APHI Nilai Luas Karhutla di Indonesia Turun 87%

Senin, 14 Oktober 2019 - 11:13 WIB
APHI Nilai Luas Karhutla...
APHI Nilai Luas Karhutla di Indonesia Turun 87%
A A A
JAKARTA - Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) menilai luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia terus menurun. Hal ini berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup & Kehutanan (KLHK) yang hingga September 2019, jumlah luas karhutla di Indonesia yang terjadi di tahun 2019 sudah turun 87,41% dibandingkan tahun 2015.

Menurut Direktur Eksekutif APHI Purwadi Soeprihanto pada tahun 2015, jumlah karhutla mencapai 2.611.411 hektare (ha), tahun 2016 sekitar 438.363 ha, tahun 2017 turun menjadi 165.484 ha, dan tahun 2018 mencapai 510.564 ha. Sedangkan tahun ini turun menjadi 328.724 ha.

KLHK juga mencatat dari 328.724 ha terbakar terdiri dari 239.161 ha atau sekitar 72,8% berada di lahan kering/mineral. Sedangkan sisanya 89.563 ha atau 27,2% berada di lahan gambut. “Itu berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sampai dengan September 2019,” ujar Purwadi dalam siaran persnya, kemarin.

Selain itu, lanjut Purwadi, luas karhutla Indonesia tahun ini juga lebih kecil dibandingkan karhutla yang terjadi di dunia. pada tahun ini, karhutla juga terjadi di Amerika Selatan seperti Brazil dan Bolivia terutama di hutan tropis Amazon, Kanada dan Rusia.

Berdasar data, luas karhutla di Rusia mencapai 10.000.000 ha, Brazil 4.500.000 ha, Bolivia 1.800.000 ha, Canada 1.828.352 ha, Amerika Serikat 1.737.163 ha, dan Australia 808.511 spot. Menurut dia, karhutla di Indonesia 99% disebabkan oleh faktor aktivitas manusia, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja dan didukung cuaca ekstrem dan kerusakan ekosistem.

"Kemudian kearifan lokal untuk menyiapkan lahan dengan cara membakar oleh masyarakat, sebagaimana yang diatur oleh UU No.32 tahun 2009 Pasal 69 penjelasan ayat 2, belum diikuti dengan aturan pembakaran terkendali (prescribed burning),” tegasnya.

Kemudian terakhir karena tidak disengaja, contohnya membuang puntung rokok, api unggun, memancing, berburu, dan lain-lain. Sedangkan motif penyebab karhutla menurut dia, ada dua. Pertama, motif ekonomi, yaitu pembukaan lahan untuk pertanian maupun perkebunan dengan cara yang mudah dan murah untuk kemudian diperjualbelikan. “Kedua penguasaan lahan. Para perambah membakar hutan untuk mempertahankan dan memperluas penguasaan lahan,” katanya.

Purwadi menambahkan, ada beberapa cara untuk mencegah dan mengendalikan Karhutla. Dari sisi pencegahan dilakukun dengan penerapan zero burning dalam penyiapan lahan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat. “Misalnya program Desa Makmur Peduli Api yang menyadarkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar,” katanya. (Rakhmat Baihaqi)
(nfl)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Indonesia Dorong Kesetaraan...
Indonesia Dorong Kesetaraan dalam Sertifikasi Pengelolaan Hutan
Forum Penyelamat Hutan...
Forum Penyelamat Hutan Jawa Gugat Pemerintah Cabut SK Menteri LHK tentang KHDPK
RECOFTC Bantu Petani...
RECOFTC Bantu Petani Kopi Kompetitif dengan Tetap Menjaga Hutan
Tuntaskan Kasus Mafia...
Tuntaskan Kasus Mafia Tanah di Langkat, Kejaksaan Panggil Ahli dari IPB
Fakta Baru Keangkeran...
Fakta Baru Keangkeran Hutan di Indonesia Terungkap
Cegah Kerusakan Kawasan...
Cegah Kerusakan Kawasan Hutan, Tim TNGP Lakukan Patroli Hutan di KEK MNC Lido
Berita Terkini
AFI Tawarkan Perlindungan...
AFI Tawarkan Perlindungan Jiwa Lintas Generasi Perkuat Ketahanan Finansial
3 jam yang lalu
Rusia Larang Ekspor...
Rusia Larang Ekspor Solar, Picu Kekhawatiran Baru di Pasar Energi Dunia
3 jam yang lalu
PNM Bawa Suara Jutaan...
PNM Bawa Suara Jutaan Pengusaha Ultra Mikro di Halal Expo Indonesia 2026
3 jam yang lalu
Sabet Dua Penghargaan,...
Sabet Dua Penghargaan, Great Eastern Life Bersinar di Ajang Insurance Asia Awards 2026
4 jam yang lalu
Aturan Baru Outsourcing...
Aturan Baru Outsourcing Masuk Tahap Finalisasi, Said Iqbal: Target Rampung Juli 2026
4 jam yang lalu
Industri Plastik Tertekan...
Industri Plastik Tertekan Impor Murah China, Pabrik Mulai Pangkas Jam Kerja
4 jam yang lalu
Infografis
20 Universitas Terbaik...
20 Universitas Terbaik di Indonesia Versi QS WUR 2027
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved