China Batal Kunjungi Pertanian AS, Harapan Terobosan Perdagangan Memudar

Sabtu, 21 September 2019 - 09:03 WIB
China Batal Kunjungi...
China Batal Kunjungi Pertanian AS, Harapan Terobosan Perdagangan Memudar
A A A
WASHINGTON - Harapan akan segera adanya kesepakatan perdagangan antara Amerika Serikat (AS)-China memudar setelah perwakilan China secara tak terduga membatalkan kunjungan ke area pertanian di Montana dan Nebraska, di tengah berlangsungnya pembicaraan dua hari antara deputi negosiator perdagangan di Washington.

Para pejabat China dijadwalkan mengunjungi para petani AS pada pekan depan untuk menunjukkan niat baik dalam upaya penyelesaian perselisihan dagang antara kedua negara. Namun, rencana itu tiba-tiba dibatalkan dan para perwakilan China kemudian pulang lebih awal ke negaranya. Kedutaan China maupun Departemen Agrikultur AS sejauh ini tidak merespons permintaan konfirmasi terkait kejadian tersebut.

Sementara, kantor Perwakilan Dagang AS hanya mengeluarkan pernyataan singkat yang menyebutkan bahwa pertemuan dua hari dengan perwakilan dagang China berlangsung produktif. Disebutkan pula bahwa pertemuan dagang antara kedua negara di Washington yang dijadwalkan Oktober mendatang tetap akan berlangsung sesuai rencana.

Namun demikian, para ahli, eksekutif bahkan pejabat di kedua negara menilai bahwa meski pertemuan September dan Oktober nanti menghasilkan kesepakatan interim, perang dagang sudah terlanjur menjadi perang politik dan ideologis mendalam yang bisa membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk bisa diselesaikan.

Sementara itu, menurut seseorang yang tahu mengenai perundingan yang baru berlangsung, delegasi China tidak menyerahkan proposal baru terkait isu struktural termasuk soal perlindungan hak intelektual, transfer teknologi secara paksa, subsidi industri dan hambatan dagang lainnya.

"Kesimpulan dari sisi AS adalah bahwa kita sama sekali tidak mendekati sebuah kesepakatan," ungkapnya seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (21/9/2019).

Namun, sumber itu juga menyebutkan bahwa kurangnya hasil dari pembicaraan antar deputi tersebut tidak aneh. Sebab, seringkali para deputi tersebut tak memiliki kewenangan untuk mengesahkan sebuah kesepakatan ataupun menyerahkan tawaran baru.

Sementara, pada pertemuan awal Oktober nanti akan diikuti para negosiator utama, yakni PM China Liu He, Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer dan Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin. Pertemuan itu diyakini akan menentukan apakah akan ada arah penyelesaian perang dagang antara kedua negara, atau aksi saling balas tarif perdagangan akan semakin menjadi.
(fjo)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Tebar Perang Dagang...
Tebar Perang Dagang dengan China, Militer AS Justru Diprediksi Makin Terpuruk
4 Alasan AS Kecanduan...
4 Alasan AS Kecanduan Berperang, Salah Satunya Menumbangkan Rezim Berkuasa
China Terus Perkuat...
China Terus Perkuat Militer, AS Ajak Sekutu Melawan Beijing
China Tuding AS Jadi...
China Tuding AS Jadi Ancaman Terbesar bagi Keamanan Global, Berikut Dalihnya
Demi Keamanan Nasional,...
Demi Keamanan Nasional, Staf Kedubes AS di China Dilarang Berkencan dengan Penduduk Lokal
Trump Akui AS Memiliki...
Trump Akui AS Memiliki Senjata Rahasia, Apa Itu?
Berita Terkini
Hari Anak Nasional,...
Hari Anak Nasional, Jasa Raharja Ajak Generasi Muda Jadi Pelopor Keselamatan
3 jam yang lalu
Gonjang-ganjing Sektor...
Gonjang-ganjing Sektor Energi, Singapura Rombak Kabinet Besar-besaran
4 jam yang lalu
Di Balik Penghargaan...
Di Balik Penghargaan CCEPC Indonesia, Gao Hai Komitmen Bangun Kemitraan Jangka Panjang
4 jam yang lalu
Pertamina Trans Kontinental...
Pertamina Trans Kontinental Ajak Siswa Lestarikan Ekosistem Laut
4 jam yang lalu
PLN EPI Tawarkan Kontrak...
PLN EPI Tawarkan Kontrak hingga 5 Tahun untuk Pemasok Biomassa
5 jam yang lalu
Ancaman Blokade Laut...
Ancaman Blokade Laut Merah, Asia Nego Arab Saudi Alihkan Rute Tanker Minyak ke Afrika
5 jam yang lalu
Infografis
Trade Misinvoicing dan...
Trade Misinvoicing dan Upaya Penguatan Integritas Perdagangan Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved