Produksi padi meningkat, pemerintah jangan terlena
Jum'at, 06 Juli 2012 - 11:33 WIB
Produksi padi meningkat, pemerintah jangan terlena
A
A
A
Sindonews.com - Ketua Komisi IV DPR RI Romahurmuziy menegaskan peningkatan produksi padi nasional pada Angka Ramalan (ARAM) I tahun 2012 dari 65,76 juta ton gabah kering giling pada 2011 menjadi 68,59 juta ton tahun ini atau naik sebesar 4,31 persen jangan sampai membuat pemerintah terlena.
“Pemerintah justru harus lebih melakukan langkah-langkah strategis guna mengamankan ARAM II nantinya,” tutur Romahurmuziy melalui siaran persnya yang diterima Sindonews, Jumat (6/7/2012).
Romi, begitu dia disapa, hal utama yang harus diperhatikan oleh pemerintah adalah mengantisipasi makin meluasnya kekeringan yang sudah mencapai ribuan hektar sawah di beberapa tempat seperti Pidie (Aceh), Kuningan, Sukabumi (Jabar), Rembang, Blora, Banjarnegara, Kebumen, Semarang (Jateng), Bojonegoro, Madiun, Tuban (Jatim), Jembrana (Bali) dan lain-lain.
Berdasarkan data klimatologi BMKG, lanjut Sekjen PPP ini, 82 persen daerah di Indonesia telah memasuki musim kemarau, yakni hampir seluruh Jawa, Bali, NTT, sebagian besar Aceh, sebagian besar Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan bagian Selatan dan Utara, bagian Sulteng, kemudian Sulut, kemudian sebagian Papua.
"Apalagi musim kemarau ini diperkirakan berlangsung hingga bulan Oktober mendatang," kata Romi.
Selain itu, lanjut Romi, melakukan tanam serentak, dengan memberikan bantuan sarana dan prasarana seperti traktor kepada petani pada bulan agustus untuk mempersiapkan musim tanam Oktober-Maret yang memberikan kontribusi 60 persen dari produksi nasional serta meningkatkan infrastruktur jaringan irigasi sawah.
"Yang tak kalah pentingnya adalah mencegah bertambahnya PUSO akibat serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) dengan mempersenjatai brigade proteksi dengan pestisida hama-hama utama yang mulai muncul di berbagai tempat seperti tikus," ujarnya.
Menurutnya penyakit itu sudah mulai muncul di daerah Purbalingga dan Cilacap, sedangkan gulma di Sidoarjo, hama penggerek (sundep) di Banyumas dan Karawang.
“Pemerintah justru harus lebih melakukan langkah-langkah strategis guna mengamankan ARAM II nantinya,” tutur Romahurmuziy melalui siaran persnya yang diterima Sindonews, Jumat (6/7/2012).
Romi, begitu dia disapa, hal utama yang harus diperhatikan oleh pemerintah adalah mengantisipasi makin meluasnya kekeringan yang sudah mencapai ribuan hektar sawah di beberapa tempat seperti Pidie (Aceh), Kuningan, Sukabumi (Jabar), Rembang, Blora, Banjarnegara, Kebumen, Semarang (Jateng), Bojonegoro, Madiun, Tuban (Jatim), Jembrana (Bali) dan lain-lain.
Berdasarkan data klimatologi BMKG, lanjut Sekjen PPP ini, 82 persen daerah di Indonesia telah memasuki musim kemarau, yakni hampir seluruh Jawa, Bali, NTT, sebagian besar Aceh, sebagian besar Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan bagian Selatan dan Utara, bagian Sulteng, kemudian Sulut, kemudian sebagian Papua.
"Apalagi musim kemarau ini diperkirakan berlangsung hingga bulan Oktober mendatang," kata Romi.
Selain itu, lanjut Romi, melakukan tanam serentak, dengan memberikan bantuan sarana dan prasarana seperti traktor kepada petani pada bulan agustus untuk mempersiapkan musim tanam Oktober-Maret yang memberikan kontribusi 60 persen dari produksi nasional serta meningkatkan infrastruktur jaringan irigasi sawah.
"Yang tak kalah pentingnya adalah mencegah bertambahnya PUSO akibat serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) dengan mempersenjatai brigade proteksi dengan pestisida hama-hama utama yang mulai muncul di berbagai tempat seperti tikus," ujarnya.
Menurutnya penyakit itu sudah mulai muncul di daerah Purbalingga dan Cilacap, sedangkan gulma di Sidoarjo, hama penggerek (sundep) di Banyumas dan Karawang.
(and)
Lihat Juga :