Pertamina harus terus tingkatkan efisiensi
Jum'at, 13 Januari 2012 - 10:13 WIB
Pertamina harus terus tingkatkan efisiensi
A
A
A
Sindonews.com – PT Pertamina (Persero) diminta terus meningkatkan efisiensi dalam hal pengadaan bahan bakar minyak (BBM) impor. Pasalnya, penghematan yang diperoleh cukup signifikan dan menguntungkan negara.
PT Pertamina (Persero) melaporkan penghematan pengadaan impor BBM jenis premium dan solar pada 2011 mencapai USD283 juta atau sekitar Rp2,6 triliun.
"Langkah Pertamina ini perlu diapresiasi. Melalui efisiensi pengadaan impor BBM, berarti ada penghematan subsidi negara juga," kata pengamat energi dari ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro di Jakarta. Komaidi juga menegaskan, nilai penghematan yang diperoleh cukup berarti, terutama untuk menambah kemampuan memasok bahan bakar.
Terlebih, tegas dia, Pertamina mempunyai tugas mendistribusikan BBM ke seluruh pelosok negeri dan harus menjamin ketersediaannya secara cukup sehingga tidak terjadi kelangkaan. “Itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit,”cetusnya.
Dengan adanya efisiensi pengadaan impor BBM, lanjutnya, maka Pertamina bisa menekan biaya pendistribusian ke seluruh Indonesia. “Intinya Pertamina memang harus pintar-pintar mencari cara agar biaya distribusi bisa ditekan, sehingga menghemat subsidi,” tegasnya.
Anggota Komisi VII DPR Dito Gininduto pun mengapresiasi penghematan yang telah dicatat perusahaan migas pelat merah tersebut.
Pasalnya, Indonesia memang belum bisa mengurangi impor BBM. “Karena itu, kita baru bisa melaksanakan sebatas efisiensi, dan itu yang telah dilakukan Pertamina,” katanya.
Dito menambahkan, keharusan melakukan impor BBM akibat keterbatasan kapasitas kilang di Indonesia harus mulai dipikirkan. Ke depan, menurut dia, kapasitas kilang perlu ditingkatkan. “Pemerintah mesti memberi dukungan kepada Pertamina untuk mengoptimalisasi kilang yang ada,” tuturnya. (ank)
PT Pertamina (Persero) melaporkan penghematan pengadaan impor BBM jenis premium dan solar pada 2011 mencapai USD283 juta atau sekitar Rp2,6 triliun.
"Langkah Pertamina ini perlu diapresiasi. Melalui efisiensi pengadaan impor BBM, berarti ada penghematan subsidi negara juga," kata pengamat energi dari ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro di Jakarta. Komaidi juga menegaskan, nilai penghematan yang diperoleh cukup berarti, terutama untuk menambah kemampuan memasok bahan bakar.
Terlebih, tegas dia, Pertamina mempunyai tugas mendistribusikan BBM ke seluruh pelosok negeri dan harus menjamin ketersediaannya secara cukup sehingga tidak terjadi kelangkaan. “Itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit,”cetusnya.
Dengan adanya efisiensi pengadaan impor BBM, lanjutnya, maka Pertamina bisa menekan biaya pendistribusian ke seluruh Indonesia. “Intinya Pertamina memang harus pintar-pintar mencari cara agar biaya distribusi bisa ditekan, sehingga menghemat subsidi,” tegasnya.
Anggota Komisi VII DPR Dito Gininduto pun mengapresiasi penghematan yang telah dicatat perusahaan migas pelat merah tersebut.
Pasalnya, Indonesia memang belum bisa mengurangi impor BBM. “Karena itu, kita baru bisa melaksanakan sebatas efisiensi, dan itu yang telah dilakukan Pertamina,” katanya.
Dito menambahkan, keharusan melakukan impor BBM akibat keterbatasan kapasitas kilang di Indonesia harus mulai dipikirkan. Ke depan, menurut dia, kapasitas kilang perlu ditingkatkan. “Pemerintah mesti memberi dukungan kepada Pertamina untuk mengoptimalisasi kilang yang ada,” tuturnya. (ank)
()