PLN maksimalkan energi geothermal

Rabu, 25 Januari 2012 - 15:19 WIB
PLN maksimalkan energi...
PLN maksimalkan energi geothermal
A A A
Sindonews.com - PT PLN (Persero) akan memaksimalkan penggunaan energi panas bumi (geothermal) sebagai alternatif energi mix. Hal tersebut mengingat penggunaan energi baru terbarukan (EBT) ini baru akan mencapai 20 persen hingga tahun 2025 mendatang.

Direktur Utama PLN Nur Pamudji yang ditemui dalam acara diskusi METI mengatakan pihaknya akan memaksimalkan energi geothermal hingga 13 persen dan PLTA enam persen, menjadi 19 persen dari energi yang dibangkitkan pembangkit milik PLN di 2020.

"Di 2020 dan 2025 itu jadi 20 persen dari geotermal dan lima persen kita cari itu dari biomassa," tegasnya di Kantor PLN Pusat, Jakarta, Rabu (25/1/2012).

"Saat ini untuk geotermal dan PLTA itu 11 persen, kira-kira enam persen Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dan lima persen Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), itu lah renewable yang paling besar yang dipakai PLN," tambahnya.

Dia mengatakan, energi biomassa kembali mempunyai masalah di pengaturan konsesi dan tarif. "Kita punya beberapa Independent Power Producer (IPP) yang mengandalkan biomassa namun tidak performance karena tidak mendapatkan pasokan cangkang kelapa sawit. Adapun PLTU di Belitung yang sempat mengalami keterlambatan pasokan karena cangkang setempat diekspor ke Malaysia atau ke Eropa," paparnya.

"Sehingga PLTU Cangkang harus mendapatkan pasokan dari Kalimantan dan itu tentu tidak bisa kontinu," tambah dia.

Lebih lanjut Nur menambahkan, masalah tarif juga yang menjadi hambatan dalam penggunaan energi renewable dengan harga yang lebih rasional.

"Tarif dalam hal ini perlu diingat PLN adalah sebuah korporasi yang bertujuan untung itu jelas. Oleh karena itu tarif renewable ada dua. Pertama, jika tarif lebih rendah dari tarif listrik BBM maka kita akan beli. Yang kedua kalau dia mereduksi biaya, mengurangi biaya, bagaimana Pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Thailand dengan 25 sen adalah pilihan terbaik karena di bawah BBM," kata dia.

"Di Indonesia, tidak tepat karena Thailand tidak punya batu bara. Tetapi bagaimana di kita memakai tenaga surya itu rasional. Jika PLN disuruh memilih yang rasional sebagai contoh kita mengembangkan Lahendong unit lima itu dengan harga 15 sen per kwh itu sangat mahal lebih baik kita membuat PLTU batu bara yang harganya lebih murah," pungkasnya. (ank)
()
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkini
Galon Guna Ulang Berizin...
Galon Guna Ulang Berizin Edar BPOM dan Ber-SNI Dipastikan Aman Dipakai
9 jam yang lalu
Transisi Net Zero Ubah...
Transisi Net Zero Ubah Peran CFO Menjadi Penggerak Transformasi Bisnis
9 jam yang lalu
Jalur Hormuz Mulai Stabil,...
Jalur Hormuz Mulai Stabil, Saudi Aramco Kembali Ekspor Minyak setelah Mandek 4 Bulan
11 jam yang lalu
MEKAR Kembangkan Ekosistem...
MEKAR Kembangkan Ekosistem Pembiayaan Produktif
11 jam yang lalu
Raih Penghargaan Infobank,...
Raih Penghargaan Infobank, MNC Guna Usaha Indonesia Catat Kinerja Unggul Selama 10 Tahun Berturut-turut
11 jam yang lalu
Raih Penghargaan Infobank,...
Raih Penghargaan Infobank, MNC Finance Catat Kinerja Terbaik Selama Lima Tahun Berturut-turut
12 jam yang lalu
Infografis
Sumber Energi, Berikut...
Sumber Energi, Berikut 7 Buah Tinggi Kandungan Karbohidrat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved