Arab Saudi dan Rusia Perang Harga Minyak, Tapi Pertempuran Sebenarnya dengan AS

Kamis, 12 Maret 2020 - 23:37 WIB
Arab Saudi dan Rusia...
Arab Saudi dan Rusia Perang Harga Minyak, Tapi Pertempuran Sebenarnya dengan AS
A A A
LONDON - Bentrokan antara Arab Saudi dan Rusia terkait harga minyak mentah dunia, tampaknya bakal membuat kedua negara terjebak dalam pertempuran sengit dalam memperebutkan pangsa pasar. Akan tetapi analis mengatakan perang sebenarnya adalah dengan industri minyak Amerika Serikat (AS).

Disengaja atau tidak, perang harga terbuka telah menghantam industri minyak Negeri Paman Sam -julukan AS- dimana terjadi penurunan harga minyak secara besar-besaran sejak pekan sebelumnya. Anjloknya harga minyak bisa berdampak besar terhadap perekonomian AS, membuat industri kecil juga merasakan serta mengetuk AS dari posisinya sebagai produsen minyak terbesar di dunia, kata analis.

Ketegangan antara Arab Saudi dan Rusia telah meningkat sejak Rusia gagal menyetujui untuk memperdalam pemotongan produksi mencapai 1.800.000 barel per hari dalam menanggapi penurunan tajam permintaan global. Seperti diketahui pelemahan permintaan disebabkan oleh terhentinya sebagian besar perjalanan internasional di seluruh dunia dan kebijakan karantina jutaan orang akibat penyebaran wabah virus corona.

Keretakan antara Arab Saudi dan Rusia tampaknya telah melebar setelah OPEC dan Rusia mengakhiri pertemuan dengan menutup kesepakatan kerja sama lebih dari tiga tahun yang terjalin antara OPEC dan produsen non-OPEC. Arab Saudi segera merespon dengan menawarkan diskon harga jual dan mengumumkan peningkatan produksi, tindakan itu langsung memicu penurunan curam pada harga minyak dunia.

Rusia mengklaim industri minyak akan mempertahankan pangsa pasar dan dapat bertahan di tengah penurunan harga. "Sementara pemimpin OPEC mempertahankan harapan bahwa runtuhnya harga akan menjadi katalis untuk rekonsiliasi, Presiden Putin mungkin tidak cepat menyerah," tulis Helima Croft, kepala strategi komoditas global di RBC.

"Kami takut bahwa itu bisa menjadi (berlarut-larut), sebagai strategi Rusia tampaknya menargetkan tidak hanya perusahaan AS," sambungnya. Dia mencatat bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin mungkin telah dipengaruhi oleh Igor Sechin, Chairman Perusahaan Minyak Terbesar Rusia Rosneft.

Sechin diketahui telah lama menentang kesepakatan produksi OPEC dan marah oleh sanksi AS terhadap perdagangan Rosneft. Rusia juga marah oleh sanksi AS yang mengulur-ulur upaya untuk menyelesaikan jalur Nord Stream 2, yang akan mengambil gas alam ke Eropa.

"Tidak ada pertanyaan ini adalah penghinaan besar bagi Rusia yang memiliki Nord Stream 2 pipa konstruksi, namun harus berhenti," kata Daniel Yergin, Wakil Ketua IHS Markit.

AS telah menentang pipa tersebut karena akan meningkatkan dominasi Rusia pada pasar energi Eropa. "Pejabat administrasi Trump telah berulang kali membual tentang kemampuan AS untuk menghukum lawan kebijakan luar negerinya dengan tajam mengurangi ekspor minyak mereka, dan untuk melindungi dari dampak harga karena pasokan energi domestik yang melimpah," paparnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Sidang Dakwaan Kasus...
Sidang Dakwaan Kasus Korupsi Tata Kelola Minyak Mentah
Stok Seret Bikin Harga...
Stok Seret Bikin Harga Minyak Mentah Dunia Terkerek Naik
Amerika Buka Pembatasan,...
Amerika Buka Pembatasan, Harga Minyak Akan Terus Naik
Harga Minyak Mentah...
Harga Minyak Mentah Dunia Melayang Dekati Posisi USD70 Per Barel
Harga Minyak Ambrol...
Harga Minyak Ambrol 9% dalam Sepekan, Minggu Depan Gimana?
Harga Minyak Mentah...
Harga Minyak Mentah Merosot Makin Dalam Saat Eropa Kembali Lockdown
Berita Terkini
Percepat Terbentuknya...
Percepat Terbentuknya Ekosistem Pasar Karbon Nasional yang Kredibel, Transparan, dan Berdaya Saing
4 jam yang lalu
Bio Farma Luncurkan...
Bio Farma Luncurkan Bio-TCV, Perkuat Kedaulatan Vaksin Lewat Kolaborasi Akademisi dan Industri
4 jam yang lalu
Kucuran Investasi Rp1.010,6...
Kucuran Investasi Rp1.010,6 Triliun di Paruh Pertama 2026 Serap 1,4 Juta Tenaga Kerja
5 jam yang lalu
Gerak Cepat, BRI Insurance...
Gerak Cepat, BRI Insurance Serahkan Klaim Asuransi Alat Berat Rp322 Juta ke Nasabah Pangkal Pinang
5 jam yang lalu
Pegadaian Perluas Program...
Pegadaian Perluas Program Pande Emas Perkuat Ekosistem Bullion Services
5 jam yang lalu
Bahlil Sebut Kehadiran...
Bahlil Sebut Kehadiran Blok Masela Mampu Dongkrak PDB Nasional hingga Rp2.477 Triliun
6 jam yang lalu
Infografis
37 Pesawat AS Hancur...
37 Pesawat AS Hancur dan Rusak dalam Perang Iran, Kerugian Rp28 Triliun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved