Mensos yakin 2025 RI bebas orang miskin

Selasa, 03 Juli 2012 - 14:24 WIB
Mensos yakin 2025 RI...
Mensos yakin 2025 RI bebas orang miskin
A A A
Sindonews.com - Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri memasang target di tahun 2025 mendatang tidak ada lagi masyarakat Indonesia yang hidup dibawah garis kemiskinan.

Untuk itu, diperlukan perubahan sikap dan mental masyarakat miskin untuk berusaha agar keras lolos dari jerat kemiskinan. Hal ini dilakukan agar kemiskinan tidak senantiasa diwariskan secara turun temurun.

"Kalau Indonesia sejahtera ya Insya Allah 2025. Sejahteranya, yang di bawah garis kemiskinann sudah tidak ada. Tetapi kalau berharap kaya semua, ya tidak mungkin yang penting gap-nya tidak terlalu jauh," jelas dia di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (3/7/2012).

Menurutnya, selain usaha pemerintah menekan angka kemiskinan, perubahan sikap dan mental sangat penting untuk bisa menekan angka kemisikinan. Menurutnya, cara tersebut berhasil di beberapa negara seperti Brasil.

"Ini di beberapa negara cukup berhasil, di Brasil contohnya. Mereka angka kemiskinannya 23 persen di 2009. Nah, sekarang tinggal tujuh persen. ini program cukup unggul tetapi dengan catatan," ungkapnya.

Hal ini diungkapkannya terkait program keluarga garapan raskin. Menurut dia, perubahan sikap dan mental itu sangat penting "Itu harus didukung oleh sikap akan kemiskinan itu diubah," jelas dia.

Dia menilai, sebagian masyarakat Indonesia sebenarnya tidak terlalu miskin. "Arena sebagian masyarakat kita sebenarnya kalau dikatakan miskin sekali tidak juga. Tapi tetap karakternya begitu (miskin). Jadi mengubah sikap tersebut bukanlah. Sesuatu hal yang mudah," paparnya.

Adapun cara yang dilakukan oleh pemerintah sendiri untuk menekan angka kemiskinan tersebut, yakni memaksimalkan kinerja 19 Kementerian/Lembaga (K/L). Meurutnya, setiap KL harus all out semua karena kemiskinan ini, bukan ditangani kemensos saja, semua harus bekerjasama.

"Di samping itu, juga di daerah APBD ini kan harus menjadi prioritas, daerah pun tidak memaksimalkan anggaran daerahnya untuk mengentaskan kemiskinan itu juga sulit," kata dia.

"Karena dengan adanya otonomi daerah pun harus komit seperti, propinsi-propinsi yang tinggi kemiskinannya seperti di Papua, Maluku itu di atas 20 persen mereka pun juga harus maksimal tetapi dari pusatnya pun harus menggulirkan dana dari dana dekonsentrasi," tukas dia.
(and)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Rakor Kemenko PMK Bahas...
Rakor Kemenko PMK Bahas Strategi Terbaru untuk Penghapusan Kemiskinan Ekstrem 2024
Menko PMK Beberkan Langkah...
Menko PMK Beberkan Langkah Strategis Penanganan Kemiskinan
DIY Provinsi Termiskin...
DIY Provinsi Termiskin di Jawa
Rapat Evaluasi Kemiskinan:...
Rapat Evaluasi Kemiskinan: Jumlah Penduduk Miskin Ekstrem Menyusut
Angka Kemiskinan Perkotaan...
Angka Kemiskinan Perkotaan Jabar Naik
Mendorong Perempuan...
Mendorong Perempuan Desa Keluar dari Miskin Ekstrem
Berita Terkini
Hari Anak Nasional,...
Hari Anak Nasional, Jasa Raharja Ajak Generasi Muda Jadi Pelopor Keselamatan
2 jam yang lalu
Gonjang-ganjing Sektor...
Gonjang-ganjing Sektor Energi, Singapura Rombak Kabinet Besar-besaran
3 jam yang lalu
Di Balik Penghargaan...
Di Balik Penghargaan CCEPC Indonesia, Gao Hai Komitmen Bangun Kemitraan Jangka Panjang
3 jam yang lalu
Pertamina Trans Kontinental...
Pertamina Trans Kontinental Ajak Siswa Lestarikan Ekosistem Laut
3 jam yang lalu
PLN EPI Tawarkan Kontrak...
PLN EPI Tawarkan Kontrak hingga 5 Tahun untuk Pemasok Biomassa
4 jam yang lalu
Ancaman Blokade Laut...
Ancaman Blokade Laut Merah, Asia Nego Arab Saudi Alihkan Rute Tanker Minyak ke Afrika
4 jam yang lalu
Infografis
Kaleidoskop 2025: 10...
Kaleidoskop 2025: 10 Fenomena Otomotif Sepanjang 2025
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved