Cadangan devisa RI tembus USD106,5 M
Kamis, 12 Juli 2012 - 15:59 WIB
Cadangan devisa RI tembus USD106,5 M
A
A
A
Sindonews.com - Bank Indonesia (BI) mencatatkan cadangan devisa hingga bulan Juni 2012 mencapai USD106,5 miliar atau setara dengan 5,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Merosotnya pencapaian ekspor juga berakibat pada Neraca Pembayaran Indonesia yang diprakirakan mengalami tekanan pada triwulan II-2012 dan cenderung membaik pada paruh kedua 2012.
"Defisit transaksi berjalan di triwulan II-2012 diperkirakan lebih besar dibandingkan defisit di triwulan sebelumnya akibat kinerja ekspor yang menurun sejalan dengan perlambatan ekonomi dunia di tengah masih tingginya impor untuk mendukung kegiatan ekonomi domestik," ujar Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution saat konferensi pers di Jakarta, Kamis (12/7/2012).
Di sisi lain, surplus transaksi modal dan finansial (TMF) di triwulan II-2012 diprakirakan masih cukup tinggi, terutama ditopang oleh tingginya investasi langsung (FDI) dan membaiknya arus portofolio asing. Ke depan, penyesuaian terhadap impor bahan baku sejalan dengan menurunnya ekspor akan mengurangi tekanan defisit neraca transaksi berjalan.
Sebagaimana diketahui, krisis ekonomi global tak dipungkiri akan menggerus pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Bahkan Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi di triwulan III-2012 akan lebih rendah dibanding prediksi semula.
"Dengan menurunnya kinerja ekspor, pertumbuhan ekonomi pada triwulan III-2012 diprakirakan tumbuh lebih rendah yaitu sebesar 6,3 persen dan berada pada kisaran 6,1-6,5 persen pada tahun 2012 dan 6,3-6,7 persen tahun 2013," ujar Darmin.
Meski sedikit melambat dibanding prediksi, tingkat pertumbuhan ekonomi masih didukung oleh tetap kuatnya permintaan domestik, baik konsumsi dan investasi yang tumbuh cukup tinggi.
Di sisi sektoral, seluruh sektor ekonomi diprakirakan masih tumbuh dengan baik. Sektor-sektor yang diprakirakan menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi ke depan, antara lain sektor transportasi dan komunikasi; sektor perdagangan, hotel dan restoran, dan sektor industri.
Merosotnya pencapaian ekspor juga berakibat pada Neraca Pembayaran Indonesia yang diprakirakan mengalami tekanan pada triwulan II-2012 dan cenderung membaik pada paruh kedua 2012.
"Defisit transaksi berjalan di triwulan II-2012 diperkirakan lebih besar dibandingkan defisit di triwulan sebelumnya akibat kinerja ekspor yang menurun sejalan dengan perlambatan ekonomi dunia di tengah masih tingginya impor untuk mendukung kegiatan ekonomi domestik," ujar Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution saat konferensi pers di Jakarta, Kamis (12/7/2012).
Di sisi lain, surplus transaksi modal dan finansial (TMF) di triwulan II-2012 diprakirakan masih cukup tinggi, terutama ditopang oleh tingginya investasi langsung (FDI) dan membaiknya arus portofolio asing. Ke depan, penyesuaian terhadap impor bahan baku sejalan dengan menurunnya ekspor akan mengurangi tekanan defisit neraca transaksi berjalan.
Sebagaimana diketahui, krisis ekonomi global tak dipungkiri akan menggerus pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Bahkan Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi di triwulan III-2012 akan lebih rendah dibanding prediksi semula.
"Dengan menurunnya kinerja ekspor, pertumbuhan ekonomi pada triwulan III-2012 diprakirakan tumbuh lebih rendah yaitu sebesar 6,3 persen dan berada pada kisaran 6,1-6,5 persen pada tahun 2012 dan 6,3-6,7 persen tahun 2013," ujar Darmin.
Meski sedikit melambat dibanding prediksi, tingkat pertumbuhan ekonomi masih didukung oleh tetap kuatnya permintaan domestik, baik konsumsi dan investasi yang tumbuh cukup tinggi.
Di sisi sektoral, seluruh sektor ekonomi diprakirakan masih tumbuh dengan baik. Sektor-sektor yang diprakirakan menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi ke depan, antara lain sektor transportasi dan komunikasi; sektor perdagangan, hotel dan restoran, dan sektor industri.
(and)
Lihat Juga :