TDL batal naik, utang makin banyak
Jum'at, 16 Maret 2012 - 14:49 WIB
TDL batal naik, utang makin banyak
A
A
A
Sindonews.com - Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengungkapkan, pemotongan anggaran subisidi listrik dari Rp98 triliun menjadi Rp65 triliun akan menyebabkan risiko fiskal. Hal tersebut terkait dengan tidak disetujuinya kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) yang rencananya akan dilaksanakan di tahun 2012.
"Justru kalau seandainya Rp65 triliun dengan Rp98 triliun itu selisihnya akan menjadi risiko fiskal. Kalau risiko fiskal apakah nanti di dalam pembahasan di banggar kita bisa memperoleh risiko fiskal sebesar apa itu," ujar Agus saat ditemui di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Jumat (16/3/2012).
Agus menyatakan, bahwa pemerintah secepatnya akan mencari solusi alternatif tentang hal ini. Karena menurutnya akan terjadi alternatif pemotongan lebih jauh belanja pemerintah atau menambah defisit atau bentuk optimalisasi penerimaan negara.
"Kita perlu merespon, oleh karena itu saya ingin ada konsolidasi di pemerintah dulu. Alternatif apa yang ada, karena kalau tidak ada solusinya tentu kita harus kembali ke DPR. Jadi hal itu perlu dipelajari oleh pemerintah, siang ini saya sudah akan bisa mendapatkan alternatif yang ada," jelasnya.
Sejujurnya menurut Agus, target pemerintah sebelumnya adalah menjaga agar defisit tidak lebih dari 2,33 persen. Seandainya jika ada penambahan defisit, cara tersebut juga tidak mudah dilakukan untuk saat ini.
"Karena jika menambah defisit, nanti perlu ada pembiayaan. Kalau pembiayaan, maka kita mesti pinjam lebih besar ke pasar dan situasi pada saat sekarang juga tidak mudah. Jadi yang saya ingin sampaikan pembahasan kemarin malam perlu kami kaji lebih dalam dulu, dan implikasinya bisa ke pemotongan belanja lebih jauh atau penambah defisit. Kita juga akan konsolidasikan ke presiden," pungkasnya. (ank)
"Justru kalau seandainya Rp65 triliun dengan Rp98 triliun itu selisihnya akan menjadi risiko fiskal. Kalau risiko fiskal apakah nanti di dalam pembahasan di banggar kita bisa memperoleh risiko fiskal sebesar apa itu," ujar Agus saat ditemui di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Jumat (16/3/2012).
Agus menyatakan, bahwa pemerintah secepatnya akan mencari solusi alternatif tentang hal ini. Karena menurutnya akan terjadi alternatif pemotongan lebih jauh belanja pemerintah atau menambah defisit atau bentuk optimalisasi penerimaan negara.
"Kita perlu merespon, oleh karena itu saya ingin ada konsolidasi di pemerintah dulu. Alternatif apa yang ada, karena kalau tidak ada solusinya tentu kita harus kembali ke DPR. Jadi hal itu perlu dipelajari oleh pemerintah, siang ini saya sudah akan bisa mendapatkan alternatif yang ada," jelasnya.
Sejujurnya menurut Agus, target pemerintah sebelumnya adalah menjaga agar defisit tidak lebih dari 2,33 persen. Seandainya jika ada penambahan defisit, cara tersebut juga tidak mudah dilakukan untuk saat ini.
"Karena jika menambah defisit, nanti perlu ada pembiayaan. Kalau pembiayaan, maka kita mesti pinjam lebih besar ke pasar dan situasi pada saat sekarang juga tidak mudah. Jadi yang saya ingin sampaikan pembahasan kemarin malam perlu kami kaji lebih dalam dulu, dan implikasinya bisa ke pemotongan belanja lebih jauh atau penambah defisit. Kita juga akan konsolidasikan ke presiden," pungkasnya. (ank)
()