Tren pengiriman jalur darat picu antrean di Merak
Selasa, 10 Juli 2012 - 09:54 WIB
Tren pengiriman jalur darat picu antrean di Merak
A
A
A
Sindonews.com - Antrean truk di Pelabuhan Merak terus terjadi dansudah lama diprediksi terus terjadi.
Menurut Sekretaris Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Ellen Tangkudung, antrean truk di pintu Pelabuhan Merak telah terlihat pada 2008. Penyebab panjang antrean truk adalah sistem angkutan penyeberangan tidak berjalan optimal.
Dari lima dermaga yang ada,hanya tiga yang beroperasi. Kemudian terdapat kapal dengan kecepatan tinggi, tapi tidak bisa melayani penyeberangan dengan optimal.
”Kendati ada kapal cepat, ketika kembali ke Merak, kapal itu tetap saja mengantre menunggu giliran untuk bongkar muat. Infrastruktur di Pelabuhan Merak tidak beroperasi secara optimal,” ujar Ellen Tangkudung kepada SINDO, Senin 8 Juli 2012.
Ellen menambahkan, di samping sistem juga terjadi perubahan tren pengiriman barang. Dewasa ini pengusaha barang ekspedisi kerap menggunakan jalur darat untuk mengirim barang ke daerah seperti Medan dan Padang. Padahal dua daerah ini memiliki pelabuhan laut.
Menurut Ellen, akan lebih bagus jika barang- barang yang diangkut dari Jakarta ke daerah tersebut dan sebaliknya menggunakan jalur laut.
”Hal ini akan lebih mempermudah proses pengiriman barangnya,” sambung pengamat transportasi dari Universitas Indonesia (UI) ini.
Tanpa menyebutkan berapa jumlah kenaikan pengguna jasa penyeberangan Pelabuhan Merak, adanya perubahan tren ikut menjadikan pelabuhan mengalami over demand. ”Hal ini harus ditangani dengan sistem yang lebih ampuh lagi,” pungkasnya.
Sementara itu, kemarin antrean truk yang akan melakukan penyeberangan dari Pelabuhan Merak, Banten ke Pelabuhan Bakauheni, Lampung sudah teratasi.
Petugas Sentra Komunikasi (Senkom) PT Marga Mandala Sakti (PT MMS) Nasrudin mengatakan, antrean truk sudah tertarik keluar jalan tol Tangerang-Merak pada pukul 13.54 WIB.
”Sudah tidak ada lagi antrean di jalan tol Tangerang-Merak, namun di luar tol atau di Jalan Cikuasa Atas masih ada,” ungkapnya.
Corporate Secretary PT ASDP Indonesia Ferry Christine Hutabarat mengatakan, langkah-langkah yang dilakukan PT ASDP Indonesia Ferry mulai menampakkan hasilnya. Antrean truk yang terjadi tinggal 1 km di luar Pelabuhan Merak.
”Arus penyeberangan truk perlahan terurai. Meski demikian, kami masih terus bersiaga untuk mencegah kemungkinan arus penyeberangan di lintasan Merak-Bakauheni kembali ramai,” ungkapnya.
Antrean truk bisa terurai setelah kapal yang beroperasi ditambah. Kemarin kapal yang beroperasi melayanipenyeberangan di Pelabuhan Merak-Bakauheni sebanyak 28 armada. Tiap kapal secara konsisten dapat beroperasi hingga empat trip per hari.
”Dari 28 kapal itu, dua di antaranya kapal bantuan yaitu KMP Roditha dari lintasan Lembar-Padangbai dan KMP Kalibodri dari lintasan Semarang-Kumai,” katanya.
Dengan dioperasikannya 28 kapal itu, data di Pelabuhan Merak sejak 24 jam terakhir hingga pukul 12.00 WIB kemarin menunjukkan jumlah penumpang pejalan kaki 7.647 orang, 2.849 kendaraan roda empat, 371 bus, dan 3.246 truk.
Selain menambah jumlah kapal, untuk mengurai kemacetan, PT ASDP Indonesia Ferry juga meningkatkan trip kapal dan mempercepat sandar kapal di dermaga dari 60 menit menjadi 45 menit.
