Industri pengolahan susu singkirkan peternak lokal

Rabu, 15 Februari 2012 - 05:41 WIB
Industri pengolahan...
Industri pengolahan susu singkirkan peternak lokal
A A A
Sindonews.com - Minimnya anggaran yang dialokasikan pemerintah dan lemahnya proteksi harga terhadap peternak dalam negeri membuat produksi susu segar nasional stagnan dengan harga yang rendah. Menurut data Nielsen, produsen susu bubuk asing menguasai sekitar 87 persen pasar Indonesia hingga kuartal I 2011.

"Pemerintah sebaiknya mengalokasikan anggaran di APBN guna pengembangan susu nasional serta mendorong Industri Pengolahan Susu (IPS) untuk menyerap susu tradisional dengan harga yang wajar dan kualitas yang kompetitif," ucap Anggota Komisi IV DPR RI, Rofi Munawar seusai rapat dengar pendapat umum (RDPU) dengan Dewan Persusuan Nasional (DPN) di Jakarta, Selasa (14/2/2012).

Dia juga menambahkan bahwa produksi susu segar nasional nyaris stagnan dalam satu dekade ini. Perlu langkah yang progresif dan komitmen yang serius dari Pemerintah untuk mendorong peningkatan konsumsi maupun produksi susu segar nasional. "Selain itu Pemerintah juga harus memberikan perlindungan harga yang kompetitif dan wajar bagi petani dihadapan IPS," tegasnya.

Menurut catatan DPN saat ini terdapat 120 ribu rumah tangga peternak sapi perah yang sebagian tersebar berlokasi di Pulau Jawa. Rata-rata setiap peternak memiliki sapi sekitar 2-4 ekor. Setiap hari tidak kurang dari 1.900 ton susu segar yang dihasilkan para peternak dengan nilai sekitar Rp6,5 miliar.

Sedangkan tingkat konsumsi susu di Indonesia sekitar 10 liter perkapita selama setahun, namun selama satu dekade hanya mampu memenuhi sekitar 25 persen kebutuhan susu nasional.

"Selama hampir 11 tahun susu segar dalam negeri rata-rata harganya 30 persen jauh di bawah harga bahan baku susu eks impor. Jelas ini tidak berimbang dan jauh dari semangat perlindungan terhadap produsen susu segar nasional," tambah Rofi.

Tahun 2011 harga bahan baku susu eks impor mencapai Rp4.700 sedangkan harga susu segar lokal hanya dihargai Rp3.020 oleh IPS ditambah insentif yang berkisar antara Rp 380-850 per liter.

"IPS menentukan harga susu segar berdasarkan kualitas susu dan kandungan bakteri (TPC), namun praktek yang terjadi selama ini penentuan kandungan bakteri ditetapkan secara sepihak oleh IPS. Tentu kondisi ini sangat merugikan bagi peternak," jelas Legislator dari Jawa Timur VII ini.

Menurutnya ketergantungan pemasaran susu ke IPS dapat dihindarkan salah satu caranya Pemerintah dapat mendorong program susu untuk Anak sekolah berbasis susu segar dalam rangka peningkatan kualitas sumber daya manusia sekaligus mendorong pengembangan usaha peternakan sapi perah rakyat.

"Melalui program ini pemerintah Thailand yang menganggarkan hampir USD400 juta per tahun, saat ini produksi susu segarnya hampir dua kali lipat dibandingkan Indonesia. Demikian juga dengan negara lain seperti Iran, Vietnam, Korea, Jepang, Pakistan, Rusia, dan China," tandasnya.
()
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkini
LPPOM Dorong Konsep...
LPPOM Dorong Konsep Green Halal untuk Perkuat Industri Berkelanjutan
20 menit yang lalu
Bitget Stocks 2.0 Hadir...
Bitget Stocks 2.0 Hadir Menghubungkan Ekuitas Berbentuk Token dengan Likuiditas Nyata
26 menit yang lalu
LPPOM Paparkan Peluang...
LPPOM Paparkan Peluang Industri Halal Indonesia di Tokyo
31 menit yang lalu
KKP Pertegas Komitmen...
KKP Pertegas Komitmen Perkuat Pengawasan pada Momentum Hari Internasional Anti IUU Fishing
31 menit yang lalu
Perkuat Daya Saing Industri...
Perkuat Daya Saing Industri Wellness dan Beauty Nasional Mendunia, BRI Dukung BWB Expo 2026 di Bali
2 jam yang lalu
Menkeu Purbaya Tegaskan...
Menkeu Purbaya Tegaskan Fiskal Bukan Tumbal Agar Ekonomi RI Tumbuh Cepat
3 jam yang lalu
Infografis
Houthi Tembak Jatuh...
Houthi Tembak Jatuh Drone AS dengan Rudal Buatan Lokal
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved