Harga Minyak Dunia Tergelincir di Tengah Kekhawatiran Tergerusnya Permintaan
Jum'at, 06 Maret 2020 - 11:41 WIB
Harga Minyak Dunia Tergelincir di Tengah Kekhawatiran Tergerusnya Permintaan
A
A
A
SINGAPURA - Harga minyak mentah dunia merosot hampir 1% pada perdagangan akhir pekan, Jumat (6/3/2020) seiring kekhawatiran tentang permintaan minyak global dan perlambatan pertumbuhan ekonomi yang disebabkan penyebaran wabah virus corona (COVID-19). Selain kecemasan juga muncul dari produsen minyak non-OPEC yang belum sepakat untuk memangkas produksi sebagai upaya mendukung harga minyak global.
Seperti dilansir Reuters hari ini, harga minyak mentah berjangka Brent yang menjadi patokan Internasional mengalami penyusutan hingga 48 sen atau 0,96% untuk bertengger di level USD49,51 per barel pada pukul 03.37 GMT. Sementara harga minyak berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) juga lebih rendah 38 sen yang setara dengan 0,83% pada posisi USD45,52 per barel.
Sementara Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) pada hari Kamis, kemarin terus mendorong terhadap semua produsen dan sekutunya atau yang dikenal dengan sebuat OPEC+ untuk menambah besaran pengurangan produksi 1.500.000 barel per hari (Bpd) sampai akhir 2020. Dijadwalkan OPEC + bakal menggelar pertemuan akhir pekan ini di Wina.
Negara non-OPEC diharapkan bisa menyumbang 500.000 Bpd untuk pemotongan ekstra secara keseluruhan, kata Menteri OPEC. Tapi Rusia dan Kazakhstan, kedua anggota OPEC +, mengatakan mereka belum setuju untuk mengurangi produksi lebih dalam, untuk meningkatkan risiko hilangnya kerjasama yang telah bersandar pada harga minyak mentah sejak 2016.
Namun Goldman Sachs meragukan dengan mengatakan, bahwa dengan pemotongan yang mendalam diyakini OPEC + tidak akan mampu mencegah surplus pasar minyak global pada kuartal kedua. Atau harga yang lebih rendah secara berurutan dalam beberapa minggu mendatang. Goldman Sachs mempertahankan perkiraan harga Brent pada level USD45 per barel pada bulan April.
Seperti dilansir Reuters hari ini, harga minyak mentah berjangka Brent yang menjadi patokan Internasional mengalami penyusutan hingga 48 sen atau 0,96% untuk bertengger di level USD49,51 per barel pada pukul 03.37 GMT. Sementara harga minyak berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) juga lebih rendah 38 sen yang setara dengan 0,83% pada posisi USD45,52 per barel.
Sementara Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) pada hari Kamis, kemarin terus mendorong terhadap semua produsen dan sekutunya atau yang dikenal dengan sebuat OPEC+ untuk menambah besaran pengurangan produksi 1.500.000 barel per hari (Bpd) sampai akhir 2020. Dijadwalkan OPEC + bakal menggelar pertemuan akhir pekan ini di Wina.
Negara non-OPEC diharapkan bisa menyumbang 500.000 Bpd untuk pemotongan ekstra secara keseluruhan, kata Menteri OPEC. Tapi Rusia dan Kazakhstan, kedua anggota OPEC +, mengatakan mereka belum setuju untuk mengurangi produksi lebih dalam, untuk meningkatkan risiko hilangnya kerjasama yang telah bersandar pada harga minyak mentah sejak 2016.
Namun Goldman Sachs meragukan dengan mengatakan, bahwa dengan pemotongan yang mendalam diyakini OPEC + tidak akan mampu mencegah surplus pasar minyak global pada kuartal kedua. Atau harga yang lebih rendah secara berurutan dalam beberapa minggu mendatang. Goldman Sachs mempertahankan perkiraan harga Brent pada level USD45 per barel pada bulan April.
(akr)
Lihat Juga :