volume perdagangan menurun karena liburan hari kemerdekaan di Amerika Serikat (AS).
Sebagian besar pelaku pasar tampaknya tidak tergerak oleh sentimen penahanan oleh Angkatan Laut Kerajaan Inggris terhadap sebuah kapal tangki super di Gibraltar yang kemungkinan membawa minyak mentah dari Iran menuju Suriah, karena ketegangan antara Iran dan AS telah berkobar dipicu serangan misterius terhadap tanker di Teluk Oman dalam beberapa bulan terakhir.
Menurut data The US Energy Information Administration, pada Rabu terjadi penurunan stok minyak mentah mingguan sebesar sebanyak 1,1 juta barel. Angka tersebut jauh lebih kecil dari yang dilaporkan oleh American Petroleum Institute (API) pada awal pekan ini sebesar 5 juta barel.
"Data inventaris sama sekali tidak mendukung harga minyak untuk lebih tinggi. Tidak hanya pengurangan persediaan minyak mentah terbukti lebih kecil dari yang diharapkan, tapi juga jauh dari yang dilaporkan oleh API sehari sebelumnya," tulis Commerzbank dalam sebuah catatan kepada klien.
Data EIA menunjukan, persediaan AS turun dari yang diharapkan karena kilang AS pekan lalu mengonsumsi lebih sedikit minyak mentah dari minggu sebelumnya dan memproses minyak 2% lebih sedikit dari setahun lalu meskipun berada di tengah-tengah musim permintaan bensin musim panas.
Hal itu menunjukkan permintaan minyak di AS sebagai konsumen minyak mentah terbesar di dunia, bisa melambat di tengah tanda-tanda melemahnya ekonomi. Data pemerintah menunjukkan, pada Rabu pesanan baru untuk barang-barang pabrik AS turun untuk bulan kedua berturut-turut di bulan Mei, sehingga menambah kekhawatiran ekonomi.
Data AS yang lemah mengikuti laporan pertumbuhan bisnis di Eropa yang melambat juga di bulan lalu.
"Mengesampingkan fluktuasi jangka pendek di sekitar data persediaan, mustahil untuk melarikan diri dari kenyataan bahwa perekonomian kita berada di tengah-tengah penurunan manufaktur global," kata mitra pelaksana Vanguard Markets Stephen Innes.
Namun, ketidakpastian atas permintaan sedikit diimbangi oleh prospek pasokan global.
Produksi akan tetap terbatas karena Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan produsen lain seperti Rusia, sebuah kelompok yang dikenal sebagai OPEC+, sepakat pada Selasa (2/7/2019) untuk memperpanjang pengurangan produksi minyak hingga Maret 2020.
Mengutip Reuters, Jumat (5/7/2019), minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman bulan depan turun 52 sen atau 0,81% pada USD63,30 per barel. Brent ditutup naik 2,3% pada hari Rabu. Adapun minyak berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS turun 54 sen atau 0,94% menjadi USD56,89 per barel. WTI ditutup naik 1,9% pada hari Rabu. Volume perdagangan menurun karena liburan hari kemerdekaan di Amerika Serikat (AS).
Sebagian besar pelaku pasar tampaknya tidak tergerak oleh sentimen penahanan oleh Angkatan Laut Kerajaan Inggris terhadap sebuah kapal tangki super di Gibraltar yang kemungkinan membawa minyak mentah dari Iran menuju Suriah, karena ketegangan antara Iran dan AS telah berkobar dipicu serangan misterius terhadap tanker di Teluk Oman dalam beberapa bulan terakhir.
Menurut data The US Energy Information Administration, pada Rabu terjadi penurunan stok minyak mentah mingguan sebesar sebanyak 1,1 juta barel. Angka tersebut jauh lebih kecil dari yang dilaporkan oleh American Petroleum Institute (API) pada awal pekan ini sebesar 5 juta barel.
"Data inventaris sama sekali tidak mendukung harga minyak untuk lebih tinggi. Tidak hanya pengurangan persediaan minyak mentah terbukti lebih kecil dari yang diharapkan, tapi juga jauh dari yang dilaporkan oleh API sehari sebelumnya," tulis Commerzbank dalam sebuah catatan kepada klien.
Data EIA menunjukan, persediaan AS turun dari yang diharapkan karena kilang AS pekan lalu mengonsumsi lebih sedikit minyak mentah dari minggu sebelumnya dan memproses minyak 2% lebih sedikit dari setahun lalu meskipun berada di tengah-tengah musim permintaan bensin musim panas.
Hal itu menunjukkan permintaan minyak di AS sebagai konsumen minyak mentah terbesar di dunia, bisa melambat di tengah tanda-tanda melemahnya ekonomi. Data pemerintah menunjukkan, pada Rabu pesanan baru untuk barang-barang pabrik AS turun untuk bulan kedua berturut-turut di bulan Mei, sehingga menambah kekhawatiran ekonomi.
Data AS yang lemah mengikuti laporan pertumbuhan bisnis di Eropa yang melambat juga di bulan lalu.
"Mengesampingkan fluktuasi jangka pendek di sekitar data persediaan, mustahil untuk melarikan diri dari kenyataan bahwa perekonomian kita berada di tengah-tengah penurunan manufaktur global," kata mitra pelaksana Vanguard Markets Stephen Innes.
Namun, ketidakpastian atas permintaan sedikit diimbangi oleh prospek pasokan global.
Produksi akan tetap terbatas karena Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan produsen lain seperti Rusia, sebuah kelompok yang dikenal sebagai OPEC+, sepakat pada Selasa (2/7/2019) untuk memperpanjang pengurangan produksi minyak hingga Maret 2020.
(ind)
Lihat Juga :