AS-China Kuasai Ekonomi Digital

Minggu, 08 September 2019 - 09:03 WIB
AS-China Kuasai Ekonomi Digital
AS-China Kuasai Ekonomi Digital
A A A
NEW YORK - Ekonomi digital menyimpan potensi bisnis yang sangat besar di tengah peningkatan interkoneksi global. Namun, sejauh ini keuntungan dari peluang ekonomi digital cenderung hanya dikuasai Amerika Serikat (AS) dan China.

Hal itu terungkap dalam Laporan Ekonomi Digital 2019 versi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). AS dan China menguasai 75% paten teknologi, 50% investasi global di bidang internet of things (IoT), 75% pasar cloud computing,dan 90% nilai kapitalisasi pasar di 70 perusahaan digital terbesar di dunia. Di luar mereka, khususnya negara-negara Afrika dan Amerika Latin, hanya mengikuti dan kemungkinan semakin tertinggal jauh.

“Kita semua harus bekerja sama untuk mempersempit ketimpangan digital,” tulis Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB Antonio Guterres pada bagian Kata Pengantar laporan yang dikaji KORAN SINDO.“Lebih dari separuh wilayah bumi kita tidak memiliki akses internet atau terbatas. Inklusivitas adalah solusinya,” sambungnya.

Tujuh perusahaan teknologi terbesar di dunia asal AS dan China telah menguasai dua pertiga dari total nilai pasar global. Mereka adalah Microsoft, Apple, Amazon, Google, Facebook, Tencent, dan Alibaba. Google menguasai 90% pasar pencarian internet global dan Facebook 90% pasar media sosial.

“Di China, WeChat yang dimiliki Tencent memiliki lebih dari satu miliar pengguna aktif. Alipay milik Alibaba juga menguasai seluruh pasar pembayaran mobile di Negeri Bambu,” ungkap PBB. “Sementara itu, Alibaba sendiri diestimasikan menguasai hampir 60% pasar ecommerce di China,” sambung badan dunia tersebut.

Perusahaan-perusahaan teknologi terbesar di dunia juga berkompetisi secara agresif demi mencapai atau mempertahankan posisi teratas. PBB memperingatkan dominasi ekonomi digital oleh segelintir negara akan menciptakan konsentrasi dan konsolidasi nilai digital dan memperlebar jurang kesenjangan kekayaan di seluruh dunia. “Kita perlu bersama-sama menyebarkan potensi kekayaan kepada semua rakyat dunia yang saat ini menuai sedikit keuntungan darinya,” ungkap PBB.

Sekjen UNCTAD Mukhisa Kituyi juga menegaskan pentingnya mendorong produser, eksportir, dan inovator di negara berkembang untuk turut serta di dunia digital. Menurut Kituyi, pemerintah memegang peranan sangat penting dalam membantu masyarakatnya menangkap peluang ekonomi digital dengan mengubah aturan yang sudah ditetapkan.

“Kepemimpinan intelektual, peningkatan kemitraan, dan penyambutan teknologi baru diperlukan untuk memperkuat strategi digital,” paparnya.

PBB juga mendesak semua negara di dunia, terutama dengan selalu melibatkan negara maju, untuk memperkuat kerja sama inter nasional terkait isu yang berhubungan dengan ekonomi digital seperti kompetisi, pajak, aliran data lintas batas negara, kekayaan intelektual, perdagangan, dan kebijakan perburuhan. Meski dampak dari era digitalisasi sudah terasa, PBB menyebut semua masih berada pada tahap awal sehingga belum terlambat.

Pertumbuhan ekonomi digital juga sangat signifikan. Begitu pun dengan kemajuan analisis data digital, kecerdasan buatan, percetakan 3D, IoT, otomatisasi, robotik, dan cloud computing. Sementara itu, peluang ekonomi digital terus ditangkap Pemerintah Indonesia dalam mendorong kemajuan ekonomi nasional. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, kemajuan ekonomi digital akan menjadi era baru dan masa depan bagi Indonesia.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
berita/ rendering in 0.1648 seconds (11.97#12.26)