”Selain itu, kami juga menambah sumber daya manusia (SDM) untuk mempercepat bongkar muat di dermaga,” katanya.
Menurut Sekretaris Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Ellen Tangkudung, antrean truk di pintu Pelabuhan Merak telah terlihat pada 2008. Penyebab panjang antrean truk adalah sistem angkutan penyeberangan tidak berjalan optimal.
Dari lima dermaga yang ada,hanya tiga yang beroperasi. Kemudian terdapat kapal dengan kecepatan tinggi, tapi tidak bisa melayani penyeberangan dengan optimal.
”Kendati ada kapal cepat, ketika kembali ke Merak, kapal itu tetap saja mengantre menunggu giliran untuk bongkar muat. Infrastruktur di Pelabuhan Merak tidak beroperasi secara optimal,” ujar Ellen Tangkudung kepada SINDO, Senin 8 Juli 2012.
Ellen menambahkan, di samping sistem juga terjadi perubahan tren pengiriman barang. Dewasa ini pengusaha barang ekspedisi kerap menggunakan jalur darat untuk mengirim barang ke daerah seperti Medan dan Padang. Padahal dua daerah ini memiliki pelabuhan laut.
Menurut Ellen, akan lebih bagus jika barang- barang yang diangkut dari Jakarta ke daerah tersebut dan sebaliknya menggunakan jalur laut.
”Hal ini akan lebih mempermudah proses pengiriman barangnya,” sambung pengamat transportasi dari Universitas Indonesia (UI) ini.
Tanpa menyebutkan berapa jumlah kenaikan pengguna jasa penyeberangan Pelabuhan Merak, adanya perubahan tren ikut menjadikan pelabuhan mengalami over demand. ”Hal ini harus ditangani dengan sistem yang lebih ampuh lagi,” pungkasnya.
Sementara itu, kemarin antrean truk yang akan melakukan penyeberangan dari Pelabuhan Merak, Banten ke Pelabuhan Bakauheni, Lampung sudah teratasi.
Petugas Sentra Komunikasi (Senkom) PT Marga Mandala Sakti (PT MMS) Nasrudin mengatakan, antrean truk sudah tertarik keluar jalan tol Tangerang-Merak pada pukul 13.54 WIB.
”Sudah tidak ada lagi antrean di jalan tol Tangerang-Merak, namun di luar tol atau di Jalan Cikuasa Atas masih ada,” ungkapnya.
Corporate Secretary PT ASDP Indonesia Ferry Christine Hutabarat mengatakan, langkah-langkah yang dilakukan PT ASDP Indonesia Ferry mulai menampakkan hasilnya. Antrean truk yang terjadi tinggal 1 km di luar Pelabuhan Merak.
”Arus penyeberangan truk perlahan terurai. Meski demikian, kami masih terus bersiaga untuk mencegah kemungkinan arus penyeberangan di lintasan Merak-Bakauheni kembali ramai,” ungkapnya.
Antrean truk bisa terurai setelah kapal yang beroperasi ditambah. Kemarin kapal yang beroperasi melayanipenyeberangan di Pelabuhan Merak-Bakauheni sebanyak 28 armada. Tiap kapal secara konsisten dapat beroperasi hingga empat trip per hari.
”Dari 28 kapal itu, dua di antaranya kapal bantuan yaitu KMP Roditha dari lintasan Lembar-Padangbai dan KMP Kalibodri dari lintasan Semarang-Kumai,” katanya.
Dengan dioperasikannya 28 kapal itu, data di Pelabuhan Merak sejak 24 jam terakhir hingga pukul 12.00 WIB kemarin menunjukkan jumlah penumpang pejalan kaki 7.647 orang, 2.849 kendaraan roda empat, 371 bus, dan 3.246 truk.
Selain menambah jumlah kapal, untuk mengurai kemacetan, PT ASDP Indonesia Ferry juga meningkatkan trip kapal dan mempercepat sandar kapal di dermaga dari 60 menit menjadi 45 menit.
”Selain itu, kami juga menambah sumber daya manusia (SDM) untuk mempercepat bongkar muat di dermaga,” katanya.
(gpr)
Lihat Juga :